Andreas Maurenis Pemerhati Lingkungan
Andreas Maurenis
Pemerhati Lingkungan

Hari-hari ini kita dihadapkan pada banyak persoalan yang mengkuatirkan hajat hidup bersama. Selain persoalan sosial, politik dan agama, kita dihadapkan pada suatu kekhawatiran yang fundamen bagi kelangsungan hidup. Itu tidak lain adalah persoalan tentang degradasi lingkungan hidup. Terlalu banyak masalah global maupun nasional membahayakan biosfer dan kehidupan manusia dalam beragam bentuk kerusakan lingkungan. Jika tidak segera dibenahi, sangat mungkin menghancurkan kelangsungan hidup planet bumi, rumah kita bersama ini. Maka segala bentuk kerusakan lingkungan hidup (alam) di hari-hari ini, mau tidak mau memaksa setiap individu untuk menggemakan dan menerapkan kesadaran bagaimana seharusnya kehidupan ini dipahami, dijelaskan dan dipecahkan secara baru, termasuk di dalamnya, seluruh ekosistem yang ada.

Jika pada abad-abad sebelumnya kehidupan dipahami sebagai sebuah krisis tunggal yang parsial, atomistik dan mekanistik, sekarang saatnya membaharui cara pandang atas kehidupan dan melihatnya secara holistik. Atau meminjam istilah Fritjof Capra, holistik ekologis. Artinya, kehidupan ini tidak bisa dipahami secara terpisah tetapi suatu perkara sistematik. Komponen-komponen dalam alam semesta ini saling terkait. Lebih tepatnya konsep “integral” perlu diusung ketika menyoal kehidupan ini entah dari sudut pandang apapun (politik, ekonomi, spiritual, ekologis). Mutlak perlu untuk memahami bahwa ada kesalingtergantungan fundamental semua fonemena dan realitas di alam ini. Dalam arti ini, holistik tidak berhenti pada pengertian hubungan fungsional antara bagian-bagian dari sebuah elemen tetapi memahami ada keterhubungan antara elemen tertentu dengan entitas lain di luar dirinya. Bukan hanya relasi intra-dependensi tetapi juga inter-dependensi. Pola pikir inilah, bagi Arne Naess, dimaksudkan sebagai pola pikir deep ecology.

Akselerasi yang terus-menerus demi kemajuan peradaban memang merupakan sebuah upaya positif. Hanya saja, akselerasi yang terus-menerus sebagai upaya menyejahterakan umat manusia ditambah intensifikasi (rapidiction) sering kali menjadi kontras dengan kelambatan evolusi biologis (Laudato Si, no. 18). Intensifikasi ini pada akhirnya problematis lantaran menjadi ancaman serius bagi planet bumi ini. Intensifikasi kerap kali menggunakan kerangka berpikir Newtonian yang melihat alam sebagai mesin raksasa yang terus memproduksi. Perubahan memang sesuatu yang diinginkan bangsa di mana pun. Maka tak heran, di abad ke-21 ini, dengan modernisasi teknologi dan industri, menciptakan persaingan yang ketat antar bangsa untuk menjadi lebih makmur, termasuk di dalamnya, negara berkembang seperti Indonesia. Sementara, hasrat makmur tak sebanding dengan persediaan bahan baku dari alam yang terus menipis. Ini sangatlah tidak bijak, mengeruk alam dengan dalih developmentisasi. Ketidakbijaksanaan interpretasi seperti ini lambat laun, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup biosfer. Shierry Webber Nicholsen dalam bukunya The Love of Nature and the End of the World (2002)menggemakan suatu pernyataan serius bahwa di luar ancaman perang nuklir maka krisis lingkungan merupakan ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia secara kolektif dewasa ini. Apakah ini yang dimaksud sebagai ecoterrorism oleh Douglas Long? Bisa terjadi. Jika eksploitasi sumber daya alam terus menerus terjadi dan jika pengurangan emisi karbondioksida di bawah kendali maka kita sedang menghancurkan alam ini kata  James Hansen seorang ilmuwan NASA. Apalagi atas nama “kesejahteraan”, alam dikeruk habis-habisan tanpa melihat nilai intrinsiknya.

Memang, pada hakikatnya kita tidak bisa menapik bahwa degradasi alam yang mencemaskanini bermula dari kekeliruan manusia memahami alam. Kekeliruan cara pandang ini kemudian melahirkan perilaku yang keliru pula terhadap alam. Manusia keliru memandang alam semesta, dan keliru pula dalam menempatkan diri dalam konteksalam semesta seluruhnya. Alam dilihat sebagai objek. Manusia adalah subjek. Muncul egoisme yang turut andil melanggengkan tumbuhnya antroposentrisme. Kemudian melebur ke dalam modernitas maka lahirlah antroposentrisme modern yang menjadi bak dewa atas alam semesta. Alam bukan lagi dipandang sebagai norma yang berlaku atau tempat berlindung yang hidup melainkan sebagai objek: ruang dan tempat untuk dikerjakan. Alam dijadikan sebagai objek materialistik semata. Akibatnya hubungan antara manusia dan alam menjadi konfrontatif. Alam semesta (dunia) ini hanya dipahami sebagai materi yang kemudianmengesampingkan konsep immateri alam. Adanya alam semesta bahkan spesies-spesies ditentukan oleh sebab-sebab mekanistis bukan hasil kreasi agen di luar dirinya (Tuhan). Seyyed Hossein Nasr dalam The Encounter of Man and Nature,The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) menyatakan bahwa abad sekarang ini semakin memperlihatkan arogansi saintifik dan semakin pudarnya metafisika. Konsepsi alam materialistik ini pada gilirannya meneguhkan peran dominasi manusia atas alam semesta dan menaklukan alam secara brutal. Ditambah, cara mengadopsi teknologi dan perkembangannya yang salah kaprah, dengan eksperimen-eksperimen ilimiah tanpa ada penghormatan atas nilai-nilai intrinsik ekosistem yang ada, alam menjadi semakin rusak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedianya menunjang dan mempermudah aktivitas manusia bergeser menjadi media pemenuhan budaya konsumtif sehingga hakikat diri sebagai mahkluk alam ikut tergerus. Manusia mengalami alienasi dalam hidupnya. Keterasingan ini berdampak pada ketidakjernihan pikiran memposisikan alam dalam hidupnya. Alam hanyalah entitas yang bermakna dari sudut pandang egoistik-antroposentrik, paradigma mekanistik dan pragmatik. Di luar konsep ini, alam tidak bernilai termasuk sakralitasnya.

Lantas, dengan semakin membucahnya kerusakan alam, mulai dari polusi (asap kendaraan dan industri), deforesasi, pengasaman tanah oleh zat kimia, tercemarnya air oleh limbah, pemanasan global, punahnya spesies, penyakit menular, pertanian monokultur, penangkapan ikan dengan bahan peledak, kekeringan dan sampah langkah apa yang mesti diambil? Tentu saja orang harus melakukan intervensi ketika geosistem memasuki keadaan kritis. Namun karena sedemikian kompleksnya bencana lingkungan hidup maka penting menerapkan intervensi secara baru (positif). Kita butuh sebuah proposal bersama sehingga bertumbuhan demografis sepenuhnya harmonis dengan pengembangan yang utuh dan solider. Kita tidak hanya butuh slogan-slogan atau retorika-retorika yang serba imperatif-normatif belaka melainkan sebuah praksis-reflektif. Kita butuh sebuah strategi yang terpadu dan kohersif bukan parsial yang bergerak secara sentrifugal. Kita butuh reposisi paradigma atas  alam semesta.

Maka pertama-tama, manusia harus berbenah diri. Membenah kesadaran pada perkara asal bersama, saling memiliki dan masa depan yang harus dibagi. Asal bersama sebagai prasyarat awal bahwa kita hidup dan berada di dalam alam semesta. Tidak ada yang lebih superior di alam semesta ini kecuali ia sendiri. Manusia hanyalah salah satu bagian kecil di alam semesta. Maka mematuhi dan menaati ritme alam semesta (alam semesta punya ritme dan hukumnya sendiri) akan menjaga kelangsungan hidup manusia sendiri jika tidak ingin alam, suatu ketika, menjadi terorisbentuk baru. Maka saling memiliki adalah konsekuensinya. Manusia harus bisa punya kesadaran bahwa ia milik alam semesta bukan sebaliknya, alam adalah miliknya. Nature selalu mendahului culture. Maka culture yang dibentuk pun harus bisa membangun paradigma humanis untuk punya rasa memiliki terhadap nature tadi. Bukankah dalam sejarah penciptaan, manusia adalah ciptaan paling akhir. Itu berarti manusia berhadapan dengan sesuatu yang sudah terbentuk mendahului keberadaannya. Refleksi mendalam untuk menghayati fakta bahwa eksistensinya didahului alam akan membawa manusia keluar dari dirinya, melampaui diri, dengan mendobrak pikiran tertutup dan keterpusatan pada dirinya yang segala perhatian akan diarahkan kepada orang lain dan lingkungan. Sikap melampaui diri memungkinkan secara efektif tumbuhnya solidaritas dan tanggung jawab terhadap masa depan yang harus dibagi.

Kemudian yang kedua, kita butuh dorongan dari dalam batin. Dorongan batiniah akan memberikan makna pada setiap keputusan manusia, baik secara individu maupun komunal. Dan inilah yang dinamakan sebagai pertobatan. Pertobatan selalu menyangkut spiritualitas hidup baru dan selalu menyiratkan sikap kolektif untuk menumbuhkan semangat pelestarian dan perlindungan terhadap kehidupan. Maka dalam konteks ekologi, adalah suatu kemendasakan bahwa setiap pribadi butuh pertobatan ekologis yang radikal jika tidak ingin hidupnya terancam. Kita sudah disuguhkan beragam krisis lingkungan. Pencemaran, kebakaran dan eskploitasi bumi, limbah yang merusak ekosistem, satwa yang kehilangan habitat, kekeringan dan kemiskinan merupakan beberapa contoh nyata krisis ekologis yang timbul akibat manusia keliru menempatkan dirinya di tengah alam ciptaan. Harus ada kesadaran untuk membangun kembali visi teosentris mengenai ciptaan. Alam itu sakral kata Nasr, bukan tercipta dan beroperasi tanpa ada hubungannya dengan Tuhan sebagaimana dogma kaum naturalis, Laplace dan Charles Darwin. Bahkan lebih tegas, meminjam istilah Baruch Spinoza, Deus sive natur, alam merupakan pancaran ilahi. Itu artinya, ciptaan tidak dapat berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, alam semesta dan segenap isinya bagi kita tampak sebagai anugerah, hadiah dari Tuhan sendiri (Laudato Si, no. 76) sehingga relasi yang dibangun adalah kerja sama dalam dialog dan tanggung jawab bukan dominasi eskploitatif.