Perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh mengajarkan kepada kita untuk berjaga-jaga senantiasa menyambut kedatangan Sang Mempelai Laki-laki yaitu Yesus Kristus (baca juga Mat 9:15; Wah 19:6-10). Kedatangan Dia adalah hari Penghakiman yang kita tidak tahu hari dan waktunya (Mat 24:42; Mar 13:35; Luk 12:40). Lima gadis bodoh akhirnya tidak dapat masuk ke ruang perjamuan kawin bersama mempelai laki-laki sebab pintu sudah ditutup (ayat 10). Dan ayat 11, Matius menuliskan penyebab mereka tidak dapat masuk yaitu mereka tidak berjaga-jaga sehingga mereka tidak dikenal oleh sang mempelai.

Apa artinya berjaga-jaga? Lima gadis bodoh sama seperti lima gadis bijaksana yaitu diberi tugas yang sama menyambut kedatangan sang mempelai laki-laki. Mereka membawa pelita masing-masing namun lima gadis bodoh itu tidak membawa persediaan minyak sehingga pada akhirnya pelita mereka akan padam sebelum kedatangan sang mempelai. Mereka tidak berjaga-jaga dan ini membuat mereka ditolak masuk. Berjaga-jaga artinya menjaga pelita tetap menyala sampai kedatangan sang mempelai. Bagaimana berjaga-jaga atau menjaga pelita itu tetap menyala? Kuncinya adalah menyediakan persediaan minyak yang cukup. Tanpa minyak maka pelita pasti akan padam.

Minyak dan Pelita

Perumpamaan di atas mengajarkan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga maka pelita kita harus menyala tidak boleh padam (lihat juga Luk 12:35). Di sinilah dibutuhkan keberjagaan yaitu harus menyediakan atau membawa minyak supaya pelita tetap menyala sampai Kerajaan Surga itu datang yaitu Sang Mempelai Laki-laki itu datang.

Hendi SS MTh Rohaniwan dan Dosen STT Soteria Purwokerto
Hendi SS MTh
Rohaniwan dan Dosen
STT Soteria Purwokerto

Minyak adalah energi bagi pelita tetap menyala. Minyak itu adalah anugerah atau kasih karunia Allah sebagai energi ilahi bagi pelita kita. Pelita itu adalah terang yang berasal dari anugerah yang menerangi hati dan mata hati kita (2 Kor 4:6; Efe 1:18). Dan hati atau mata hati yang terang akan menerangi atau menjadi pelita bagi tubuh kita sendiri (Luk 11:34). Sehingga yang menjadi pelita itu adalah hati atau batin dan tubuh manusia. Hati dan tubuh manusia harus menjadi pelita atau terang. Sebab itu, hati kita harus dialiri oleh anugerah atau energi ilahi setiap hari supaya pelita hati kita tetap menyala.

Pelita Hati

Pelita hati ini adalah api batin (innerflame) yang menjadi tungku bagi kehidupan spiritual kita. Tungku api ini tidak boleh padam sehingga kita harus terus menjaganya senantiasa. Bagaimana caranya? Nepsis atau keberjagaan batin dengan doa batin seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36 TB). John Chrysostom menuliskan, “Siapa pun yang mencurahkan air ke atas cahaya lampu, maka lampu itu akan padam, dan ini juga terjadi jika mereka hanya menumpahkan semua minyak keluar dari itu … dengan cara yang sama kasih karunia akan padam. Jika kita telah memenuhi pikiran dengan hal-hal duniawi, jika kita telah menyerahkan diri pada urusan sehari-hari, kita telah memadamkan Roh. Nyala api padam ketika tidak ada cukup minyak, yaitu, ketika kita tidak menunjukkan kasih amal. Roh datang kepadamu oleh belas kasihan Allah, dan jika itu tidak menemukan buah-buah belas kasihan yang sesuai di dalam dirimu, itu akan lari darimu. Karena Roh tidak tinggal di dalam jiwa yang tidak berbelas kasihan.”

St. Theophan menuliskan, “Belajarlah untuk melakukan semua yang kita lakukan sedemikian rupa sehingga menghangatkan hati alih-alih mendinginkannya. Baik membaca atau berdoa, bekerja atau berbicara dengan orang lain, kita harus berpegang teguh pada tujuan yang satu ini — jangan biarkan hati kita menjadi dingin. Jaga agar kompor batin kita selalu panas dengan mengucapkan doa pendek, dan awasi perasaan kita seandainya mereka menghilangkan kehangatan ini. “Lebih lanjut lagi dia membaca,” Singkirkan segala sesuatu yang mungkin memadamkan api kecil ini yang mulai menyala di dalam diri kita, dan kelilingi diri kita dengan apa yang bisa memberi makan dan mengipaskannya menjadi api yang kuat. Isolasikan diri kita, berdoa … Kesendirian kita harus menjadi lebih terkumpul, doa kita lebih dalam, dan meditasi kita menjadi lebih kuat.”

St. Dimitri dari Rostov juga menuliskan, “Untuk menyalakan dalam hatinya cinta yang ilahi sedemikian rupa, untuk bersatu dengan Allah dalam kesatuan cinta yang tak terpisahkan, perlu bagi kita untuk sering berdoa, membangkitkan pikiran kepada-Nya. Karena ketika nyala api meningkat ketika ia terus-menerus diberi makan, maka doa, yang sering dilakukan, dengan pikiran yang semakin mendalam di dalam Tuhan, membangkitkan cinta ilahi di dalam hati. Dan hati, yang dibakar, akan menghangatkan semua batin manusia, akan mencerahkan dan mengajarinya, mengungkapkan kepadanya semua kebijaksanaannya yang tidak dikenal dan tersembunyi, dan menjadikannya seperti api yang menyala-nyala, selalu berdiri di hadapan Allah dalam rohnya, selalu memandangi Dia dalam benaknya, dan ini membuat manisnya sukacita spiritual.”

Doa keheningan adalah doa yang Kristus sentris, berpusat pada Kristus sehingga Roh Kudus berkarya mencurahkan anugerah itu ke dalam hati kita. Doa pada pagi hari pada jam pertama (pukul 5 atau 6 pagi) tentang Kristus yang adalah terang dunia begitu juga hidup kita adalah terang; doa pada jam ketiga (pukul 9 pagi) tentang Roh Kudus yang turun untuk melahirkan baru kita sehingga kita adalah manusia baru di dalam Kristus; doa pada jam keenam (pukul 12 siang) tentang penyaliban Yesus yang mengajarkan kita juga ikut menyalibkan keinginan daging kita; doa pada jam kesembilan (pukul 3 sore) tentang kematian Yesus menebus dosa kita yang mengajarkan betapa besar kasih Kristus untuk kita yang mengorbankan nyawa-Nya; doa pada petang hari pukul 6 tentang Yesus turun ke dalam kubur dan akan bangkit pada besok harinya mengajarkan kita untuk bangkit melawan dosa-dosa kita; doa pada malam hari sebelum tidur tentang Yesus yang tergeletak di dalam kubur mengingatkan kita akan kematian; dan doa tengah malam mengajarkan kita untuk berjaga-jaga seperti Kristus yang datang seperti pencuri di tengah malam.

Terang Tubuh

Keberjagaan hati atau mata hati dengan nepsis dan doa membuat inner flame atau api batin tetap menyala sehingga api batin ini akan memancar dari dalam ke luar dari tubuh kita. Artinya dengan mata hati atau hati yang terang akan menghasilkan perbuatan yang terang. Mata hati atau mata batin inilah Nous atau inti terdalam dari batin kita yang harus terus menyala oleh anugerah Allah. Sebab itu Lukas menuliskan bahwa pelita tubuh kita adalah mata batin itu (Luk 11:34). Mata kita adalah pelita bagi tubuh. Jika mata kita jahat artinya pelita hati itu padam maka tubuh menjadi gelap. Dan jika mata kita baik artinya pelita hati itu menyala maka tubuh menjadi terang. Pelita hati berbicara tentang baik dan jahat. Hati yang baik adalah hati yang menyala sehingga menjadi pelita hati yang menyinari tubuh. Hati yang baik adalah hati yang berjaga-jaga supaya tetap menyala. Hati yang baik adalah hati yang terus berdoa dan melawan hal-hal yang jahat yang bisa timbul di dalam hati seperti dosa yang dilakukan oleh batin seperti pikiran-pikiran jahat (logismoi). Logismoi ini harus dimatikan dengan nepsis dan doa di dalam hati supaya tidak berubah menjadi nafsu daging yang jika dibuahi oleh tubuh/perbuatan maka menjadi dosa perbuatan yang membuat tubuh menjadi gelap. Sebab itu dengan pelita hati maka logismoi ini dimatikan sehingga tubuh menjadi terang. Hanya mata yang baik yaitu hati yang menyala atau mata hati yang terang maka tubuh akan menjadi terang. Jika mata tidak baik maka hati ini penuh dengan logismoi dan akibatnya tubuh dapat menjadi gelap jika logismoi ini dibuahi menjadi dosa.

Good Works

Berjaga-jaga berarti menjaga pelita hati dan tubuh tetap menyala sampai kedatangan Sang Mempelai Laki-laki. Menjaga pelita tetap menyala pada akhirnya harus mendatangkan perbuatan-perbuatan baik atau good works. Semua itu berasal dari anugerah Allah yang bekerja dari dalam sebagai minyak bagi pelita kita. Perbuatan-perbuatan baik itulah terang yang terpancar keluar dari pelita itu. Jika pelita itu adalah iman maka minyak itu adalah perbuatan-perbuatan baik yang membuat iman itu jadi hidup atau menyala. Tanpa buah perbuatan baik maka pelita kita sedang padam. Tubuh yang terang adalah perbuatan baik dan tubuh yang terang berasal dari hati yang terang. Hati yang terang itu karena ada anugerah yang bekerja di dalamnya.(*)