Menyikap soal kenyamanan, tidak seorang pun yang tak ingin mendapatkannya. Sekolah, bekerja, dan tinggal di tempat yang nyaman adalah keinginan hampir setiap manusia. Begitu pula dengan mempunyai belahan jiwa yang membuat hati nyaman, pastilah hal tersebut sangat diinginkan.

Rasa nyaman timbul saat menemukan sesuatu yang sudah pas. Takaran dalam hati, pikiran, dan tindakan yang tidak njomplang. Terkadang rasa nyaman timbul tidak begitu saja. Perlu adanya perlakuan, tindakan, dan percobaan yang berulang. Waktu yang dibutuhkan pun tidak hanya satu dua jam, atau satu dua hari, melainkan berbulan-bulan bahkan tahunan. Ketika benar-benar sudah merasakan namun tak bisa menikmati, maka kenyamanan tidak lagi ada. Jadi kenyamanan bukanlah hal yang tabu – tak wujud, namun benar adanya.

Ketika tinggal di suatu tempat dan di situ banyak teman-teman, pasti yang terasa adalah sebuah kenyamanan. Rasa nyaman tersebut timbul karena perlakuan teman yang baik, tempat yang enak, serta fasilitas yang didapatkan sesuai dengan imajinasi yang digambarkan – begitu nyata. Namun saat mendadak berselisih dengan teman yang lain, dan diri merasa terusik, maka kenyamanan bakal hilang. Begitu juga jika tempat sudah tak lagi bersahabat, suasana tak lagi mendukung, serta fasilitas rusak dan tak sesuai dengan imajinasi, rasa nyaman pun bakal hilang seketika. Maka pulang ke rumah adalah salah satu solusinya.

Sama halnya saat bekerja. Kenyamanan akan timbul kalau pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan keinginan; derajat dijunjung; dan gaji berkecukupan bahkan lebih. Apalagi jika rekan dalam satu pekerjaan saling mendukung dan kompak, ditambah bos atau jajaran manajerial sangat dekat dengan karyawan, pasti rasa untuk keluar bakal hilang dan yang timbul adalah kenyamanan yang benar-benar ada.

Bagi wiraswasta, mencari sebuah kenyamanan bukanlah hal yang sulit. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan sesuatu sesuai passion diri sendiri, sesuai hobi, bahkan dari sesuatu yang menurut diri itu pas. Bukan dari yang ada atau mencari yang belum ada melainkan sesuai dengan keahlian diri sendiri. Seorang pencari rumput akan merasa sangat nyaman jika rumput di suatu padang sangat subur dan teramat banyak. Belum lagi jika bawaannya yang seperti karung, arit, dan konsumsi sangat mencukupi. Namun akan sangat terasa tidak nyaman apabila di rerumputan tersebut terdapat binatang liar yang sifatnya mengganggu, juga ketika kelaparan tiba-tiba melanda dan konsumsi yang dibawa tidak sesuai dengan harapan, atau rerumputan tidak subur dan jumlahnya teramat sedikit. Pergi mencari tempat yang lain atau pulang ke rumah lantas tidur telentang adalah obatnya.

Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan di Instagram story, yang tidak lain isinya adalah pertanyaan mengenai sebuah kenyamanan. Dalam story tersebut saya menuliskan, “Lakukan apa yang disukai, jangan (memaksakan) apa yang dilakukan.” Saya ingin mengetahui seberapa jumlah yang menekan tombol “Ya” dan “Tidak”. Waktu itu saya tidak menghitung jumlah yang melihat dan jumlah yang mengikuti survei tersebut. Namun dapat dipastikan bahwa yang mengatakan “Ya” berjumlah 63%, sementara yang mengatakan “Tidak” berjumlah 37%. Itu artinya lebih banyak yang memilih “Ya” ketimbang “Tidak”.

Jika dipikir ulang, melakukan sesuatu yang disukai berarti kita memprioritaskan apa yang dikuasai atau setidaknya mengerti kapasitas diri sendiri. Tidak melampaui batas kemampuan juga merupakan salah satu cara agar tetap nyaman dalam posisi dan tidak terlalu dihadapkan pada risiko. Namun ketika melakukan sesuatu yang tidak disukai dan terus dipaksakan, maka yang terjadi tentu rasa ketidaknyamanan. Seperti saat bekerja, inginnya selalu cepat keluar. Sekalipun sudah dibuat betah dengan berbagai cara oleh atasan, pasti bakal tetap tidak mau bertahan.

Jadi menurut saya, melakukan sesuatu dari yang disukai amatlah penting, sekalipun keadaan belum memungkinkan. Namun bolehlah sesekali mulai mencoba agar perasaan lebih tenang. Dan yang pasti ketika seseorang melakukan sesuatu dari yang disenangi, ia akan auto pilot karena merasa tenang dan nyaman, hati pun tidak gusar ingin keluar dan sebagainya. Tapi apabila sering melakukan sesuatu yang tidak disenangi dan terus memaksa untuk melakukan hal itu, maka yang terjadi adalah ketidaknyamanan. Yang dikhawatirkan adalah ketika sudah merasa tidak lagi nyaman, seseorang bisa bertingkah negatif terhadap pekerjaannya. Membolos, tidak mengerjakan tugas dengan baik, sering keluar sebelum jam istirahat, serta kebanyakan mengerjakan garapan lain ketimbang pekerjaan itu sendiri merupakan beberapa contoh hal negatif tersebut. Jika sudah tidak sehat begitu, maka keluar dari pekerjaan adalah solusi paling tepat.

Masih tentang survei, saya mengadakannya kembali dengan pertanyaan yang berbeda: “Seorang supir akan menyetel tempat duduk ternyamannya sebelum mengemudi.” Maksud dari kalimat itu adalah seseorang akan mencapai suatu tujuan yang bakal auto pilot dengan membuat nyaman terlebih dahulu posisinya agar laju kendaraan terasa nyaman terkendali: penumpang aman dan selamat tanpa merugi; serta lancar dalam mengemudi. Maka kebahagiaan akan tampak semakin jelas. Dari survei tersebut, 27% memilih “Tidak” dan sisanya memilih “Ya”. Namun dari 27% itu adalah akun lain yang saya kelola sendiri. Berarti jelas dalam hal ini semua sepakat 100% menjawab “Ya”.

Selanjutnya, survei yang saya adakan adalah mengenai pasangan hidup. Dalam survei tersebut, saya menuliskan: “Mendapatkan pasangan yang membuat nyaman akan lebih bahagia, ketimbang membuat nyaman kehidupan pasangan.” Di situ lebih banyak khalayak yang mengatakan “Ya” ketimbang “Tidak”, yang artinya mereka semua setuju dengan apa yang saya ketik tentang sebuah kenyamanan dalam menjalin hubungan cinta. Sampai tulisan ini saya buat tepat pada hari Selasa (20/08/2019), survei itu belum sepenuhnya hilang sebab belum mencapai 24 jam.

Dari segala hal yang kita lakukan, perasaan nyaman dan tidak nyaman pasti ada. Boleh saja memilih bertahan pada suatu pekerjaan yang tidak membuat nyaman atas alasan kepepet. Namun ketika rasa jenuh menerpa, hendaknya keluar sejenak untuk sekadar refreshing agar fokus dalam menjalani pekerjaan sanggup tertata kembali. Dengan demikian, kenyamanan akan muncul selagi sendirinya masih bisa menghidupkan hidup di muka Gusti Allah.

Melakukan kegiatan yang membuat nyaman akan lebih indah ketimbang bertahan dalam ketidaknyamanan, sekalipun dari hal terkecil. Jangan takut bila nantinya tidak bisa hidup menghidupi karena sudah ada Sang Pemberi Hidup, yaitu Allah Swt. Dia sudah menentukan rezeki setiap orang yang tinggal bagaimana orang tersebut mau memetiknya. Semakin gemar memetik, semakin banyak pula rezeki yang didapat. Tidak akan habis kecuali tidak mau berusaha dan berdoa.(*)