ilustrasi kidz zaman now

Kita sebagai orang tua di era sekarang banyak yang kewalahan menghadapi pola tingkah laku yang ditimbulkan oleh anak-anak kita, orang tua mengambil sikap keras kepada anak tidak bisa, dibuat halus semakin menjadi jadi, dibiarkan semakin tidak karuan. Mereka bertingkah laku menyerupai orang dewasa, tetapi ketika diberi tanggung jawab tidak bisa. Tingkah laku mereka jika diamati tidak wajar, tidak seperti anak yang sewajarnya pada jaman dahulu. Anak jaman dahulu selalu mengormati orang yang lebih tua, mudah diatur, selalu bertanggung jawab, permainan yang mereka mainkan sesuai dengan umurnya, bertingkah sewajarnya dan apa adanya. Anak-anak di zaman sekarang dengan bangganya mereka menyebut diri mereka dengan sebutan kids zaman now. Lantas apa sebenarnya kids zaman now?

Sebutan “Kids Jaman Now” sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yang digabungkan dengan kata bahasa Indonesia yakni kids (anak) dan now (sekarang). Bermula dari seorang yang iseng memakai kata kids zaman now dan menjadi viral di media sosial. Istilah itu di identikkan dengan karakter anak-anak zaman sekarang yang menurut orang dulu nyeleneh (tak lazim) namun menurut mereka lazim. Jika anak-anak jaman dulu, pendidikan adalah hal yang menjadi idaman banyak orang, bahkan lulus dari suatu lembaga pendidikan sudah dianggap sangat terhormat mereka juga cenderung berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil terbaik dengan usaha sendiri. Namun anak-anak sekarang sangatlah berbeda, dimana mereka telah dimanjakan dengan berbagai kemajuan teknologi. Pendidikan bukan hanya untuk mencari pengalaman dan ilmu yang banyak, namun juga untuk mendapat simpati dan berjuta kagum dari orang banyak. Bahkan dalam mengerjakan tugas mereka selalu saja copy paste dari mbah Google atau dengan cara lainnya. Ungkapan kids zaman now atau anak-anak jaman sekarang adalah julukan yang sering diberikan oleh orang dulu atau bisa disebut anak era 90-an kemudian berkembang sampai anak kecil saat ini yang berperilaku tidak sesuai dengan usianya.

Anak-anak maupun remaja yang umumnya disebut sebagai kids zaman now pada umumnya memiliki ciri yang mudah dipahami, misalnya seperti anak yang “alay” dan juga kelewat narsis. Selengkapnya berikut ciri anak yang dapat disebut sebagai kids jaman now, diantaranya; (1) Mau ngapa-ngapain di foto terlebih dahulu, misalnya mau makan, sedang sakit, lagi galau, lagi nangis, patah hati, langsung jepret dan posting di sosmed. (2) Suka dandan sampai cantik, terus foto selfie, upload ke sosmed, dikasih caption “Abaikan saja” (sok tsundere). (3)  Selalu memakai gadget terbaru, ada produk baru, langsung minta beli sama emaknya. (4) Sering memakai bahasa yang dikata kekinian, seperti bahasa anak zeeber, dan lainnya (anjay, mantap jiwa, mantap kuy, dll). (5) Tongkrongan anak kids jaman now selalu di resto yang ternama, misal di starbak, keefse, dll. (6) Mereka tidak mau nongkrong di warteg, dan sebagainya. (7) kids jaman now, memakai kacamata, behel, dan aksesoris kesehatan lainnya cuma buat gaya-gayaan saja. (8) kemana-mana selalu bawa hp dan cari sinyal wifi, pakaian kids jaman now selalu modis, ketat dan mengumbar aurot. (9) Selalu ikut tren yang sedang viral di dunia maya, misal seperti joget-joget ngak jelas di lampu merah, dll. (10) Masih kecil, masih bocah sudah kenal pacaran, apalagi sambil memanggil papa-bunda, mami-pipi, dan lain sebagainya. (11) haus perhatian, sehingga bergaya dan bertingkah laku yang tidak wajar di luar batas. (12) Sok intelek, padahal nyatanya cuma omong doang.

Kalu kita amati bersama-sama, kids zaman now tingkah lakunya minus dari moral kebaikan dan mengarah pada tindakan kontra produktif yang tidak pantas untuk dilakukanya seusia mereka, seharusnya mereka memikirkan pendidikan dan cita-cita masa depanya yang kian hari kian penuh dengan kompetensi.

Kurangnya Pengawasan

Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan anak-anak salah bergaul dan salah langkah seperti demikian. Penyebabnya adalah modeling yang terjadi di lingkungan membuat anak tersebut meniru apa yang mereka lihat. Peran serta lingkungan sangat memperngaruhi pertumbuhan anak. Kurangnya edukasi yang diberikan orang tua untuk mengembangkan diri si anak dan mengajarkan pengalaman hidup yang positif untuk menambah wawasan si anak. Kurangnya pengawasan orang tua. Banyaknya anak disodori musik atau film yang mendayu-dayu, jadi sudah terbawa emosi sehingga logika tidak berjalan dengan semestinya. Lemahnya iman sang anak yang membuat anak tersebut tidak bisa menolak melakukan hal yang dilarang oleh norma dan agama namun justru dipikiranya hanya membuatnya terlihat keren.

Kita sebagai orang tua, lantas solusi apa yang harus kita lakukan?. Solusinya diantarnya; Pertama, membekali pendidikan agama secara mendalam kepada anak-anak sebagai bekal untuk menghadapi pergaulan yang serba bebas di jaman now. Kedua, selalu tanamkan bahwa pendidikan lebih penting untuk masa depanya, dengan cara memberikan semangat secara terus kentinu. Ketiga, orang tua harus tegas dalam pemberian jam belajar dan jam bermain anak. Dalam memilihkan teman/lingkungan harus selektif dan tegaskan selama sekolah tidak boleh berpacaran. Keempat, selalu memberikan tanggung jawab kepada anak terhadap apa saja yang dilakukannya dan juga selalu memberikan reward dan punishment pada anak.

Kelima, selalu mendorong tentang hobinya. Keenam, orang tua harus lebih cerdas, artinya kita boleh terlahir di jaman jadul, tapi pola pikir kita di atas anak zaman now, dengan cara terus menambah literasi, baik itu digital ataupun  pengetahuan parenting. Dalam mendidik anak kita harus pandai menempatkan emosi, saat dimana kita harus mempertahankan aturan, dan pada saat mana kita harus mengikuti keinginan anak. Ibarat dalam bermain layang-layang, kapan kita harus mengulur, kapan harus disentakkan dan kapan harus ditarik kencang. Ketujuh, harus selalu melindungi anak-anaknya dari intimidasi dan krisis percaya diri karena kekurangan yang dimiliki anak tersebut, dengan cara terus memotifasi untuk menggali kemampuan lain yang dimilikinya. Kedelapan, harus ekstra sabar, sebagai orang tua jaman now kita dituntut untuk ekstra sabar dalam memahami keinginan anak, kita tidak boleh memaksakan kehendak.

Mari kita bersama-sama mengarahkan atau mendidik anak-anak kita yang mengaku kids zaman now dengan penuh perhatian dan selalu mengarahkan ke arah yang positif dengan situasi yang kontinyu, jangan ketika mereka ada masalah saja diperhatikan tetapi dalam kondisi apapun yang terjadi pada anak. Anak merupakan amanah dari Tuhan yang harus kita jaga, anak baik dan tidak baik tergantung pada pola asuh dari orang tuanya. Ketika anak sukses kita sebagai orang tua yang bangga, akan tetapi anak tidak sukses kita juga yang menikmati pahitnya.