Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Bencana UMP Ketua Muhamadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) UMP, Karma Iswasta Eka

Hari Jumat tanggal 26 April merupakan Hari Kesiapsiagaan Bencana yang gaungnya diharapkan berlangsung secara nasional. Imbauan dari permerintah terhadap pergguruan tinggi maupun sekolah sudah disampaikan jauh hari sebelumnya terkait dengan HKB ini. Himbauan untuk melaksanakan kegiatan terkait HKB seperti apel kesiapsiagaan,simulasi bencana, latihan evakuasi mandiri atau kegiatan-kegiatan lainnya. Mengapa kita harus siap siaga bencana ?

Indonesia merupakan negara yang rawan akan terjadinya bencana alam. Berdasarkan perspektif geografi, geologi, klimatologi, dan demografi, Indonesia menempati peringkat ke 7 sebagai negara paling rawan akan risiko bencana alam (UNESCO). Berdasarkan data BNPB Tahun 2017, tercatat 2.163 kejadian bencana alam di Indonesia dengan rincian korban meninggal sebanyak 264 jiwa, korban luka sebanyak 1.018 jiwa dan korban mengungsi sebanyak 3.220.739 jiwa. Bencana alam juga menyebabkan rusaknya fasilitas umum dengan rincian fasilitas kesehatan 99 unit, fasilitas peribadatan 524 unit dan fasilitas pendidikan 1.146 unit.Salah satu upaya pencegahan yang paling efektif untuk mengurangi dampak risiko bencana adalah dari sektor pendidikan.Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk membentuk karakter siswa melalui penanaman pengetahuan dan keterampilan.Pendidikan adalah hal yang fundamental dalam membentuk karakter generasi bangsa (Rizaldi,2018). Salah satu potensi bencana paling sering terjadi di Indonesia adalah yang berkaitan dengan gempa dan dampak ikutannya.

Indonesia berpottensi besar terkena bencana karena Indonesia berada di jalur cincin api dan berada diantara 2 samudera, 2 benua dan lempeng tektonik. Hal ini yang menyebabkan di Indonesia hampir tiap hari terjadi gempa baik kecil maupun besar. Pada saat tulisan ini mulai dibuat saja,tanggal 13 April dari jam 08.00 sampai 19.00 telah terjadi 10 kali gempa dengan kekuatan 4.0 – 6.7 di Sumbawa Selatan, Sulawesi Utara (2 kali), Halmahera dan Kepulauan Sangihe dan terbesar di Sulawesi dalam area yang sama terjadi 5 kali gempa dengan kekuatan terbesar 6,7 (sumber EartquakeApp). Selain bencana yang bersumber dari gempa,yang salah satunya bisa menimbulkan tsunami,Indonesia juga terancam dengan banjir dan tanah longsor, serta gunung meletus. Banyaknya potensi bencana tersebut ternyata selama ini kurang terperhatikan dengan baik,khususnya dalam hal kesiap siagaan bencananya. Hal ini sebagai akibat bidang pendidikan belum tergarap dengan baik. Hal ini yang menjadi penyebab setiap terjadi bencana di Indonesia korban manusia cukup banyak. Kondisi yang ada diIndonesia tersebut berbeda dengan Jepang. Bencana yang terjadi di Jepang sangat sedikit menimbulkan korban jiwa karena masyarakat Jepang sudah siap untuk menghadapi bencana yang sering terjadi. Oleh karena itulah Pemerintah Indonesia mulai melakukan pendidikan kesiapsiagaan bencanauntuk sekolah dan perguruan tinggi secara intensif mulai 2 tahun terakhir dan direncanakan masuk dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi mulai tahun 2019.

Sesuai dengan tema tahun ini yang diusung HKB 2019  adalah “Kesiapsiagaan Dimulai dari Diri, Keluarga dan Komunitas”, karena belajar dari beberapa pengalaman bencana yang sangat jelas bahwa faktor yang paling menentukan adalah penguasaan pengetahuan penyelamatan yang dimiliki oleh “diri sendiri”, keluarga dan komunitas di sekitarnya. Oleh karena itu pendidikan siap siaga bencana harus dimulai sejak dini,khususnya dari lingkungan sekolah mulai dari TK, selain sosialisasi yang terus menerus pada masyarakat. Rangkaian kejadian bencana yang terjadi di beberapa negara menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak berisiko meninggal 14x lebih besar dari pria dewasa (Peterson, 2007). Pada kejadian Cyclone di Bangladesh pada 1991 yang berdampak pada korban jiwa dengan keadaan 90% dari korban tersebut adalah perempuan (Ikeda, 1995), badai Katrina di USA menunjukkan bahwa sebagian besar korban adalah ibu-ibu Afro American beserta anaknya, dan pada kejadian Tsunami Aceh 2004 banyak ibu yang meninggal bersama dengan anaknya.

Meskipun pada beberapa kejadian bencana menunjukkan bahwa perempuan memiliki kerentanan yang lebih besar, namun di sisi lainnya perempuan memiliki peran yang strategis dalam penanggulangan bencana, khususnya dalam membangun kesiapsiagaan bencana di tingkat keluarga. Perempuan dalam hal kebencanaan, yakni sebagai orang paling terdampak ketika terjadi bencana namun juga memiliki peran yang sangat penting dalam menyelamatkan keluarga dan mendidik anak-anak tentang kebencanaan. Peran perempuan sangat efektif dalam mentransfer pengetahuannya terhadap generasi berikutnya. Perempuan bisa memberikan usulan terhadap perubahan untuk pengurangan risiko bencana dan memperkuat ketahanan komunitas.

Bagaimana dengan anak-anak ? Mereka mempunyai potensi yang sama dengan kaum perempuan, oleh karena itu mereka juga membutuhkan pendidikan siap siaga bencana yang diberikan di sekolah,apalagi mereka belum tentu mendapatkan pengetahuan siaga bencana di lingkungan keluarga. Dalam hal ini Kegiatan HKB bertujuan untuk membangun kapasitas semua pihak, sehingga sebelum latihan perlu diberikan sesi edukasi untuk mengenal ancaman/potensi bencana di sekitarnya, dengan memahami risiko yang diharapkan dari semua level, mulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga sampai yang lebih luas yaitu komunitas. Sesuai tema yang diusung pada Kegiatan Hari Kesiapsiagaan Tahun 2019, para pemangku kepentingan juga mendorong setiap keluarga memiliki rencana kesiapsiagaan bencana,apalagi yang bergerak di bidang pendidikan, misalnya melaksanakan sekolah siaga bencana.

Salah satu pendidikan siaga bencana yang sudah dijalankan adalah melalui Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang merupakan program yang berbasis sekolah dalam rangka membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di Indonesia melalui pendidikan. Program ini bertujuan menggugah kesadaran seluruh unsur, baik individu maupun kolektif, di sekolah dan lingkungan sekolah agar memahami dan siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi. Sekolah Siaga Bencana dicanangkan secara nasional oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana terkait tingginya frekuensi bencana dan banyaknya potensi bencana di Indonesia. BNPB di awal launching Sekolah Siaga Bencana sudah menetapkan beberapa sekolah yang ditunjuk yang memenuhi kriteria sebagai sekolah percontohan. Ada beberapa syarat minimal untuk dapat menjalankan program sekolah siaga bencana di Indonesia. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut. A) memiliki komitmen dari kepala sekolah dan komunitas sekolah. B) mendapat dukungan dari dinas pendidikan di wilayahnya. C) memiliki dukungan dari organisasi terkait pengurangan risiko bencana. D) melakukan penguatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan bagi guru dan siswa sekolah. E) melakukan latihan berkala yang jelas dan terukur. F) melibatkan dukungan terus-menerus dari dinas pendidikan dan organisasi terkait penanggulangan risiko bencana (PRB), termasuk dalam proses pemantauan dan evaluasi sekolah.

Melihat implementasi yang sudah berjalan dan masih minimnya keterlibatan dunia pendidikan dalam membangun masyarakat (dalam kapasitas level pendidikan apapun) yang siaga bencana maka pada tahun 2019 ini diharapkan ada penyebarluasan sasaran program dan keterlibatan berbagai pihak, khususnya dunia pendidikan dalam mengimplementasikan masyarakat siaga bencana. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan memasukan program siaga bencana dalam kurikulum, baik pada tataran bawah maupun pada leveel perguruan tinggi. Dengan pelibatan semua unsur pendidikan dalam penyadaran warga melalui kurikulumwajib,diharapkan semua warga Indonesia kedepannya sudah siap dengan risiko bencana yang ada,sehingga akan bisa menekan angka korban jiwa jika terjadi bencana di Indonesia, di wilayah manapun.

Masyarakat Indonesia di masa yang akan datang sudah siap dengan bencana yang mungkin di alami setelah sosialisasi melalui kurikulum benar-benar diterapkan dalam bidang pendidikan melalui kurikulum siap siaga bencana, sehingga jika sewaktu-waktu terjadi bencana maka korban yang ditimbulkan akan dapat diperkecil. Contoh sederhana bagaimana masyarakat belum siap dengan bencana,misal gempa adalah setiap terjadi gempa yang dilakukan masyarakat untuk penyelamatan justru hal yang seharusnya tidak  dilakukan seperti berlari menuruni tangga pada saat gempa. Siap siaga bencana melalui kurikulum adalah salah satu antisipasi memperkecil korban melalui kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, dan Indonesia adalah daerah rawan bencana. Semoga program ini betul-betul dapat dijalankan dengan baik sehingga Indonesia bisa juga seperti Jepang yang termasuk daerah rawan bencana tetapi dengan korban terkecil. (*)