Oleh: Agus Triawan Penggiat Kajian Agama dan Pendidikan Islam, Tinggal di Banjarnegara
Oleh: Agus Triawan Penggiat Kajian Agama dan Pendidikan Islam, Tinggal di Banjarnegara

Pendidikan mengharuskan adanya interaksi antara pendidik dan anak didik. Terutama untuk mencapai tujuan tertentu  dalam pendidikan,  tentunya adanya upaya sadar dari kedua belah pihak. Terutama dari pendidik yang berusia dewasa, interaksi pendidikan tidak hanya terjadi dalam dunia lembaga pendidikan formal di sekolah ataupun madrasah tetapi dalam semua sistem kehidupan. Dimulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat, semua saling terkait dengan pendidikan.

Pendidikan di era kekinian, melihat tingkah laku generasi anak didik (manusia muda) maka masyarakat dan para tokohnya mulai melirik dan lebih perhatian dengan pendidikan karakter. Dalam Islam disebut dengan akhlak mulia atau akhlaqul karimah. Karena teringat ada sabda nabi  Innama Bu’itstu liutamimma makaarimal akhlaq, Sesungguhnya aku diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sampai mengharuskan penerapan kurikulum terbaru yang menitik beratkan pendidikan karakter.

Alih-alih yang dimaksud adalah pendidikan budi pekerti, tapi pada pelaksanaan justru sang pendidik sibuk dengan administrasi kurikulum versi terbaru, sehingga pengelolaaan anak didik dan perhatian dalam dunia nyata seolah terabaikan. Guru mata pelajaran fokus pada pengolahan nilai anak didik dan wali kelas juga tidak kalah konsentrasi menerima nilai dari guru mata pelajaran yang akan dimasukkan ke dalam daftar nilai rapor.

Dunia zaman sekarang adalah dunia impian masa lampau, masa nenek moyang kita. Begitu juga kita yang hidup zaman sekarang mempunyai cita-cita yang tinggi untuk masa mendatang. Pasti cita-cita yang positif dan setinggi mungkin. Generasi muda kita adalah harapan kita. Pemandangan indah akan karakter, sifat, tabiat dan tingkah laku positif dari anak-anak zaman sekarang, sangat memuaskan hati kita para orangtua. Akhlak karimah dan terpuji dari para remaja, mengucapkan salam, saling sapa dan tegur, saling menolong, ramah, disiplin, optimistis, menghormati orangtua dan guru, sopan dan sejenisnya adalah kebanggaan kita orang timur dan sesuai dengan peradaban agama apapun itu.

Tetapi sebaliknya apabila, apabila kita mendapati generasi muda kita yang berakhlak tidak baik, tidak etis, suka kebut-kebutan motor, tidak ramah, sombong, tidak suka senyum dan sapa, sama orangtua tidak etis dan sejenisnya maka ada rasa risi, kecewa dan mengelus dada. Terlebih lagi bagi orangtua yang mempunyai anak secara langsung dan seorang guru yang mempunyai murid seperti itu.

Maka di zaman modern ini kita membutuhkan sosok yang bisa dijadikan panutan, teladan dan contoh dalam kehidupan. Sebagai seorang Muslim, tokoh yang patut dijadikan teladan adalah nabiyullah Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: “Sungguh telah ada Suri Tauladan yang baik pada diri Rasulullah SAW bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (QS Al Ahzab/33: 21).

Hidup ini penuh dengan peniruan. Disadari ataupun tidak seseorang meniru karakter, tabiat dan sepak terjang orang sekitar dan idola yang dimilki. Orang yang berhati keras, karena pendidikannya dulu adalah keras, orang yang berhati lembut karena pendidikan yang dilaluinya juga lembut. Memang ada perkecualian. Tapi ini adalah umumnya.

Untuk mencapai generasi yang saleh tentunya dibutuhkan guru yang sholeh. Yang berusaha mempraktikkan akhlak nubuwwah. Senantiasa memperbaiki diri sebagai seorang guru yang akan dicontoh oleh orang lain. Siapa guru itu? Jawabnya adalah Kita semua, karena kita adalah saling meniru dan saling berguru satu sama lain. Guru bukan hanya di sekolah atau madrasah, tapi guru adalah pengejawantahan dari perilaku kenabian. Perilaku yang bisa dijadikan teladan.

Sebagai muslim yang baik, tentunya mengilmui dan mengamalkan ajaran Islamnya dengan baik. Seperti bertauhid dengan benar, yang akan menghasilkan ejawantahan tauhid itu, serti pola ibadah, etika dan pergaulan dengan sesama yang tergabung dalam etika muamalat sesama makhluk hidup.

Orang yang bertauhid akan berakhlak karimah dan beribadah dengan baik. Karena dia takut akan Tuhannya. Beramal sholeh bukan karena pamrih akan raport yang dibuat oleh manusia, seperti dalam dunia persekolahan. Dia belajar karena akan ada penilaian akhir semester, penilaian harian dan sejenisnya yang endingnya dia menghendaki nilai tinggi di rapotnya, setelah penilaian selesai, selesai sudah belajarnya. Bukan seperti itu pelajar yang bertauhid, dia belajar karena Allah, mengharap ridho Ilahi. Maka ulangan dan penilaian bukanlah akhir dan ending dalam belajar. Tapi bagaimana bisa menjalani kewajiban Allah untuk menuntut ilmu yang dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan nanti. Sehingga langkah-langkah yang dijalankan juga berusaha dengan cara yang terpuji dan halal. Tidak  yang diharamkan seperti mencontek dan bekerja sama.

Hal yang sama juga terkait dengan profesi lain, semisal pedagang,  petani,  pegawai atau apapun yang bertauhid maka akan berusaha beribadah dan beramal sesuai denagn norma Islam dan semua norma yang tidak bertentangan dengan syariat. Karena ketika bertentangan dengan syariat tetap dilanggarnya maka ancamana Allah akan menuju kepadanya. Na’zubillah.

Secara tidak sadar sebenarnya dalam lingkup keluarga, orang tua adalah guru bagi anak-anaknya. Karena ada proses peniruan bagi sang anak. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat, setiap kali bertemu, berdialog, bergaul dan bekerja sama antara orang tua dan anak. Maka betul dalam pepatah dikatakan  “Al Ummu Madrasatul Ula Wal Aula, Ibu adalah madrasah pertama dan utama”. Tempat menggali ilmu bagi sang anak. Moralitas sang ibu dan bapak sebagai orang tua menjadi kunci bagi pendidikan anaknya. Walaupun ada perkecualian kasuistik yang berbeda.

Figur Rasulullah SAW sebagai sang teladan dan tokoh yang tidak pernah salah (ma’shum)  maka perlu dikenalkan sejak dini. Sebagian generasi zaman now lebih kenal dengan artis atau bintang pujaannya yang dikenalkan lewat media massa, bila dibandingkan dengan tokoh kanjeng nabi, apalagi para istri dan tokoh para sahabat.

Pendidikan budi pekerti bukanlah pendidikan yang hanya untuk pengetahuan (to know) saja. Tapi merupakan pendidikan amaliyah. Pendidikan yang perlu diaplikasikan, diejawantahkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan pendidikan di atas kertas diujikan secara kognitif,  secara pengetahuan oke dan bagus, mengetahui bahwa menghormati kedua orang tua dan guru adalah suatu keharusan. Tapi dalam tataran aplikatif, tidak pernah menghormati kedua orang tuanya sendiri. Maka belum berhasillah pendidikan yang seperti itu. Tidak perlu menyalahkan siapapun, maka marilah kembali mencontoh kepada kepada Rasulullah sebagai teladan yang sudah dijamin oleh Allah Tuhan seru sekalian alam, sebagi tokoh panutan yang dijamin masuk surga.

Robbana Aatina Fid dun-ya khasanah wafil akhirati khasanah waqina ‘adzabannar. Semoga kita semua diberi kebahagiaan di  dunia dan di akhirat. Amin.(*)