RD Ag Dwiyantoro

Imam Tinggal di Tegal

Pernah bertugas di St Yosep Purwokerto

Kaki Tangwin mendapat berkah. Ia bisa berziarah ke tempat leluhur,  santo-santa, orang-orang kudus yang dihormati karena kesucian dan kesetiaan dalam beriman. Ia mengunjungi gereja Kolbe. Tepatnya ia sampai di tempat di mana santo Maximialianus Maria Kolbe dimakamkan dan di dekat tempat itu dibangun gereja yang megah dan indah.

Kaki Tangwin yang tidak lancar berbahasa Inggris ini memegani teks yang disodorkan pemandu ketika ia memasuki gereja yang megah. Sebenarnya ia tidak ngerti mau diapakan teks itu. Yang ia tahu ada tulisan “prayer”. O ini doa, begitu bisiknya dalam hati. Tetapi karena sudah disodori maka diterimanya saja. Siapa tahu malah jadi berkah lebih banyak karena tidak menolak pemberian dan menyukakan hati si pemberi. Begitulah hatinya berbisik, “Doa…doa dan doa..”.

Betul! Ia terus memegangi teks doa tersebut. Matanya terpejam dan sedikit komat-kamit sambil berdesis sehingga orang-orang di sebelahnya memperhatikan dia. Tetapi ia tidak tahu karena memejamkan mata. Ia terus bergumam seperti biasa dia berdoa. Bahasa campuran dengan ngapak-ngapak.  Agak lama dia berdoa sampai badannya bergetar. Nada suara turun naik dan rupanya orang sekitar sudah mulai terganggu. Dikiranya ia sudah kerasukan dan tidak terkendali. Tetapi jelasnya melanggar aturan yang tertulis “harap tenang”.

Seorang berjubah mendatanginya. Rupanya kasihan dengan kaki Tangwin dan tentu mau menegurnya. Ia seorang imam yang ditugaskan di gereja itu. “Bapak, maaf mengganggu kenyamanan doa. Tuhan sudah mendengar bapak jauh sebelum bapak bersuara. Saya rasa cukup dahulu!” sapa romo itu pada kaki Tangwin dalam bahasa Indo campur Jawa. Rupanya ia berasal dari tanah Banyuwangi yang telah bertugas lama di gereja tersebut.

Ia menunjuk teks yang dipegang kaki Tangwin. Ternyata itu teks riwayat hidup santo Maximilianus Kolbe.  Lalu imam itu mengajaknya  ke ruang samping gereja dan mengatakan apa isi teks yang dipegang kaki Tangwin.

Maximilianus Kolbe pernah menjadi tawanan perang. Waktu itu masih muda. Di saat bersamaan ada seorang bapak yang sudah renta dan tidak mampu menyangga tubuhnya. Semua harus bekerja keras dan tidak menganggur. Kalau ketahuan maka bisa akhiri hidupnya. Maximilianus kasihan dengan bapak tersebut yang disiksa dan dihukum.  Pelanggarannya tidak berat tetapi kekejaman  menderanya. Karena akan dijatuhi hukuman mati, dengan ikhlas ia maju memohon pada algojo untuk menggantikannya. Keberanian tiba-tiba muncul untuk menggantikan bapak tersebut. Dan itu akhirnya disetujui. Kolbe akhirnya meninggal dan bapak tersebut terbebas dari dari hukuman.

Atas peristiwa tersebut, Maximilianus dianugerahi berkat kudus. Banyak orang berdoa dan mendapat mukjizat dalam hidup. Khususnya keluar dari krisis kehidupan. Dengan doa pada Maximilanus Kolbe para peziarah diteguhkan imannya dan terutama dikobarkan kembali semangat pemberian diri atau pelayanan.

Kaki Tangwin mendengar kisah itu dengan seksama sampai terdiam lama. Akhirnya ia kembali ke gereja untuk berdoa. Ia sudah tahu doa yang tepat untuk hidupnya. Ia memandangi patung Maximilianus Kolbe dan mendasarkan doa dari lubuk hatinya sendiri. Titipan-titipan doa yang dibawanya dari saudara-saudaranya  dia daraskan. Ia percaya bahwa Tuhan mendengarkan doanya. Ia menyerahkan mereka yang titip doa pada kuasa Tuhan agar dapat mengatasi krisis hidup.

Kaki Tangwin selesai doa dan mendapat suntikan semangat baru. (adaptasi dari kisah santo-santa).

Santo Maximilianus Maria Kolbe telah menunjukkan kasih dan pengorbanannya. Kerelaan untuk menggantikan sang bapak membebaskan bapak dari krisis besar kehidupan yaitu kematian.   Tetapi kisah ini menginspirasi bukan karena kesiapan untuk menumpahkan dari tetapi membebaskan diri dari egoisme dan siap berkurban. Krisis kehidupan bisa teratasi karena campur tangan Tuhan.

Krisis kehidupan itu juga terjadi pada murid Yesus. Petrus seorang nelayan yang mumpuni dengan seambreg pengalamannya sampai pada titik nadir. Ia bekerja semalaman tetapi tidak menangkap apa-apa.  Bekerja mati-matian dengan susah payah dan memperhitungkan akan mendapatkan hasil ternyata nihil. Ekspektasinya besar tetapi tidak menemukan penghiburan. Ia berada pada krisis kehidupan.  Tentu nama baiknya dipertaruhkan karena tidak produktif. Kinerjanya dipertanyakan. Managemen waktu dan tenaga juga diragukan.

Ibarat kata sudah habis. Dan mau apa lagi yang dilakukan! Tidak ada lagi. Loyo dan nglokro, begitulah nasibnya. Tentu hal ini bisa terjadi berkali-kali tetapi saat itu ada banyak orang yang menyaksikan dia ketika Yesus mengajar banyak hal kepada kalayak.  Ikan yang ditangkap pada malam hari saja tidak ada apalagi siang hari. Siang hari saat orang membereskan jala-jala mereka dan beristirahat. Tidak ada aktivitas yang baru selain merenungi nasib sial.  Tetapi saat Yesus memintanya bertolak ke tempat yang dalam dan memintanya menebarkan jala, yang ada pada dirinya adalah kehancuran. Bagaimana ia bisa mempertanggungjawabkan tindakannya disaksikan banyak orang.  Pastilah mereka akan mentertawakannya. Tekanan sosial begitu berat dan besat. Itulah yang makin membuatnya jatuh dan turun pamor.

Dikisahkan bahwa Yesus berada di pantai Danau Genesaret dan banyak orang mengerumuni Dia untuk mendengarkan Firman Allah. Lalu Yesus melihat dua perahu yang tertambat di pantai karena sudah ditinggalkan nelayan-nelayannya untuk membereskan jala-jala mereka.  Yesus naik ke salah satu perahu yaitu perahu Simon dan memintanya untuk menolakkan perahu sedikit jauh dari pantai. Lalu Yesus mulai duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Setelah selesai dengan pengajaran-Nya, Yesus meminta kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena perintah-Mu, aku akan menebarkan jalan juga.” Dan setelah melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar sehingga jala mereka mulai  koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-teman di perahu yang lain supaya mereka datang dan membantu. Maka mereka itu datang, lalu mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.  Melihat hal itu, Simon Petrus tersungkur di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdoa. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” (bdk Lukas 5:1-11).

Bagaimana Simon Petrus keluar dari krisis ini? Pertama, ia mengabaikan tekanan sosial. Banyak orang yang menyaksikan peristiwa bisa jadi mentertawakan, mencemooah tetapi tidak mengubah nasibnya. Cemoohan atau ungkapan orang tidak menambah jumlah ikan atau pendapatan. Simon Petrus mulai meyakini bahwa dia sudah dipilih oleh Tuhan. Buktinya dari perahu yang digunakan.  Mengapa tidak menggunakan perahu yang lain? Dan kenapa Yesus memilih dia untuk bersama-Nya juga ikut mendengarkan pengajaran-Nya? Khalayak banyak diabaikan tetapi Yesus tunggal didengarkan.

Kedua, berani percaya. Apa yang dibuatnya sudah ada dalam “scenario” Tuhan.  Kepercayaan ini tampak dari kata-kata Simon “karena Perintah-Mu”. Kata-kata ini mengandung arti bahwa ia taat pada perintah Tuhan. Taat karena percaya bahwa melakukan yang diperintahkan tidak akan mengecewakan. Ada waktu yang tepat untuknya mendapatkan berkat-Nya. Nyatanya memang percaya membuahkan hasil. Ia melepaskan keyakinan, kemampuan dan apa yang dimilikinya sebagai kekuatannya untuk betul mengandalkan Tuhan.

Ketiga, tetap rendah hati. Selesainya suatu krisis bakal terjadi tetapi tidak membuat sombong. Pengalaman keluar dari krisis tidak serta merta menjadi konsumsi publik. Tetap rendah hati karena pengalaman berharga tersebut semata-mata buah dari penyerahannya pada Tuhan. Simon mengatakan, “Tinggalkanlah aku karena aku ini orang berdosa.” Tidak ada yang dibanggakan lebih selain mengakui masih saja ada kekurangan walaupun telah berhasil keluar dari krisis.

Saat-saat krisis dalam hidup menjadi peluang untuk pertumbuhan. Krisis membuat orang menjadi lebih kuat, matang, dewasa dan bijaksana dalam kehidupan. Kadang Tuhan membuat kita dtemukan kembali dengan membiarkan kita habis atau dihabisi. Tetapi tidak pernah mati sia-sia karena  keadaan krisis.  Mengabaikan tekanan sosial dan berani percaya sepenuhnya pada Tuhan serta tetap rendah hati akan memperkuat kita lepas dari krisis kehidupan.

In finem Omnia. Soter@bdtoro