Oleh : Mutolib

Mahasiswa S1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Berbicara tentang menulis kita tidak bisa menghilangkan kaitan dengan yang namanya pendidikan, menulis dimulai dari bangku terendah yaitu TK dan pendidikan tertinngi yaitu di pergururan tinggi.  Namun banyak faktor yang mempengaruhi jarangnya anak-anak yang suka menulis, bahkan pada tingkatan tertinggi sekalipun masih ada juga yang tidak menyukai hal ini, yaitu adalah menulis.

Menulis merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa  bahkan mungkin menulis sudah menjadi kewajiban dari anak-anak TK sampai kejenjang perguruan tinggi. Menulis bukan hanya sekedar menjadi hobi namun harusnya menjadi sebuah pokok atau kewajiban yang harus di miliki seluruh pelajar di Indonesia, tanpa kalian sadari orang yang suka menulis berarti dia adalah seorang suka membaca karena semua gagasan yang dia miliki bisa di tuangkan kedalam tulisan.

Sebaiknya juga orang yang tidak suka menulis juga bisa mengindikasikan bahwa dia adalah orang yang tidak suka membaca, tapi tidak semua hanya sebagian kecil saja yang memiliki nalar untuk menulis tanpa sebelumnya membaca. Nampaknya para pelajar sekarang lebih sibuk dengen gawainya masing-masing, mereka lebih sibuk dengan game onlinenya sendiri padahal dengan rajinya menulis, akan meningkatkan soft skill yang tidak ditemukan dalam sekolah karena soft skill sebenearnya bisa muncul apabila kita terus menerus mencoba hal tersebut samai benar-benar bisa.

Kurangnya budaya menulis mahasiswa

Budaya menulis dikalangan mahasiswa merupakan sesuatu yang sangat akrab dan sering dilakukan. Bagaimana tidak  hampir setiap waktu dosen memberikan tugas pada mahasiswanya untuk menulis karangan entah itu berupa essai, artikel, ataupun karya ilmiah bahkan menulis tentang sastra. Namun setelah diamati mereka hanya menulis  pada saat mereka di beritugas oleh donsen, apabila tidak ya kita sudah tau jawabanya, ya mereka tidak akan menulis kecuali memang ada tugas dari dosen.

Menulis tugaspun mereka tidak akan maksimal, karena mereka mengerjakan dengan setengah hati, kita tau semua yang dikerjakan setengah hati hasilnya tidak akan maksimal karena mereka mengerjakan tugas itu dengan tidak dengan mambaca buku atau tidak membaca sumber yang akan mereka kerjakan, lebih mirisnya lagi apabila mereka benar-benar menjiplak karya orang lain yang beredar luas di internet. Bukankah itu hal yang salah ? itu sangat salah, kita hendaknya sebagai orang yang terpelajar sebisa mungkin bisa mengaetahui cara menulis dengan benar dan setidaknya kita bisa berusaha sendiri untuk bisa membuat semuanya dengan usaha sendiri.

Hal tersebut disebabkan karena para pahasiswa kurang memahami pentingnya budaya menulis. Padahal apabila kita benar-benar bisa menerapkan budaya tersebut setidaknya kita bisa menyalurkan hal tersebut tidak hanya untuk tugas saja. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan menulis salah satunya menulis essai, cerpen dan puisi kemudian di publikasikan lewat medi cetak seperti Koran, membuat buku antologi karangan sediri yang intinya sesuai minat dari kita sendiri.

Banyaknya ruang lingkup tentang menulislah yang tidak bisa dinikmati atau tida bisa dipahamai oleh para mahasiswa, dimana mahasiswa akan seakan-akan mulai acuh akan budaya menulis. Ruang lingkup seperti tentang sastra, bahasa dan budaya tidak bisa dimaksimalkan dengan maksimal, mereka tidak bisa menggunakan peluang tersebut dan hasilnya mereka tidak bisa mengembangkan tentang kepenulisan tersebut.

Banyak sekali peluang untuk mengembangkan budaya menulis ini karena semakin majunya sebuah perkembangan zaman semakin memudahkan mencari akses atau mencari referensi belajar tentang bagaiamana menulis yang baik, apabila kita tidak benar-benar maksimal di era modern maka kita sudah pasti akan tertinggal dari banyak orang. Jangan takut gagal karena kegagalan adalah salah satu bagian dari proses yang memang harus dirasakan semua halayak manusia yang ada di muka bumi ini.

Masih percaya akan mitos dan takut pada kegagalan

Di luar sana masih banyak pula mahasiswa yang berpikiran atau masih percaya dengan mitos tentang dia tidak mempunyai bakat, padahal apabila dia mau berusaha maka dia akan berhasil dan berawal kepercayaan dengan mitos itulah para mahasiswa akan stagnan atau jalan ditempat terus, karena tanpa mereka sadari mereka tidak berusaha untuk mencoba untuk menulis, padahal semua keinginan harus diawali dengan niat kemudian dengan usaha. Maka dari itu para mahasiswa hendaknya bisa terus berkarya agar mereka bisa menghasilkan sebuah karya yang bernilai lebih dan bisa dinikmati semua kalangan, karena dengan majunya teknologi sudah sangat mudah untuk kita publikasikan.

Jangan percaya pada mitos-mitos diatas kecuali kita mau berusaha, bagaimana kita bisa menyebut bahwa diri kita itu gagal apabila  kita belum pernah mencoba dan berusaha, mitos itu jangan sampai menjadi patokan kita, karena apabila kita menggunakan patoan mitos tersebut yang jelas kita tidak akan menjadi manusia  yang maju.

Inti dari hal tersebut sebisa mungkin para mahasiswa tidak alergi dengan membaca, karena yang sudah kita tau membaca adalahh jembatan ilmu, dengan seringnya kita membaca buku dan bisa memahami apa yang kita baca semakin luas pengetahuan yang kita punya dan bisa kita tuangkan semua gagasan dan ilmu pengetahuan kita dengan tulisan-tulisan yang kita buat. Banyak media yang bisa kita gunakan untuk mempublikasikan, sekarang tinggal bagai mana apakah kita mau berusaha untuk  belajar menulis ? mari kita bijak menggunakan tekhologi yang ada dan kita pahami bersama bahwa membaca dan menulis itu penting.

Mari menulis ! menulis itu asik !