ILUSTRASI

 

Oleh

Eko Susilowati, S.Pd

Pengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Wanadadi

 

Keterampilan berbahasa terdiri atas keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Ke empat keterampilan ini wajib dimiliki oleh selurus siswa untuk mendapatkan pengakuan sebagai siswadengan keterampilan berbahasa yang maksimal. Siswa harus mampu berpidato di depan umum sebagai bentuk keterampilan berbicara. Dalam keterampulan membaca pun demikian, Indikator mmembaca siswa berhasil apabila siswa mampu mengungkapkan kembali materi wacana yang sudah dibacanya. Hal yang sama diterapkan dalam keterampiulan menulis. Indikator keberhasilan siswa menulis ketika ia mampu mengungkapkan apa yang ia rasa, ia lihat dan ia inginkan dalam bentuk bahasa tulisan.

Sebagian besar siswa enggan atau bahkan malas untuk mengungkapkan perasaannya dalam bahasa tulisan. Dijaman seperti sekarang ini pengaruh  teknologi sudah mengubah kiblat siswa untuk menyikapi keterampilan menulis ini. Siswa akan mencari yang praktis-praktis saja bahkan kecenderungan siswa lebih banyak menonton dari pada menulis maupun membaca. Kesalahan besar ternyata telah melanda siswa-siswa saat ini.

Kegiatan menulis yang semakin banyak dihindari siswa membuat kreatifitas menulispun sangat terbatas. Kalau t            idak karena penekanan dari guru saja siswa tidak mau melakukan hal yang satu ini. Dengan sedikit tekanan yang dilakukan bapak/ibu guru baru siswa akan tergerak melakukan kegiatan menulis. Terlebih siswa laki-laki. Setiap tahun terlihat kemunduran pada aktifitas menulis. Dapat kita buktikan ketika lomba menulis, baik menulis karya ilmiah maupun karya-karya fiksi. Peserta didominasi anak perempauan, kalau pun ada hanya beberapa orang anak laki-laki dan itupun sebagian kecil saja.  Apalagi menulis cerita pendek alasannya sangat simpel. Kita akan memulai dari mana ya?  Padahal ketika menulis cerita pendek tersebut hanya diambil dari cerita kehidupan pribadi kita.

Pengalaman di atas baru sebagian kecil dari fenomena yang marak terjadi di lingkungan sekolah kita. Kreatifitas siswa dalam hal menulis berkurang, namun siswa akan lebih kreatif dalam hal IT.  Hal itu tidak dapat kita pungkiri karena aktivitas memegang alat-alat berbasis komputer misalnya HP, gadget, dan lain-lain jauh lebih sering dan lebih lama dibanding aktivitas kita untuk berhadapan dengan kertas dan pensil.

Seperti yang terjadi pada siswa SMP Negeri 1 Wanadadi, aktifitas menulis sangat kurang. Siswa akan lebih suka aktifitas menghitung dari pada menulis, penulis mengambil contoh pada siswa  kelas 9A-9G yang berjumlah 224 hanya 40 % saja yang mengungkapkan senang menulis.  Jumlah itupun masih berupa hitungan kasar, bisa saja jumlah tersebut merupakan siswa yang asal saja masuk kategori suka menulis. Yang jadi permasalahan bagaimana memupuk kraetifitas menulis siswa si SMP Negeri 1 Wanadadi ini?

Kategori siswa menulis di SMP Negeri 1 wanadadi ada beberapa golongan, ada siswa yang memang benar -benar suka menulis atau ia hanya akan menulis kalau ada tugas dari bapak atau ibu guru saja. Dari pengalaman tersebut penulis berusaha mengubah pola mengajar sehingga sedapat mungkin aktifitas menulis itu dapat disukai dan dicintai oleh siswa. Beberapa pengalaman yang pernah penulis lakukan mungkin dapat dijadikan bahan rujukan atau tambahan referensi bagi bapak ibu guru yang lain.

  1. Menulis berita

Pada pembelajaran menulis di kelas VIII ada aktifitas menulis berita di lingkungan sekolah.Kegiatan ini akan sangat membosankan apabila siswa hanya terkungkung di depan meja atau dilingkungan sekolah saja. Lokasi SMP 1 Wanadadi yang sempit kurang menarik siswa untuk menemukan berita yang hangat. Untuk mendukung pembelajaran ini siswa diajak keluar sekolah menyaksikan ramainya pasar Wanadadi, kebetulan letak pasar dengan sekolah hanya sekitar 150 meter saja. Siswa akan menemukan banyak ide sebagai sumber menulis berita. Ada yang menyoroti keadaan pasar, ada yang mengangkat berita tentang aktifitas warga pasar bahkan ada yang menemukan peristiwa pencurian. Hal ini sangat mendukung siswa untuk dapat menulis berita denga baik.

  1. Pembelajaran menulis puisi, Untuk mendukung aktifitas pembelajar ini siswa SMP Negeri 1 wanadadi diajak keluar kelas menuju sebuah waduk. Menulis puisi sebagai aktifitas yang sering dihindari anak-anak dengan alibi menulis puisi itu sulit. Namun ketika anak-anak diajak menikmati alam secara langsung ternyata anak-anak mampu menuangkan bait-bait puisinya dengan indah. Mereka mungungkapkan dengan melihat alam secara langsung kita dapat melihat, mendengar dan merasakan apa saja kemudian ditungkan dalam larik-larik puisi.
  2. Menulis cerita berangkai, dengan bantuan gambar siswa akan lebih mudah menuliskan ide-ide ceritanya. Gambar yang telah disusun runtut ini akan mengaktifkan siswa dalam menulis ceritanya. Apapun cerita itu ketika anak dihadapkan pada gammbar ternyata memudahkan siswa SMP Negeri 1 dalam menulis ceritanya. Gambar satu dengan yang lainnya akan saling mendukung sehingga secara tidak langsung anak-anak mampu menghasilkan tulisan yang indah.
  3. Kalau hanya berbekal hafal saja anak akan mudah lupa, sehingga dalam menulis laporan pengamatan dan perjalanan siswa SMP Negeri 1 Wanadadi kelas VIII diajak untuk melakukan perjalanan dan mengamati objek. Pembelajaran ini sangat menarik siswa apalagi banyak pengalaman yang mereka peroleh selama melakukan perjalanan atau melakukan pengamatan. Hasil tulisan yang dibuatnya pun jauh lebih valid, karena langsung tertuju pada objek tulisan.
  4. Lain halnya ketika menulis cerpen, siswa diajak utuk menyaksikan film pendek yang diiputar oleh bapak/ibu gurunya, dalam waktu 15 menit setelah menyaksikan film tersebut siswa menceritakan apa yang telah dilihatnya dalam bentuk tulisan, Jadi mereka menuangkan ceritanya tetapi dengan cara ditulis.

Deri beberapa aktifitas pembelajaran tersebut ternyata 90% lebih siswa termotivasi utnuk menghasilkan karya yang baru. Meskipun ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan ketika menulis. Berbagai alasanpun diungkapkan mereka. Namun secara garis besar aktifitas siswa dengan melibatkan langsung dengan lingkungan, alam maupun objek siswa akan lebih mudah menulis daripada siswa harus menulis sesuia tema di belakang meja masing-masing.

Inilah sebuah pengalaman belajar mudah-mudahan dapat menambah perbendaharaan teknik mengajar untuk bapak/ibu guru yang lain dengan berbagai kreativitas yang mungkin dapat diciptakan. Selamat mencoba!(*)