ILUSTRASI. DOKUMENTASI SATELITPOST

Oleh: NanangQosim, M.Pd

PenelitidanDosenFakultasSainsdanTeknologi (Sainstek) UIN Walisongo Semarang

 

Indonesia senyatanya (sedang) mengalami disfungsi kebangsaan dan nasionalisme yang pelan tapi tampak masif dan menunjukkan gejala redefinisi. Celakanya, apa yang sedang didefinisikan ulang tampaknya bukan menuju konsolidasi, namun lebih pada involusi yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa.

Konsep ke-Indonesia-an sedianya timbul tenggelam di tengah semakin menguatnya identitasethnos yang bagi konteks Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Artinya, manusia Indonesia lebih bangga dengan identitasnya yang berbasis ethnos dan daerah ketimbang mengedepankan nasionalisme Indonesia itu sendiri. Hal ini yang belakangan disebut proto-nasionalisme.

Bahkan yang sangat memprihatinkan, adalah perbedaan yang ada tidak lantas dijadikan semangat ber-bineka, malah justru dijadikan alasan konsolidasi kekuatan melalui agresivitas dan radikalisme bersenjata dengan tujuan makar dari Republik.

Sejatinya, nasionalisme sebagai sebuah ide menemukan momentum kejayaan pada abad ke-21 di tengah menguatnya sentimen persamaan nasib dan konstruksi perlawanan yang digerakkan oleh negara yang sedang ditindas kolonialisme. Tak terkecuali dalam bingkai tersebut ditempatkan ideologi besar semacam islamisme yang dalam konteks Indonesia (sampai) sekarang merupakan elemen penting dalam membentuk karakter (watak) bangsa.

Seharusnya apa yang menjadi pilihan bagi sebagian kelompok yang mengatasnamakan sektarian bukanlah dengan melakukan intoleransi dan radikalisme atas kelompok lain yang minoritas. Jelas ini sebuah disorientasi.Karenainilah yang sebenarnya menganut nilai-nilai moral dalam agama,

 

Romantisme Masa Lalu

Konteks kejayaan masa lampau yang pernah dialami oleh Indonesia tampaknya dapat dijadikan elemen pendukung untuk menjelaskan watak masing-masing rezim yang berkuasa. Orde lama Soekarno misalnya, dengan konteks perjuangan mempersatukan Nusantara di bawah panji “Indonesia” melawan kolonialisme Belanda, Sekutu, dan Jepang yang mengadopsi apa yang diucap Maha Patih Gadjah Mada sebagai Sumpah Palapa zaman Majapahit.

Persoalannya kemudian, di tangan penguasa nasionalisme kadang digunakan sebagai alat untuk mengintimidasi warganya secara politik agar “menjauhi” sesuatu atau “menerima” sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan aspirasinya (Lay, 2006). Hal ini yang kemudian justru menimbulkan resistensi di banyak lini kehidupan kebangsaan, yang kebanyakan melibatkan kekerasan sebagai energi penggerak aktual.

Berkiblat pada kondisi kontemporer, memang benar bahwa nasionalisme Indonesia pelan-pelan telah didefinisikan ulang. Nasionalisme Indonesia pada dasarnya adalah pluralitas yang berbineka: yang berbeda tapi satu. Namun belakangan yang muncul justru faksi-faksi tersendiri atas dasar sentimen antarkelompok atas dasar sektarian, pandangan politik, dan sebagainya.

Napak tilas separatisme terjadi di Aceh dan Papua dengan eksistensi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bagi Aceh serta Organisasi Papua Merdeka (OPM). Meski sudah lama GAM telah berhasil diberangus, namun harap dicatat bahwa upaya yang ditempuh adalah melalui perundingan. Artinya, bisa jadi ke depan ancaman gerakan tersebut muncul kembali ke permukaan ketika konteks politik memberikan ruang bagi mereka untuk tampil.

Belum lagi, tampaknya nasionalisme bagi segenap manusia Indonesia hanyalah bersifat situasional. Kita dengan bangga meneriakkan “Indonesia” hanya saat momen-momen heroik tertentu. Semangat nasionalisme dengan hebatnya menggelora di Stadion Utama Gelora Bung Karno ketika Timnas Sepak Bola Indonesia bertanding.

Jiwa satu Tanah Air dan bangsa kita terbakar hanya ketika di kolom koran Malaysia terpampang tulisan: TKI for Sale. Lantas di luar momen itu sama sekali nilai dan semangat tersebut luntur dari mental manusia Indonesia seutuhnya. Mulai dari masyarakat yang saling berkonflik, kemiskinan kian menjangkit, dan perilaku elite yang koruptif.

Berikutnya, sentimen atas agama, etnik, dan ras tertentu sama halnya mulai menunjukkan eksistensinya belakangan. Belum lagi yang menyedihkan ketika perbedaan keyakinan dan etnik kadang dijadikan alasan bagi sebagian kelompok untuk meniadakan kelompok yang lain. Sentimen antaa kelompok muslim Sunni dan Syiah yang tidak kunjung berakhir, kemudian konflik sosial antaretnik yang terjadi di beberapa daerah yang semakin menambah panjang daftar noda kebinekaan. Terlepas konteks ini hanya berupa komoditas politik dari penguasa atau memang benar muncul dari masyarakat.

Tapi yang menjadi persoalan kemudian, ternyata realitas sosial kita (Indonesia) yang masih berwajah bopeng gampang berdarah, dan rentan dinodai berbagai bentuk praktik kekerasan yang jauh dari pantas yang dilakukan sesama manusia. Realitas etnosentrisme di Indonesia dewasa ini seakan kegagalan negara hadir dalam setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengapa bangsa yang katanya berbudaya, berbudi luhur, ramah tamah, sopan santun, religius, suka tolong-menolong, gotong royong berubah menjadi bangsa atau masyarakat yang homo homini lupus, anarkistis, brutal dan radikal dalam hampir seluruh bidang kehidupan dan strata. Artinya, pembangunan nasionalisme telah mengalami kegagalan dengan indikator semacam itu.

Bahkan, bisa jadi, nilai-nilai nasionalisme maupun kebinekaan yang hadir di bumi Indonesia menjadi bahaya laten tersendiri. Dalam arti, muncul tafsir-tafsir tersendiri dari beragam kalangan tentang makna sesungguhnya nasionalisme dan juga pluralitas yang tercermin dalam semboyan kebinekaan.

Sebagai manusia Indonesia yang menjunjung nilai persatuan dan kesatuan, fenomena-fenomena yang muncul tidak lantas menjadikan kita tidak melakukan apa-apa. Sepantasnya dan seharusnya seluruh elemen bangsa merapatkan barisan di tengah gencarnya gejala disintegrasi. Kita bangun energi baru menuju konsolidasi nasionalisme Indonesia seutuhnya yang sejalan dengan Pancasila.(*)