Lahir Baru oleh Roh Kudus

Kehidupan spiritual dimulai ketika kita sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus. Roh Kudus menyalurkan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus 2 ribu tahun yang lalu (karya penebusan Kristus yakni penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke Surga) yakni hidup kekal pelepasan dari kuasa Iblis, dosa, kelapukan tubuh, kefanaan hidup, dan kematian serta dimanunggalkan dengan Tubuh Kebangkitan Kristus dan dengan demikian manunggal dengan hidup ilahi, menyatu dalam kemuliaan Allah (Theosis). Penyatuan atau panunggalan kita dengan Tubuh Kemuliaan Kristus yang oleh kebangkitan telah menghancurkan maut-kelapukan-kefanaan, dosa dan iblis, serta sekaligus menyatakan kehidupan kekal, kemuliaan, dan kodrat ilahi itu sendiri. Mencapai titik pemuliaan manunggal dalam kodrat ilahi (Theosis) itulah yang disebut sebagai pemuliaan (Roma 8:29).

Penyaluran “Hidup Kekal” itulah “Energi Ilahi” yang bekerja di dalam kita. Dan Energi Ilahi yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kita itulah “Rahmat” atau “Kasih Karunia” atau “Anugerah” itu. Kasih Karunia juga berarti “kuasa Allah” yaitu “Energi Ilahi” yang bekerja untuk memampukan manusia berdosa berubah dari hidup yang dikuasai oleh dosa untuk membawa kepada kekudusan yang akan berakhir dalam “Theosis”.

Penyaluran keselamatan oleh Roh Kudus tadi diterima melalui iman bukan paksaan. Iman itu menyatakan diri dalam perbuatan baik (Efesus 2:8-10, Galatia 5:1-14) dan perbuatan baik itu bersumber dari iman serta kedua-duanya berasal dari “Energi Ilahi” yang bekerja dalam manusia yaitu “Kasih Karunia” yang bekerja oleh Roh Allah.

Roh Kudus yang melahirbarukan roh kita tinggal diam di dalam tubuh kita (Yoh 14:16-17; 1 Kor 3:16; Kis 8:16-17) sehingga kita yang telah lahir baru adalah manusia rohani dan roh yang telah lahir baru ini memulai perjalanan kehidupannya menuju kedewasaan dalam Kristus (Efe 4:15). Dalam perjalanan kehidupan spiritual ini Allah tidak meninggalkan kita sendiri seperti janji Yesus kepada kita bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus untuk menyertai kita (Yoh 14:16). Roh Kudus adalah “Ibu” rohani kita karena Dia melahirbarukan kita dan menyertai kita selama-lamanya (Yoh 3:6; 14:16-17).

1. Roh Kudus sebagai Ibu Rohani

Kehidupan spiritual itu seperti hubungan seorang anak dengan ibunya. Di saat luka, ibunya membalut. Di saat menangis, ibunya menghibur. Di saat melawan dan tidak taat, ibunya memberi pengampunan dan harapan. Seorang ibu selalu merawat dan mengajar dengan penuh kasih dan dedikasi. Begitu juga hidup kita sebagai manusia rohani bersama Roh Kudus. Dia yang melahirkan baru roh kita menjadi Ibu rohani yang sangat baik, penuh kasih dan sabar. Dia mengajar, mengingatkan, merawat, menghibur, dan mengampuni setiap pelanggaran kita. Dia adalah penolong kita yang sejati (Yoh 14:16-17,26; 15:26).

Kehidupan spiritual kita masih harus terus berjuang menuju kesempurnan yakni mendapat tubuh kebangkitan dan menyatu dengan Allah (Theosis). Sebab itu, di dunia ini sekarang tugas kita adalah mengerjakan keselamatan yang sudah Allah berikan (Fil 2:12), menumbuhkan benih ilahi yang ada di dalam diri kita menuju kedewasaan sebagai anak-anak Allah (1 Yoh 3:9).

2. Kedewasaan NOUS

Roh kita harus semakin dewasa melalui pembaruan akal budi (NOUS) atau manusia rohani atau manusia baru kita (Rom 12:2; Kol 3:10) yang dituntun oleh Roh Kudus (Gal 5:16) sehingga NOUS tadi dapat menjadi penjaga atau benteng pertahanan terhadap serangan iblis atau godaan-godaan terhadap keinginan daging atau tubuh kita. Tubuh dengan segala macam keinginannya merupakan hasil kerja biologis yang dirancang Allah. Keinginan makan karena rasa lapar, seks, rasa aman, damai, indah, dihargai, bersosial, dan sebagainya adalah kerja tubuh dan roh kita. Keinginan itu adalah baik namun rentan terhadap serangan iblis yang membuat keinginan itu menjadi nafsu atau keinginan daging (lust; EPITHUMIA) yang jika dibuahi akan melahirkan dosa (Yak 1:14-15).

Tubuh atau daging itu selalu lemah sedangkan roh memang penurut (Mat 26:41) sehingga roh ini harus tumbuh semakin dewasa yang dihidupi oleh Roh Kudus (Gal 5:16). Sebab itu, Rasul Paulus menyatakan, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (Gal 5:16-18).

Menafsirkan kata “Nous” sebagai “akal budi” (Rom 7:26) atau “budi” (12:2), dan “pikiran” (Efe 4:23) seperti yang terdapat dalam terjemahan LAI adalah kurang tepat. “Nous” merujuk pada “mata batiniah” dari “jiwa/roh” yang melakukan pengendalian atas serbuan “logismoi” (“angan-angan/alur-alur pemikiran/pikiran”) yang mengacaukan perhatian/ keterpusatan, melalui keberjaga-jagaan/keterpusatan perhatian/kesiapwaspadaan dan doa.

Nous itu dirancang untuk menjadi kepala atas seseorang sebagai “hegemonikon” atau nahkoda, yaitu “kapten kapal” dari jiwa/roh, yaitu pemimpin dan penguasa dari pribadi seseorang. Namun demikian karena kejatuhan manusia “nous” telah terlukai dan sekarang tunduk kepada “EPITHUMIA” atau “Hawa Nafsu” (Gal 5:24), oleh keinginan-keinginan yang dipaksakan, oleh nafsu-nafsu yang amat berkuasa dalam diri manusia. Hanya dengan Kasih-Karunia/ Rahmat Allah yaitu Energi Ilahi saja yang disertai “ASKESIS” (latihan/disiplin rohani) – 1 Korintus 9:27 – dan Mati-Raga (Kol 3:5) yaitu penyaliban kehendak dan kemauan (Gal 5:24) sajalah kita dapat menyembuhkan dan mampu untuk menguasai “EPITHUMIA” dan keinginan-keinginannya oleh kuasa Roh Kudus yang bekerja melalui Energi Ilahi di dalam kita, yang berkarya melalui “HEGEMONIKON” yang menjadi mahkota terpuncak yang memerintah atas kerajaan diri manusia.

3. Berjaga-jaga “Nepsis”

Dosa bukanlah sekadar penyakit di kulit, ini adalah penyakit NOUS dan hati/kalbu yang mengancam kehancuran kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams 4:23). Dosa apa pun yang dilakukan dengan tubuh pertama-tama dimulai di dalam NOUS, hati, dan kehendak orang itu. Pemikiran-pemikiran jahat hanya dapat dilakukan dengan praktik oleh tubuh. Keduanya bekerja secara kolusi (sekongkol). Oleh karena itu, Js. Ishak dari Ninewe menulis:

“Jangan cobai pikiranmu, hanya demi ingin mengalami, dengan memperhatikan pada pemikiran-pemikiran rendah yang membujuk sementara kamu menganggap dirimu tak dapat kalah. Bahkan seorang bijaksana pun telah terganggu dalam keadaan yang begini, dan menjadi melenceng.”

Ishak mempercayai bahwa “tangga menuju kepada kerajaan Allah ada di dalam dirimu” yaitu dalam pikiran dan hatimu/kalbumu. Satu-satunya jalan untuk naik ke tangga ini adalah melalui “Nepsis” (keberjaga-jagaan, kesiapwaspadaan, keterpusatan-perhatian), dengan menempatkan penjaga pintu dari pikiran dan hati/kalbu.

Dunia modern kita sangat dikuasai kesibukan untuk mengeksplorasi ruang angkasa luar, dan itu baik. Tetapi kita orang Kristen harus bahkan lebih lagi disibukkan oleh eksplorasi ruang batiniah di dalam yaitu NOUS dan hati/kalbu kita. Mengapa? Karena di situlah peperangan-peperangan itu mulai dan karena di sinilah damai itu mulai. Di sinilah kebencian itu mulai, dan di sinilah pula kasih itu mulai. Di sinilah dosa mulai, dan di sini juga harapan itu mulai. Kalau pikiran kita berkubang dalam comberan, kita akan hidup dalam comberan. Jika pemikiran-pemikiran kita diarahkan kepada hal-hal yang murni dan mulia dalam kehidupan ini (Filipi 4:8) kita akan berjalan seperti anak-anak Allah di atas bumi ini. Pikiran yang remeh dan rendah akan membuat orang yang remeh dan rendah. Pemikiran-pemikiran yang besar dan agung, akan membuat orang yang besar dan agung. Pemikiran-pemikiran yang kudus dan suci akan membuat orang yang kudus dan suci. Dan di atas semuanya itu “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Js. Gregorius Palamas menyarankan bahwa jika kita menyelidiki pemikiran-pemikiran kita setiap hari dengan menjaga hati, Allah tak akan menyelidiki yaitu menghakimi kita apabila kita menghadap hadirat-Nya nanti.

“Jangan tinggalkan bagian apa saja dari jiwa dan tubuhmu tanpa terjaga. Dengan cara ini engkau akan menguasai roh-roh jahat yang menyerangmu dan engkau akan dengan beraninya memperhadapkan dirimu kepada-Nya yang menyelidiki hati dan pikiran (bandingkan Ibr 4:13, 1 Kor 4:5, Rom 2:16), dan Dia tak akan menyelidikimu karena engkau telah menyelidiki/menguji dirimu sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus, “Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita” (1 Kor 11:31).

4. Air mata

Tubuh memang dikuasai hukum dosa dan menjadi tawanannya (Rom 7:23). Sebab itu, kita harus melatih tubuh dan menguasainya (1 Kor 9:27) dengan menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah (Rom 6:11-13) melalui penyaliban keinginan daging dan segala hawa nafsunya (Gal 5:24). Roh kita yang telah lahir baru harus tumbuh dewasa sehingga NOUS (akal budi) dan Kardia (hati) di dalam roh itu melatih tubuh kita dan sekaligus menjadi guardian atau penjaga tubuh kita dari dosa. Pertobatan sehari-hari dengan tangisan air mata membersihkan akal budi dan hati kita dari kekotoran dosa sehingga tubuh ini kembali suci.

Anggaplah kelemahan dan dosamu itu seperti awan gelap yang akan turun menjadi hujan lalu segera berlalu dan terbit menjadi terang hari yang disinari matahari. Hujan air mata di dalam hati akan membersihkan kegelapan awan hati kita sehingga menjadi terang kembali.

Airmata adalah hadiah dari Allah. Js Yohanes Klimakos menulis, “Allah dalam kasih-Nya atas manusia, memberikan kita air mata”. Pada kenyataannya, karunia air mata itu adalah satu dari 30 anak tangga pada tangga rohani yang amat terkenal untuk naik ke sorga dalam buku Js. Yohanes Klimakos ini. Air mata terdapat dalam langkah ketujuh mengenai duka cita “yang menciptakan suka cita.” Karunia air mata ini dipandang sebagai pembaruan dari rahmat baptisan.

Js. Yohanes Klimakos tidak ragu-ragu menulis beberapa pernyataan-pernyataan yang mencengangkan mengenai perlunya air mata, misalnya:

“Banjirnya air mata yang kita curahkan sesudah baptisan kita, yaitu sesudah baptisan kita dulu waktu bayi, itu masih lebih berkuasa dari baptisan itu sendiri–meskipun pernyataan ini kelihatannya terlalu berani. Karena baptisan itu membersihkan hanya pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan sebelumnya, air mata dari pelanggaran-pelanggaran sesudah baptisan…. Jika Allah di dalam belas kasihan-Nya tidak memberikan kita “baptisan-kedua” ini, maka sungguh sedikitlah orang yang diselamatkan itu…. Apabila jiwa-roh kita meninggalkan hidup ini, kita tidak akan dihakimi karena kita tidak dapat melakukan mukjizat… tetapi pasti kita semua harus memberikan pertanggunganjawaban kepada Allah karena kita belum pernah menangisi tanpa henti dosa-dosa kita.”

Ingatlah akan air mata Daud atas perzinahannya dengan Batseba, airmata Petrus yang menyesali penyangkalan atas Gurunya, air mata wanita tuna susila yang menangis di kaki Yesus–adalah air mata yang menuntun kepada kelahiran ulang dan pembaruan hidup. Air mata semacam itu mengubah-muliakan manusia.

Hendi SS MTh

Dosen Exegesis PB

STT Soteria Purwokerto

Komentar

komentar

BAGIKAN