SUPIYAH SPd, Guru SMPN 1 Punggelan

Dalam penyampaian ilmu pengetahuan terdapat dua elemen penting yaitu pengajaran dan pembelajaran. Ilmu tanpa pengajaran dan pembelajaran yang sepadu antara aspek fisikal dengan spiritual tidak mungkin dapat memberi kesan yang optimal terhadap para peserta didik. Namun, sistem pendidikan sekarang dilihat kurang memberi penekanan terhadap penerapan amalan-amalan kalbu dalam pengajaran dan pembelajaran. Hal ini menyebabkan ilmu hanya sampai ke akal, namun tidak meresap masuk ke dalam hati pelajar. Sebagai akibatnya, pengetahuan yang diperoleh tidaklah sempurna (Muhammad Syukri Salleh, 2013:xvii). Jurnal ‘Ulwan ‘Ulwan’s Journal Jilid 1 2017 : 19-42 21. Oleh sebab itu, penerapan amalan kalbu dalam pengajaran dan pembelajaran perlu dilaksanakan. Pengajaran dan pembelajaran yang diterapkan amalan kalbu ini merupakan satu pendekatan yang sangat wajar digunakan dalam setiap proses pengajaran dan pembelajaran pada abad-21 ini.

Hal ini didasarkan pada dua sebab utama. Pertama, pengamalan amalan kalbu adalah salah satu dari pembuktian ketaaatan dan perhambaan kepada Allah SWT (Syeikh Abu Malik Al-Sayid Salim, 2009:6); Kedua, pengamalan amalan kalbu akan memberikan manfaat dan kesan positif terhadap pembangunan spiritual insan (Aerisuli Awang, 2011:24). Persoalannya, apakah konsep pengajaran dan pembelajaran dan konsep amalan kalbu dapat dilaksanakan? Bagaimanakah amalan kalbu dapat diterapkan dalam pengajaran dan pembelajaran sehingga menghasilkan konsep pengajaran dan pembelajaran berteraskan amalan kalbu? Secara umumnya, pembahasan ini berfokus kepada tiga bagian utama. Pertama, membincangkan konsep pengajaran dan pembelajaran. Kedua, membincangkan konsep amalan kalbu; dan ketiga membina konsep pengajaran dan pembelajaran yang berteraskan amalan kalbu.

Dalam sebuah proses pembelajaran seorang pendidik tidak lepas dari pendekatan pembelajaran guna mencapai tujuan pada setiap pembelajaran atau tatap muka. Pendekatan (approach) menurut Ahmad Rivauzi (2015: 184) dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama dilihat dalam konteks pandangan yang menempatkan pendidikan sebagai sebuah kejadian proses yang di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode dan proses pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Sehingga dalam perspektif ini pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap kejadian proses pendidikan tersebut. Kedua, pendekatan yang diartikan dalam perspektif proses mendekati sebuah objek atau diartikan dengan come near (menghampiri), go to (jalan ke), dan way path (jalan). Dalam pengertian ini, pendekatan diartikan sebagai cara menghampiri atau mendatangi sesuatu.

Di dalam merencanakan pembelajaran hendaknya tidak meninggalkan pendekatan kalbu karena dengan pendekatan kalbu, manusia akan dilatih untuk mengikat diri dengan teguh terhadap peraturan dan mempertahankan integritas kehidupan sehari-hari. Kebiasaan, kehormatan, dan harga diri sangat terkait dengan kejujuran. Pendekatan kalbu akan membentuk manusia mempunyai sifat positif dan negative yang dapat dikelola dan dikembangkan menjadi hal-hal yang dahsyat dan luar biasa untuk kemajuan. Manusia pada kodratnya diciptakan oleh Allah dengan sifat dasar baik dan buruk. Manusia mempunyai daya  pikir (akal), daya rasa (kalbu) dan daya mau (nafsu) yang tidak dipunyai makhluk lainnya.

Hal penting bagi seorang guru adalah tidak hanya mengajar tetapi menjadi contoh bagi anak didiknya. Maka dari itu, guru harus mendengarkan suara hatinya agar dalam proses pembelajaran terjalin interaksi yang menyenangkan antara guru dengan peserta didik. Dengan demikian guru mempunyai peranan penting dan menentukan dalam proses pembelajaran yang dimulai dengan matangnya rencana pembelajaran dengan memberi peluang peserta didik aktif.

Dari pendekatan pembelajaran selanjutnya diturunkan dalam strategi pembelajaran. Strategi dalam dunia pendidikan diartikan sebagai plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J.R David: 1976). Dapat diartikan bahwa strategi berarti perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih efektif dan berhasil guna.

Sedangkan metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun. Jadi metode juga dapat diartikan sebagai cara merealisasi strategi pembelajaran. Sedangkan teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan metode. Menurut Ahmad Suderajat, apabila pendekatan, strategi, metode, teknik pembejaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah model pembelajaran. Sehingga model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang harus mencerminkan pembentukan karakter dalam proses pembelajaran .

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, jelaslah bahwa guru mempunyai peranan sangat penting dalam pembentukan kepribadian dan intelektual peserta didik. Imam Al-Ghazali menggambarkan mulianya pekerjaan mengajar yang diumpamakan seperti matahari. Matahari adalah sumber cahaya yang dapat menerangi bahkan memberi kehidupan, karena dengan ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi terang baginya yang benar dan salah. Derngan demikian guru diharapkan mampu memiliki sikap ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun karsa, membangkitkan semangat dan kreativitas dan di belakang memberi motivasi, mengawasi, dan mengayomi. Dengan berpegang pada hal tersebut di atas maka akan menciptakan peserta didik yang mempunyai karakter.

Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman untuk mewujudkan hal tersebut proses pembelajaran diharapkan dapat mengimplementasikan pembelajaran abad-21. Pembelajaran abad-21 harus mencerminkan empat hal, yaitu pertama comunication. Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari  pendidiknya.

Kedua, collaboration. Pada karakter ini peserta didik menunjukkan kemampuan dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan orang lain, menempatkan empati pada tempatnya dan menghormati perspektif yang berbeda. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.

Ketiga, critical thinking and problem solving. Pada karakter ini peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antar sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan mandiri, peserta didik juga mampu menyusun dan mengungkapkan, menganalisis serta menyelesaikan masalah.

Keempat, creativity and innovation. Pada karakter ini peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada orang lain, bersikap terbuka dan responsive terhadap perspektif baru yang berbeda. Peran guru dalam pembelajaran hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap peserta didik dalam belajar, karena setiap peserta didik adalah unik.