Slamet Riyadi SPd

Guru SMP Negeri 3 Punggelan

Sejak terbukanya kebebasan informasi dan menjamurnya teknologi media, pertumbuhan  media massa dan media baru mengalami ledakan. Ledakan informasi yang begitu besar ini tentu memiliki dampak yang beragam, baik dampak yang positif maupun negatif bagi para pencari dan pengguna informasi. Salah satu dampak positifnya adalah terbukanya berbagai macam informasi sehingga pencari informasi memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Namun dibalik itu juga terdapat dampak negatif, salah satunya karena banyaknya informasi yang tersedia, pencari informasi sangat rawan terjerembab dalam informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau bahkan memperoleh informasi yang salah.

Dampak negatif kebebasan informasi sangat dirasakan pada generasi mudakita termasuk dikalangan pelajar. Apalagi dengan adanya pekembangan kurikulum pendidikan nasional yang mengisyaratkan adanya pemanfaatan teknologi informasi.Salah satu contoh kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki pengaruh terhadap proses pembelajaran ialah peserta didik diberi kesempatan dan dituntut untuk mampu mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi – khususnya komputer, sehingga peserta didik memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi pada proses pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar peserta didik.Berkembangnya kecakapan dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada peserta didik yang kurang diimbangi dengan perhatian dan pengawasan dari orang-orang tua akan berakibat semakin dalam terbawa derasnya pengaruh negatif.

Pada kenyataannya secara umum kehidupan masyarakat kita saat ini tidak bisa terpisahkan oleh kehadiran teknologi komunikasi. Tekanan itu akan semakin nyata ketika media saling berlomba-lomba untuk memberikan layanan informasi kepada konsumennya. Dari kondisi semacam ini menyebakan tidak terkontrolnya dampak yang ditimbulkan. Media bukan hanya sekedar memberikan informasi, pengetahuan, dan hiburan tetapi juga dapat berinteraksi secara langsung. Pada saat yang bersamaan media dapat menanamkan nilai ideologi yang berupa gaya hidup, budaya konsumerisme, imitasi sikap dan perilaku dari tokoh/artis/aktor. Maka dari itu, kita dituntut memiliki keterampilan atau skill dalam memenuhi kebutuhan informasi yang sering disebut dengan istilah literasi informasi.

Literasi informasi merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki setiap individu. Dengan memiliki literasi informasi setiap orang dapat mengetahui dan menggunakan informasi yang mereka butuhkan dengan relevan. Zurkowski (Farida dkk., 2006: 23) merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah literasi informasi (Information Literacy). Dia menggambarkan orang-orang yang pada waktu itu (sekitar 30 tahun yang lalu) melek informasi sebagai orang yang terdidik di dalam pengaplikasian informasi terhadap pekerjaan mereka. Mereka menggunakan sarana informasi sebagai alat pemecahan masalah.

Lasa HS (2009: 190) juga mendefinisikan bahwa literasi informasi disebut sebagai kemampuan melek informasi yang dimiliki seseorang. Seseorang yang melek informasi adalah yang bisa mengakses informasi secara efisien dan efektif, mampu mengevaluasi informasi secara kritis dan menggunakan informasi secara akurat dan kreatif (American Association of School Librarians, 1998). Literasi informasi merupakan kesadaran akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, pengaksesan secara efektif efisien, mengevaluasi, dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan informasi tersebut. Amstrong & Webber dalam Khoirul Maslahah  (2013) menyatakan bahwa:

Information literacy is knowing when and why you need information, when to find and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner.

Menurut Hancock yang dikutip oleh Andayani (2008: 3) bahwa literasi informasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengenali kebutuhan informasi, mengidentifikasi dan mencari sumber-sumber informasi yang tepat, mengetahui cara memperoleh informasi yang terkandung dalam sumber yang ditemukan, mengevaluasi kualitas informasi yang diperoleh, mengorganisasikan informasi, dan menggunakan informasi yang telah diperoleh secara efektif.

Berdasarkan pengertian literasi informasi yang diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa definisi dari literasi informasi adalah serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi itu dibutuhkan, memiliki kemampuan untuk mencari, menganalisis, mengevaluasi, serta mengkomunikasikan informasi secara efektif. Literasi informasi juga merupakan kunci utama dari pembelajaran sepanjang hayat yang akan menjadi bekal seseorang untuk menemukan informasi sesuai dengan kebutuhannya.

Pendidik dalam hal ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan pergeseran tujuan pendidikan di abad 21 yang bisa disebut sebagai era pengetahuan, dimana tujuan pendidikannya antara lain 1) mempersiapkan orang  dalam dunia pasang surut, dinamis, unpredictable (tidak bisa diramalkan),2) perilaku yang kreatif,3) membebaskan kecerdasan individu yang unik, serta4) menghasilkan inovator.Dengan demikian, model  sekolah pada abad ini mengharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri, sebagai pelajar yang mandiri.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka aspek lain yang tidak kalah penting yaitu assessment atau penilaian. Pendidik harus mampu merancang sistem penilaian yang bersifat kontinu artinya penilaian dilakukan sejak peserta didik mulai melakukan kegiatan, sedang dan setelah selesai melaksanakan kegiatannya. Penilaian  bisa diberikan diantara peserta didik  sebagai feedback, oleh pendidik dengan rubrik yang telah disiapkan atau berdasarkan kinerja serta produk yang mereka hasilkan.tugas dan peranan pendidik memiliki pengaruh dalam proses pembelajaran.

Pada abad ini diperlukan individu-individu yang menguasai keterampilanyang antara lain cerdas intelektual, cerdas vocational, cerdas emosional, cerdas moral, dan cerdas spiritual. Oleh karena itu tantangan pendidik adalah menjadikan peserta didik di sekolah menjadi individu cerdas yang mandiri, unggul, dan tangguh yang mampu bertahan di abad 21. Sehingga inovasi dalam bidang pendidikan sangat diperlukan. Inovasi tersebut dapat diawali dengan mengubah paradigma   mengenai pendidikan itu sendiri ke arah yang lebih baik. Selanjutnya bergantung pada kualitas pendidik sebagai pemeran utama. Dalam hal ini pendidik memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik peserta didik dalam proses pembelajaran agar membentuk peserta didik yang cerdas emosional, moral dan spiritualnya sebagai ciri manusia berkarakter.

Dalam kenyataan semacam ini keberadaan pendidik tak tergantikan oleh siapapun atau apapun, sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran.Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara profesional.

Selain itu pendidik  juga bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang paling serasi agar terjadi proses belajar yang efektif agar dihasilkan ouput yang berkualitas secara intelektual maupun karakternya.

Selain itu, Samani (1996) mengemukakan empat prasyarat agar seorang pendidik dapat dikategorikan profesional. Masing-masing adalah kemampuan pendidik mengolah/menyiasati kurikulum, kemampuan pendidik mengaitkan materi kurikulum dengan lingkungan, kemampuan pendidik memotivasi siswa untuk belajar sendiri dan kemampuan pendidik untuk mengintegrasikan berbagai bidang studi/mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh.

Selanjutnya menurut Djojonegoro (1996) pendidik yang bermutu paling tidak memiliki empat kriteria utama, yaitu kemampuan profesional, upaya profesional, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional dan kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya. Kemampuan profesional meliputi kemampuan intelegensi, sikap dan prestasi kerjanya. Upaya profesional adalah upaya seorang pendidik untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam tindakan mendidik dan mengajar secara nyata. Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional menunjukkan intensitas waktu dari seorang pendidik yang dikonsentrasikan untuk tugas-tugas profesinya. Pendidik yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu pendidik harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya.

Melalui pendidikan yang bermutu, tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional harusnya kita tidak lagi merasa khawatir dengan perkembangan dan derasnya arus informasi yang melalui berbagai media. Karena dengan pendidikan sudah dapat dijadikan filter arus informasi dengan melalui literasi informasi yang mengarah pada pencapaian manusia yang cerdas intelektual, cerdas emosional, cerdas moral, dan cerdas spiritualnya.(*)