Penampilannya seperti anak-anak milenial kebanyakan. Mukanya cantik seperti penyanyi-penyanyi K-Pop, meski dia laki-laki. Di waktu senggangnya ia adalah maniak game. Tapi game hanyalah hobi, dan ia paham betul sebatas mana harus memanfaatkannya. Mungkin ia adalah salah satu sosok millennial native yang mampu beradaptasi dengan sangat baik di dunia milenialnya. Hasilnya ia bertumbuh dan menjadi dewasa dalam ritme digital, dengan mengambil keunggulan-keunggulan dari domain digital itu.

Dia adalah Tsabit Fiddin, yang makna literalnya adalah “teguh dalam keimanan Islam”. Dengan mudah teman-temannya memanggil “Sabit”, sementara rekan-rekan profesionalnya memanggil dengan penuh hormat “Mas Avit”. Saya sendiri memanggil dengan singkat, “Bit”.

Sabit masih duduk di bangku kuliah, baru mau masuk semester 5, Prodi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Pagi itu, saya bertemu di kampus. Dengan jaket beludru kuning baru, dan menenteng 3 gadget yang bolak-balik masuk tas hitamnya yang terlihat masih baru.

Dua hape ukuran besar dan satu tablet yang cukup lebar. Sabit melayani konsumen dan kliennya yang bertanya mengenai “robot” yang ia buat. Anak muda ini mengontrol 200an akun yang dikendalikan dengan robot yang ia kreasikan. Robot itu adalah aplikasi yang berfungsi sebagai fund manager—memilihkan komoditi investasi yang tepat secara real time.

“Mumpung libur, kemarin saya baru ikut acara di Singapura,” ia mulai membuka cerita tentang acara yang  baru ia ikuti. “10 hari di sana. Pesertanya dari seluruh dunia. Dan saya bersama 3 anak Indonesia lain,” jawabnya saat ditanya lebih lanjut. “Acara apa itu, Mas?” Saya mencoba menelusuri. “Asean Youth Community 2019. Yang ngumpul adalah anak-anak muda yang sudah berperan banyak bagi masyarakatnya. Keren-keren Pak…” Saya percaya karena event itu sampai tampil di halaman depan The Strait Times, yang merupakan surat kabar ternama di Singapura.

“Bagaimana situasi bisnis, Mas?” Saya sengaja mengalihkan pembicaraan untuk hal yang lebih esensial. Acara itu juga keren sebenarnya, dan patut digali. Sabit mengikuti acara tersebut secara mandiri—termasuk biaya yang tidak sedikit. Tetapi angka itu tidaklah berarti bagi dirinya sekarang ini. “Lagi bagus banget Pak, Alhamdulillah. Aplikasi itu setelah saya uji dan gunakan sendiri, kinerjanya sangat konsisten,” dengan penuh semangat Sabit menjelaskan. Dari rona mukanya, tampaknya ia sedang on fire dengan bisnisnya. “Setelah itu, saya tawarkan lewat IG dan medsos yang lain, responsnya di luar dugaan. Sangat luar biasa. Sekarang saya patok harganya jadi Rp 7,5 juta per akun. Konsisten tiap minggu hampir tidak kurang 10 akun yang terjual.”

Saya melongo mendengar harga yang dikalikan jumlah penjualan aplikasi itu. Wajar saja Sabit harus bekerja dengan 3 gadget yang lumayan mahal harganya. Selain lifestyle milenial, perangkat itu adalah sarana utama dari bisnis yang ia jalani—di samping untuk hobi nge-game itu. Saya tidak bertanya lebih lanjut soal income, takut makin jealous. Sebagai teman senior, saya hanya mengingatkan untuk menjaga gaya hidup, dan mulai memikirkan investasi yang lebih langgeng. Termasuk juga tentang menjaga hubungan akrab dengan yang di atas dengan sedekah. Ternyata teguran saya salah sasaran, karena Sabit sudah mendaftarkan haji untuk diri dan kedua orang tuanya. Termasuk niat yang bulat untuk kurban sapi di Iduladha tahun ini.

Makin melongo saya dan malu karena yang dinasihati sudah sangat matang menjadi pebisnis yang penuh visi. Alhamdulillah, doa orang tua Sabit –melalui nama yang diberikan- ternyata Allah kabulkan dengan sempurna. Kami tunggu kontribusimu untuk menginsipirasi banyak milenial bangsa ini, Mas Sabit. Barokallah fiumrikum, Amin. Di ujung perbincangan, iseng saya tanya berapa harga jaketnya. “1,5 juta”. “What?” Ah dia tetaplah anak milenial yang butuh eksis dengan gaya milenialnya. Dengan tetap terkontrol, tentunya.(*)