Kantin sekolah merupakan salah satu tempat favorit semua warga sekolah kita, berbagai aktifitas menyenangkan dapat dilaksanakan di sana. Makan, minum atau sekadar kongkow alias nongkrong menunggu jam istirahat selesai atau bahkan menunggu kedatangan guru masuk kelas. Aktivitas tersebut hampir setiap hari jam sekolah. Jika dalam satu hari istirahat sekitar 15 menit dikalikan dua kali istirahat maka tiga puluh menit peserta didik dan sebagian guru serta karyawan dapat menikmati hidangan di kantin, berbagai menu yang menarik di sediakan. Mulai dari makanan ringan maupun makanan berat tak lupa juga minuman yang menyegarkan.

Dari berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi tentulah menghasilkan limbah. Baik itu limbah padat maupun cair, serta limbah organik maupun an organik. Menurut hasil wawancara salah satu siswa, seorang siswa dapat menggunakan  sebanyak sepuluh buah plastik. Kita bisa membayangkan jika semua siswa dalam menikmati jajanan menggunakan sebanyak itu dalam satu hari, berapa sampah plastik yang dibebankan kepada bumi dalam satu minggu, satu bulan, dalam satu tahun nya. Itu baru limbah plastik, belum terhitung  limbah cair seperti limbah detergen hasil mencuci alat makan dan masak, serta limbah minyak goreng. Semua limbah tersebut akan sangat mengganggu daya dukung dan daya lenting lingkungan, dan pada akhirnya akan merusak ekosistem serta secara fisik dapat menghasilkan bau menyengat.

Daya dukung lingkungan adalah seberapa besar  kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Sedangkan daya lenting lingkungan merupakan kemampuan  lingkungan untuk pulih kembali pada keadaan seimbang jika mengalamiperubahan atau gangguan.

Semakin besar jumlah  limbah yang dibebankan untuk bumi ini akan semakin buruk kemampuan daya dukung dan daya lenting lingkungan untuk menopang kelangsungan hidup di bumi.

Semua permasalahan tersebut adalah masalah umum kantin sekolah tradisional. Mengapa masih kantin tradisional?. Hal ini karena pengelolaan limbah yang masih sederhana dan cenderung pragmatis. Pengelolaan limbah cair sebetulnya sangat mudah, murah dan tidak memerlukan lahan yang luas.  Salah satu cara mengatasi limbah cair hasil aktivitas memasak dan mencuci dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Pertama-tama siapkan dulu bahannya. Yaitu; drum, koral, kayu, ijuk, pipa paralon serta beberapa peralatan pertukangan seperti palu, gergaji, cangkul.
  2. Cara membuat bak penampungan air bekas cucian dapur dan kamar mandi—tidak termasuk kloset-cukup mudah. Pertama-tama buat lubang di luar dapur dengan kedalaman dan lebar kurang lebih satu meter. Di dasar lubang diberi koral dan ijuk setebal 20 sentimeter.
  3. Selanjutnya pasang drum yang dasarnya telah dilubangi sebesar masing-masing berdiameter satu sentimeter, di atas lubang yang telah diberi dasar koral dan ijuk.
  4. Selanjutnya buat saluran limbah air bekas cucian dapur dan kamar mandi menuju drum. Limbah air akan terserap ke dalam tanah menuju sumur resapan.
  5. Buat lubang sumur resapan. Dari dalam sumur resapan tersebut air tanah yang berasal dari limbah rumahtangga Anda sudah bebas dari polusi dan bisa dipakai kembali. Sebab telah mengalami tiga kali penyaringan alami, yaitu koral, ijuk, dan tanah.

Cukup simpel bukan? Dengan begitu kita sudah menjaga kebersihan air, tanah lingkungan kita.  Untuk limbah padat organik sisa makanan dapat di daur ulang menjadi kompos. Atau jika sudah memiliki biopori di halaman sekolah sisa makanan dapat dimasukan ke dalam lubang biopori. Sisa makanan tersebut akan mengundang banyak cacing untuk menguraikannya. Sedangkan untuk sampah anorganik terutama plastik  memang memerlukan kesadaran yang tinggi serta kerja sama semua pihak untuk mulai mengurangi penggunaan plastik dengan cara membawa wadah makan dan minum dari rumah.

Setiap akan membeli minuman atau makanan maka tidak menggunakan plastik lagi, namun sebagai gantinya adalah wadah makan dan minum yang di bawa dari rumah. Betapa mudah dan murahnya menjaga lingkungan kita menjadi sehat dan bersih. Perlu kekompakan, dan kerja sama dari berbagai pihak, baik itu para siswa, guru dan karyawan serta pejual makanan di kantin sekolah, namun yang terpenting adalah tim managemen sekolah selaku pemangku kebijakan. Membiasakan berperilaku sehat memang memerlukan proses tidak bisa instans, karena  pembiasaan pada akhirnya akan membentuk karakter seseorang.

Untuk bahan renungan kita bersama tentang fakta bahan pembuat plastik, (umumnya polimerpolivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan memberikan akibat antara lain:

  1. Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.
  2. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewanpengurai di dalam tanah seperti cacing.
  3. PCB yang tidak dapat terurai meski pun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
  4. Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
  5. Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah.
  6. Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga kelaut sekalipun.
  7. Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik.
  8. Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.

Semoga kita akan semakin bijak dalam menggunakan pembungkus makanan, dan mengolah makanan karena apa yang kita gunakan akan mewarnai lingkungan kita. Mari jadikan kantin sekolah kita menjadi kantin yang bersih, sehat dan ramah lingkungan.