ILUSTRASI. DOK SATELITPOST

Oleh : Sintya Diar Nugrahaningsih

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Jenderal Soedirman

Sintya Diar Nugrahaningsih

 

Kondisi pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini menjadi perhatian penting bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pasalnya tingkat pendidikan di Indonesia yang rendah berbanding terbalik dengan jumlah penduduk usia produktif yang semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini tentunya memerlukan perhatian pemerintah karena sangat berpengaruh dengan kondisi perkembangan Indonesia kedepannya di berbagai sektor seperti industri dan perekonomian. Banyak kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kedua kementerian ini berfokus pada pembuatan kebijakan untuk memberikan solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi kebijakan tersebut dirasakan masih kurang dalam mengatasi persoalan pendidikan di Indonesia.

Salah satu contoh kebijakan yang memberikan permasalahan baru yaitu penerapan sistem full day school atau efektif belajar 5 hari, sistem ini masih dirasa kurang memberikan solusi karena dinilai terlalu memforsir waktu belajar peserta didik. Permasalahan lainnya yakni sistem zonasi yang dianggap sebagai salah satu upaya pemerataan pendidikan di Indonesia. Seperti yang dilakukan negara maju seperti Jepang yang melakukan sistem zonasi mulai dari sistem penerimaan murid baru yang konon dimulai dari sekolah dasar terlebih dahulu. Ini yang menjadi tantangan Presiden Joko Widodo untuk segera mengatasi permasalahan pendidikan dengan menunjuk menteri yang tepat dalam mengambil kebijakan dan dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Minggu (20/10/2019) lalu, Presiden Joko Widodo resmi melantik sejumlah menteri dalam periode kepemimpinannya yang kedua dalam Kabinet Indonesia Maju. Yang menarik dari pelantikan para menteri tersebut di antaranya ada banyak wajah baru yang melengkapi formasi dalam kementerian kabinet kali ini. Salah satu menteri yang sangat tidak diduga masyarakat Indonesia yakni Nadiem Makarim. Nadiem ditetapkan oleh presiden sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menggantikan Muhadjir Effendy yang telah mengisi posisi Mendikbud pada periode kepengurusan Presiden Joko Widodo yang pertama.

Presiden Jokowi mempercayakan Nadiem mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia yang masih belum selesai. Di satu sisi, masyarakat masih mempertanyakan kemampuan Nadiem yang tidak memiliki background di dunia pendidikan. Seperti yang diketahui, sebelum di angkat menjadi menteri, Nadiem menjabat sebagai CEO dari startup terkemuka di Indonesia yakni Go-Jek.

Nadiem mengakui banyak anggapan miring masyarakat setelah mendapat kepercayaan menjadi Mendikbud. Seperti yang dilansir laman cnbc.com 28 Oktober 2019 lalu, banyak yang mengganggap Nadiem tidak akan membawa perubahan yang signifikan, khususnya pada sektor pendidikan. Namun, dibalik banyaknya pemikiran pesimis masyarakat terhadapnya, justru membuat menteri termuda pada Kabinet Indonesia Maju ini mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk tetap terus melangkah dalam mencapai kesuksesan dan jangan pernah takut gagal dalam mencapai kesuksesan tersebut.

Bahkan seperti yang sudah tercantum pada Peraturan Presiden (Perpres) 72/2019 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa tugas Nadiem sebagai Mendikbud dititik beratkan pada pengembangan SDM pengajar di Indonesia serta inovasinya dalam  sistem pembelajaran di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun tingkat tinggi. Tidak hanya itu, presiden juga berharap Nadiem dapat mengembangkan sektor kebudayaan di Indonesia dengan lebih baik khususnya pada bidang pendidikan di Indonesia.

Sebagai menteri yang berasal dari kalangan milenial tugas dan harapan tersebut bukan suatu kesulitan. Dari sosok milenial muda dengan banyak ide dan inovasi terbarukan ini ada banyak harapan besar akan pendidikan di Indonesia. Harapan pendidikan di Indonesia akan semakin maju dengan sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 ini.

Seperti ide Nadiem dalam membuat startup yang berdasarkan keresahan akan masyarakat Indonesia khususnya di ibukota dengan mobilitas tinggi tapi tidak diimbangi dengan kemudahan dalam inovasi teknologi sehari-hari yang digunakan. Laman cnbc.com (4/11/2019) melansir dari keresahan terbut Nadiem menawarkan sebuah solusi dengan memunculkan aplikasi online bernama “Go-Jek” yang mempermudah pengguna kendaraan umum untuk mendapatkan kendaraannya dengan praktis dan cepat. Dari hal ini teelihat, Nadiem memiliki inovasi teknologi yang dapat memecahkan persoalan yang menjadi keresahan masyarakat milenial pada era sekarang ini. Kita dapat menaruh harapan bahwa dibalik latar belakang Nadiem yang bukan berasal dari kalangan pendidikan namun pasti dapat memberikan inovasi pendidikan bagi kalangan milenial di Indonesia pada era sekarang ini.

Tirto.id (31/10/2019) juga melansir bahwa Nadiem merupakan harapan bagi bangsa Indonesia agar dapat mewujudkan pendidikan yang lebih maju di era keterbukaan seperti sekarang ini dan kualitas pendidikan di Indonesia juga dapat ditingkatkan dengan melalui inovasi sistem pendidikan berbasis teknologi yang dapat dikembangkan oleh Nadiem selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Kami optimis, kehadiran Nadiem merupakan harapan bagi bangsa Indonesia agar dapat mewujudkan kemajuan dan keberhasilan pendidikan di Indonesia,  yang selama ini diharapkan oleh masyarakat pada umumnya dan pada khususnya para pendidik. Kualitas pendidikan di Indonesia juga dapat ditingkatkan dengan melalui inovasi sistem pendidikan berbasis teknologi yang dapat dikembangkan oleh Nadiem selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan kami juga optimis gebrakan dari menteri termuda ini juga dapat mensederhanakan system pendidikan yang selama ini dikatakan rumit. Semoga dengan terpilihnya Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dapat membawa angin segar dalam perbaikan kebijakan pendidikan di Indonesia serta dapat memberikan solusi tepat dan jitu.(*)