oleh: Irna Maifatur Rohmah

Mahasiswi Tadris Matematika Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

 

Di suatu hari, saya melewati tepi kota Purwokerto. Saya melewati beberapa anak bersarung berjalan di tepi menenteng keresek dan terlihat nasi bungkus di dalamnya. Saya menyempatkan berbincang dengan mereka. “Assalamualaikum…” sapa saya pada mereka. “Waalaikumsalam..” jawab mereka bersamaan. “Darimana? Apa yang kalian bawa.” Tanya saya. “Dari warung beli makanan untuk nanti malam.” Jawab seorang dari mereka. Saya sempat berbincang banyak dengan mereka sembari berjalan. Kebetulan arah rumah saya searah dengan pondok mereka.

Dari penggalan di atas, terlihat bahwa satu kepribadian dari seorang santri adalah kemandirian. Selain itu, ada beberapa hal yang di dapat dari pesa tren. Berikut merupakan hal yang didapatkan di pesantren:

Pertama,pesantren melatih kemandirian. Artinya, dalam pesantren, seorang santri dituntut untuk mandiri. Mandiri di sini, seorang santri harus bisa melakukan apapun sendiri. Di pesantren apapun yang dilakukan santri sudah dilepas oleh orang tua diserahkan kepada abah sebagai orang tua di pesantren. Seorang santri selalu menyiapkan kebutuhannya sendiri. Seperti membersihkan pakaian, menyiapkan makan, menyiapkan peralatan sekolah dan lainnya lagi. Di sini kemandirian seorang santri terbentuk. Awalnya memang susah melakukan semua itu. Semula yang awalnya masih dibantu orang tua, di pesantren harus dilakukan sendiri. Jika santri tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan pesantren maka akan susah untuk mandiri dan enjoy dengan kehidupan pesantren.

Kedua, pesantren mengajarkan akhlak yang baik. Artinya, seorang santri pasti mengaji bab akhlak seperti kitab ‘aqidatul ‘awam, tanbihul muta’alim atau lainnya. Dari kitab itu, akhlak yang diajarkan adalah akhlak yang baik, baik kepada guru, kepada orang tua, kepada orang lain dan lainnya yang ada dalam masyarakat. Santri luar biasa akhlaknya. Akhlak yang diajarkan dan dibentuk oleh ustad atau lainnya sangat menghargai kepada semua orang. Seperti contoh ketika santri melewati ustad atau abah atau lainnya, pasti menundukkan badan. Itu salah satu contoh akhlak yang ada di kitab tersebut. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari ketika santri bergabung dengan anak lainnya terlihat adab yang dimiliki santri. Santri lebih menghargai dan sopan.

Ketiga, pesantren melatih hidup bermasyarakat. Maknanya, dalam kehidupan pesantren bergabung dengan santri lain. Dari sini santri dilatih untuk bermasyarakat. Pesantren adalah miniatur masyarakat. Dalam pesantren, semua karakter ada. Di sini santri harus bisa menyesuaikan diri dan menempatkan di sana. Seperti contohnya, ketika seorang santri mencuci baju, harus bergantian dengan santri yang lain karena jemurannya terbatas. Atau ghozob, pemakaian/ pencurian yang sudah sangat wajar dalam dunia pesantren. Santri dilatih sabar menghadapi itu, seperti halnya dalam masyarakat, ada saja orang yang suka membawa barang yang bukan miliknya walaupun hal yang sepele.

Keempat, pesantren melatih kedispilinan. Maksudnya, dalam dunia pesantren seorang santri harus bisa meletakkan kedisplinan dalam dirinya. Kedisiplinan untuk menjalankan kewajiban dalam pesantren seperti mengaji. Mengaji memiliki waktu tertentu dan santri harus tepat waktu dalam mengaji. Misal di pagi hari, mengaji pagi maka harus bangun pagi dan membersihkan diri lalu pergi mengaji tepat waktu. Kedisiplinan harus melekat pada seorang santri.

Kelima, pesantren melatih memanajeman. Artinya, dalam kehidupan pesantren seorang santri harus bisa menanajemen waktu dan keuangan. Di pesantren, tak dipungkiri jika seorang santri kesulitan membagi waktunya. Apalagi dengan adanya teman yang banyak tidak sedikit yang tergoda unutk bermain-main saja melupakan tujuan utama datang ke pesantren. Tidur yang terlalu larut dan bangun yang kesiangan pasti pernah dialami santri. Hingga pergi ke sekolah tanpa mandi. Di sisi lain, di sekolah kerap mengantuk karena tidur terlalu larut. Namun berbeda dengan yang bisa memanajemen waktunya. Dia akan bisa membagi waktu dengan tepat dan merata. Selain waktu, santri juga dilatih memanajemen keuangan. Biasanya santri diberi uang satu bulan sekali atau 2 minggu sekali. Nah, pada saat uang baru dating biasanya santri kalap dan membeli jaja sesuka hati dan akhirnya kekurangan. Di sinilah pentingnya memanajemen keunagan. Bagaimana caranya uang itu bertahan sampai kiriman berikutnya. Seorang santri harus bisa memanajemen agar tidak mengganggu kepentingan lainnya.

Keenam, pesantren melatih jiwa kepemimpinan. Dalam dunia pesantren, tiap santri harus siap menjadi pemimpin. Kenapa? Dalam pesantren tanggung jawab sangat kental di sana. Apapun yang mereka punya menjadi tanggung jawab sendiri. Dan harus siap memimpin santri yang lainnya. Santri harus siap siaga jika ditempatkan di depan. Itulah salah satu sikap kepemimpinan yang terlatih dari pesantren.

Ketujuh, pesantren menyiapkan pribadi yang mudah beradaptasi. Artinya, dalam pesantren seorang santri harus bisa beradaptasi dengan lingkungan pesantren dangan cepat supaya cepat merasa nyaman. Bahkan ada santri yang hanya sebulan di pesantren karena tidak bisa beradaptasi dan merasa dikucilkan.

Seperti itulah gambaran kecil dalam dunia pesantren. Pesantren adalah salah satu pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu. Namun diluar itu, banyak hal yang diajarkan dalam pesantren. Dan pesantren merupakan instansi pendidikan yang cukup baik untulk generasi masa depan Indonesia. Adab dan sopan santun pada sesama sangat kental dalam pesantren.(*)