Oleh: Dr Hendi SS MTh

Dosen Exegesis PB

STT Soteria Purwokerto

Orang percaya adalah anak-anak Allah yang dilahirkan dari air dan Roh yaitu melalui Baptisan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Ada benih ilahi yang ditanamkan di dalam hati kita. Dan benih itu adalah hasil benih iman kita dan anugerah ilahi yaitu kasih penebusan Kristus atas dosa, kematian, dan Iblis dengan jalan mati disalib, dikubur, dan bangkit dari kematian.

Benih itu adalah diri kita yang baru yang disebut manusia baru atau ciptaan baru di dalam Kristus sehingga kita disebut anak-anak Allah karena Kristus. Benih itu akan bertumbuh menghasilkan buah. Benih itu adalah manusia baru yaitu diri kita yang sejati secara batiniah dan lahiriah. Kita adalah manusia rohani yang terdiri atas manusia batiniah yang telah dihidupkan di dalam baptisan dan manusia lahiriah yang menjadi bait Allah.

Manusia rohaniah atau manusia baru ini sedang membentuk atau memproses baik manusia lahiriah dan batiniah. Ibarat seorang ibu yang mengandung, kata Rasul Paulus kita sedang mengandung sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam diri kita baik secara batiniah dan lahiriah. Secara lahiriah akan memakai tubuh kemuliaan seperti tubuh kemuliaan Kristus. Secara batiniah kita akan menjadi manusia terang yang bercahaya seperti transfigurasi Kristus. Itulah diri kita yang sejati yang sedang dalam bentuk benih ilahi yang harus kita kerjakan atau kelola bersama Roh Kudus agar semakin serupa Kristus (1 Yoh 3:2).

Dan sekarang setiap orang percaya sedang mengerjakan itu untuk menemukan diri kita yang sejati yaitu serupa Kristus. Jiwa/manusia batiniah dan tubuh/manusia lahiriah yang ada di dalam diri kita sekarang telah ditanam benih ilahi sehingga jiwa tubuh kita sekarang sedang dibentuk menjadi serupa Kristus. Serupa Kristus itulah diri kita yang sebenarnya yang sedang berproses menuju ke sana.

Yohanes Pembaptis berkata bahwa aku semakin kecil Kristus semakin besar. Ini artinya dalam hidup ini kita sedang berjuang menemukan diri kita yang lain yaitu mematikan diri kita yang lama dan menghidupkan diri kita yang baru yang serupa Kristus.

Dari gambar Allah berproses menjadi rupa Allah.

Dari benih berproses menjadi buah.

Dari jiwa yang mati menjadi jiwa yang hidup.

Dari daging/tubuh yang fana menjadi daging/tubuh yang mulia.

Dari kefanaan mengalami transfigurasi.

Menanggalkan pakaian lama/manusia lama memakai pakaian baru/manusia baru.

Dari sifat kekanak-kanakan menuju kedewasaan ke arah Kristus.

Dari gelap menuju terang menjadi manusia bercahaya.

Dari manusia duniawi menjadi manusia ilahi atau rohani.

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, kata Rasul Paulus. Dan Bunda Maria adalah contoh perdana yang sempurna. Dia adalah prototipe manusia yang sempurna. Anthony Coniaris menuliskan bahwa Mariam adalah prototipe, contoh bagi kita semua.

Dia adalah yang pertama di antara kita manusia yang menyambut Kristus ke dalam hati dan rahimnya. Dia menghiasi dinding depan gereja karena dia adalah alat di mana melalui Roh Kudus mendatangkan inkarnasi. Dia berdiri di sana di dinding depan untuk mengingatkan orang percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk menerima Yesus sebagai Tuhan, untuk memungkinkan-Nya dilahirkan di dalam kita sehingga, kita juga, seperti dia, dapat menjadi pembawa-Tuhan ke titik di mana kita dapat seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Bukan aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Kehidupan yang sekarang saya jalani dalam daging saya adalah hidup dengan iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan memberikan diri-Nya untuk saya.” Theototos adalah personifikasi dari kesucian manusia.”)

Bapa Gereja Gregory dari Nyssa menuliskan, “Every person is the painter of his own life, and choice is the craftsman of the work, and the virtues are the paints for reproducing the image.” (“Setiap orang adalah pelukis hidupnya sendiri, dan pilihan adalah karya seninya, dan kebajikan adalah cat untuk menghasilkan gambar.”)

Mari kita meneladani Bunda Maria yang menjadi personifikasi dari diri kita yang lain yaitu diri kita yang serupa Kristus.

Penutup

Ketika kita menghadapi pasang surut kehidupan selalu ingat/nepsis bahwa itu adalah laut kehidupan yang bergelora untuk membawa kita semakin serupa dengan Kristus. Naik turunnya hidup adalah dinamika menuju pelabuhan. Pasang surut kehidupan ibarat kapal yang sedang berlayar menuju pelabuhan. Kapal itu adalah diri kita sendiri dengan juru mudinya adalah Nous/Hati kita. Kompasnya adalah Roh Kudus. Laut yang bergelora adalah dinamika hidup di dunia yang naik turun seperti ombak. Dan pelabuhan adalah Allah dan Kristus sebagai labuhan terakhir perjalanan kapal kita.

Mari kita pastikan perjalanan kita dikemudikan oleh hati kita yang dikuasai oleh Roh Kudus sehingga kita sampai pelabuhan terakhir kita yaitu Kristus.

Sebagai aplikasi nyata bagi kita penulis mengutip 9 nasihat praktis dari Bapa Gereja Simeon Sang Theolog sebagai berikut:

  1. Memiliki iman berarti mati untuk Kristus dan untuk perintah-perintah- Nya; percaya bahwa kematian ini membawa kehidupan; menganggap kemiskinan sebagai kekayaan, dan kerendahan hati dan penghinaan sebagai kemuliaan dan kehormatan sejati; percaya bahwa dengan tidak memiliki apa pun seseorang memiliki segalanya (lih. 2 Kor. 6: 9-10) atau, lebih tepatnya, bahwa tidak memiliki apa pun berarti memiliki ‘kekayaan yang tidak dapat ditelusuri’ dari pengetahuan tentang Kristus (Ef. 3: 8); dan memandang semua hal yang tampak seperti sampah dan asap.
  2. Memiliki iman kepada Kristus berarti tidak hanya berdiri jauh dari kesenangan hidup ini, tetapi juga untuk menanggung dengan sabar setiap godaan dan ujian yang membawa kepada kita kesusahan, kesengsaraan dan kemalangan, selama Tuhan menghendaki dan sampai Dia datang untuk kita. “Aku menunggu dengan sabar untuk Tuhan dan Dia mendengarkan aku” (Mzm 40:1).
  3. Mereka yang dengan cara apa pun menghargai orang tua mereka di atas perintah-perintah Allah tidak memiliki iman kepada Kristus (lih. Mat 10:37). Hati nurani mereka sendiri tentu akan menuduh mereka – jika hati nurani mereka masih hidup karena kurangnya kepercayaan mereka. Orang-orang yang memiliki iman tidak pernah melanggar perintah Tuhan dan Juruselamat kita yang agung Yesus Kristus.
  4. Iman kepada Tuhan menghasilkan hasrat akan berkat spiritual dan takut akan hukuman. Keinginan akan berkat-berkat rohani dan rasa takut akan hukuman menyebabkan orang mematuhi perintah-perintah dengan ketat. Mematuhi perintah dengan ketat mengajarkan kita kelemahan kita sendiri. Kesadaran akan kelemahan sejati kita menghasilkan kesadaran akan kematian. Orang yang sadar akan kematian akan berusaha keras untuk menemukan apa yang menantinya setelah kepergiannya dari kehidupan sekarang ini. Tetapi dia yang mencari tahu apa yang akan datang pertama-tama harus melepaskan diri dari hal-hal dunia ini; karena siapa pun yang dibatasi oleh keterikatan, betapapun kecilnya, hal-hal ini tidak dapat memperoleh pengetahuan penuh tentang keadaan paska kematian. Bahkan seandainya Tuhan dalam kemurahan-Nya memberinya sedikit pengetahuan tentang hal ini, itu akan diambil darinya kecuali jika ia dengan cepat menyegel keterikatan duniawinya dan mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk itu, tidak rela memikirkan apa pun yang ada di luarnya.
  5. Penyangkalan dan pemisahan total dari dunia ini – yang mencakup pengasingan diri dari semua hal material, dari cara, sikap, dan bentuk kehidupan sekarang ini, serta penolakan tubuh dan kehendak sendiri – dengan cepat membawa imbalan besar setiap kali itu dilakukan dengan penuh semangat.
  6. Jika kita berniat meninggalkan hal-hal duniawi, jangan biarkan diri kita mendapat bujukan untuk tinggal di dalamnya sementara waktu, bahkan jika semua kerabat dan teman kita mencoba untuk memaksa kita melakukannya. Iblislah yang memprovokasi mereka dengan cara ini untuk memadamkan semangat hati kita; bahkan jika mereka tidak dapat menggagalkan tujuan kita sepenuhnya, mereka akan mencoba mengendurkan dan melemahkannya.
  7. Ketika kita dengan berani tahan terhadap semua kesenangan dalam hidup ini, maka roh-roh jahat akan memberi belas kasihan palsu kepada saudara atau orang-orang di sekitar kita, membuat mereka menangis dan meratap atas kita di depan mata kita.Kita akan menyadari bahwa itu palsu ketika kita berpegang teguh pada tujuan, karena kita kemudian akan melihat mereka tiba-tiba marah dengan kita: mereka tidak akan lagi ingin menatap kita dan akan menolak kita seolah-olah kita adalah musuh.
  8. Pikiran dan masalah duniawi membutakan pikiran, atau mata jiwa, seperti kain yang menutupi mata fisik: selama kita tidak bebas dari mereka, kita tidak bisa melihat. Tetapi begitu mereka disingkirkan oleh kesadaran akan kematian, maka kita dengan jelas melihat cahaya sejati, yang menerangi setiap orang yang mencapai dunia spiritual.
  9. Siapa pun yang mendengar, melihat, dan merasakan melalui kecerdasannya akan mengetahui makna dari apa yang baru saja dikatakan, karena ia sudah memiliki citra yang surgawi (lih. 1 Kor 15:49) dan telah mencapai kedewasaan sempurna yang merupakan kepenuhan dari Kristus (lih. Efe 4:13). Orang seperti itu juga dapat membimbing kawanan domba Allah dengan benar di jalan perintah-perintah-Nya. Tetapi jika seseorang tidak mengerti apa yang telah dikatakan, jelas bahwa organ-organ jiwanya yang perseptif tidak dimurnikan atau dalam kesehatan yang baik, dan akan lebih baik baginya untuk dipimpin daripada memimpin orang lain dengan menanggung risiko.(*)