Oleh: Sri Haryani SPd

                                     Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Punggelan

 

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat dua kompetensi berbahasa, yaitu kompetensi berbahasa yang bersifat reseptif dan produktif. Kompetensi berbahasa yang bersifat reseptif terdiri atas mendengarkan dan membaca, sedangkan yang bersifat produktif terdiri atas berbicara dan menulis. Kedua kompetensi reseptif dan produktif tersebut dapat berupa sastra maupun nonsastra. Salah satu keterampilan menulis sastra yang bersifat produktif yang diajarkan di SMP yaitu menulis puisi. Menulis puisi adalah kegiatan mengekspresikan hasil pemikiran melalui imajinasi secara tertulis.

Dalam Kurikulum 2013 (Permendikbud No. 24 tahun 2016) disebutkan bahwa salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SMP kelas VIII adalah menyajikan gagasan, perasaan, dan pendapat dalam bentuk teks puisi secara lisan dan tulis dengan memerhatikan unsur-unsur pembangun puisi. Dampak dari kurikulum tersebut adalah bahwa siswa SMP dituntut untuk dapat menulis puisi dengan baik dan benar.

Namun kenyataan di lapangan tidak semua siswa SMP dapat menulis puisi dengan baik dan benar. Contohnya peserta didik kelas VIII di SMPN 1 Punggelan kemampuan menulis puisinya masih rendah yaitu nilai rata-rata baru mencapai 60,4  dan peserta didik yang lulus KKM (nilai mencapai 66) sebesar 35,71 persen (10 orang) dari 28. Hal itu menunjukkan bahwa materi menulis puisi masih sulit bagi peserta didik.

Rata-rata peserta didik mengalami kesulitan dalam menentukan tema, sulit memilih diksi, sulit menggunakan kata kongkret/citraan, sulit menggunakan kata-kata bermajas, dan amanat yang hendak disampaikan belum tersirat secara jelas. Kesulitan-kesulitan tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal (peserta didik) dan eksternal (guru). Faktor internal yaitu rendahnya motivasi dari dalam diri peserta didik karena merasa tidak bakat dn tidak mampu menulis puisi. Selain merasa tidak bakat, rendahnya motivasi peserta didik dapat disebabkan oleh guru yang kurang mampu memilih strategi dalam pembelajaran menulis puisi. Guru terkesan monoton, karena metode yang digunakan hanya sebatas ceramah dan pemberian contoh puisi tanpa menggunakan media yang tepat.

Untuk mengatasi masalah tersebut guru dapat menggunakan model dan media pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik agar dapat menemukan ide yang kretif. Salah satu model yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi yaitu model sinektik dengan media tomjeri. Model sinektik (seni meningkatkan kemampuan berpikir kreatif) terkenal dengan model Gordon. Gordon  mengemukakan bahwa sinektik adalah strategi mempertemukan berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan. Gordon   menggagas model sinektik berdasarkan empat gagasan tentang kreativitas. Pertama, Kreativitas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, proses kreatif  bukanlah sesuatu yang misterius tetapi dapat dipelajari. Ketiga, penemuan hal kreatif pada hakikatnya sama dalam berbagai bidang dan ditandai oleh proses intelektual yang melatarbelakanginya. Keempat, Penemuan yang kreatif dari individu dan kelompok pada dasarnya serupa (Joyce, Weil, & Calhoun, 2011:252). Tujuan model  sinektik yang dirancang oleh Gordon sebagai rangsangan  langsung untuk berpikir kritis. Model Sinektik menekankan pada kekuatan pola berpikir analogi dan metaforik.

Selain model pembelajaran, seorang guru memerlukan sebuah media yang dapat membantu  siswa dalam memahami materi pelajaran. Media yang merupakan alat peraga/perantara perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam penggunaannya. Media hendaknya dapat menarik perhatian siswa sehingga siswa lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Adapun media yang digunakan yaitu media tomjeri (tomat, jeruk, dan stroberi). Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Tomjeri  (replika tomat, jeruk, dan stkroberi) adalah benda tiga dimensi yang berwujud tomat, jeruk, dan stroberi yang  sangat menyerupainya sebagai sarana untuk berimajinasi. Selain replika, buah asli tomjeri ( tomat, jeruk, dan stroberi) juga digunakan dalam pembelajaran tersebut untuk memperoleh kata-kata baru.

Adapun cara penerapan model sinektik dengan media tomjeri dalam menulis puisi adalah sebagai berikut. Pertama, peserta didik diminta mengamati media tomjeri dengan cara melihat, meraba, mencium, dan merasakan. Kedua, masing-masing kelompok  mendata kata-kata sesuai dengan objek yang diamati. Ketiga, peserta didik membaca contoh-contoh tema dan kata-kata berdasarkan ilustrasi. Keempat, peserta didik berdiskusi kelompok menentukan tema puisi berdasarkan  media tomjeri. Kelima, peserta didik menyusun kata-kata menjadi baris-baris/syair puisi dengan menganalogikan tomjeri secara langsung dengan fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan. Keenam, peserta didik menyusun baris-baris puisi menjadi draf puisi. Ketujuh, peserta didik menyunting draf puisi sesuai dengan tema, pilihan kata, hubungan antar baris, rima, kata konkret atau citraan. Kedelapan, peserta didik menyusun draf puisi yang telah disunting menjadi teks puisi yang utuh.

Pembelajaran menulis puisi dengan media tomjeri berlangsung menyenangkan dan tidak monoton. Peserta didik juga terlibat aktif dan kreatif sehingga pembelajaran tidak membosankan. Suasana pembelajaran yang menyenangkan berdampak positif bagi siswa. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, setelah menggunakan media tomjeri terbukti dapat meningkatkan kompetensi menulis puisi. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil tes menulis puisi yang semula nilai rata-rata hanya 60,4 dengan ketuntasan belajar 35,71 persen kemudian pada siklus I nilai rata-rata meningkat menjadi 67,7 dengan ketuntasan belajar 64,29 persen, dan pada siklus II nilai rata-rata menjadi 82,1 dengan ketuntasan sebesar 92,86 persen.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media tomjeri (tomat, jeruk, dan stroberi) melalui model sinektik dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas peserta didik dalam menulis puisi. Selain itu juga dapat meningkatkan hasil tes menulis puisi. Jadi secara umum media tomjeri dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi peserta didik SMP. Dengan demikian guru dapat menggunakan media tomjeri (tomat, jeruk, dan stroberi) melalui model sinektik sebagai media alternatif pembelajaran menulis puisi.(*)