Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost
Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Pertarungan itu selalu panas. Setidaknya bagi mereka yang sungguh-sungguh bertarung untuk menang. Kemenangan, kebanyakan adalah pertalian antara usaha keras pantang menyerah dan nasib baik. Ya, tentu bagi mereka yang percaya dengan nasib. Pantang menyerah itu bisa diusahakan, tapi nasib itu hanya bisa diterima.

 

Menguliti kerja keras dan nasib itu dua pembahasan yang bertolak belakang. Kerja keras diawali dengan pikiran, kemudian digerakkan. Analisis dari segala penjuru mata angin akan memberi kemungkinan besar untuk mendapatkan kemenangan. Namun, nasib itu soal penerimaan. Sekeras apapun usahamu, maka nasib itu bisa berbanding terbalik dengan harapan yang diusakan melalui kerja kerasmu.

 

Pemilu, adalah pertalian antara dua hal itu. Menarik simpati agar pemilih mau mencoblos itu adalah usaha. Menganalisis lawan dan kantong-kantong yang bisa direbut, itu juga usaha. Mengeluarkan dana yang tak seberapa itu juga usaha. Masa ini, adalah masa di mana usaha keras dilakukan.

 

Usaha keras itu bisa berada dalam dua area. Area kerja keras yang legal dan area kerja keras yang ilegal. Kerja keras yang legal itu adalah penumpukan sportivitas. Sementara, kerja keras yang ilegal itu adalah pengesampingan sportivitas, yang hanya menginginkan kemenangan dengan segala cara.

 

Pertarungan jelang pencoblosan di Pemilu 2019 ini makin memanas. Upaya menarik simpati dilakukan. Bahkan, bagi mereka yang mau menyimpang dari ketentuan, memanfaatkan berita palsu sejadi-jadinya. Bagi mereka yang hanya menginginkan kemenangan, akan memanfaatkan segala cara.

 

Jika yang legal dan ilegal dari usaha para kontestan itu makin rumit untuk dianalisis oleh orang awam, maka selayaknya serahkan saja pada mereka yang kompeten dan memiliki otoritas. Kita boleh ikut riuh rendah berkomentar dengan segala hoaks, dengan surat suara yang sudah tercoblos, dengan politik kotor yang melingkar di beberapa sisi dari kontestasi.

 

Tapi, dalam beberapa hal, orang awam hanya bisa jadi penonton. Orang awam tak bisa merasuk dalam kontestasi sembari mengadili. Maka, bagi orang awam seperti kita, nikmati saja drama tentang pertarungan menuju kuasa ini. Jika ada penyimpangan, serahkan saja pada pihak yang memang diberi kewenangan UU untuk menyelesaikannya.

 

Seperti pertandingan olahraga, penonton adalah mereka yang ada di pinggiran. Menjadi penyorak, menjadi pendukung, dengan riuh suaranya. Hanya seperti itu. Penonton tak perlu masuk ke lapangan sembari ikut bermain. Sebab, jika itu terjadi hanya akan membuat pertandingan makin tak keruan.

 

Pertandingan itu, serahkan saja pada pengadil, serahkan pada masing-masing tim yang bertanding. Jika kita melihat adanya kecurangan, maka sampaikan saja pada pengawas pertandingan. Karena memang seperti itulah penonton.

 

Maka, bagi siapa saja yang menjadi penonton dalam kontestasi pemilu kali ini, jadilah penonton yang baik. Bagi yang bertarung, bertarunglah dengan sportif. Bagi yang jadi wasit, jadilah wasit yang adil. Bagi yang jadi pengawas, jadilah pengawas yang tak memihak. Penonton, petarung, wasit, pengawas yang baik adalah bentuk kerja keras kita sembari menunggu nasib apa yang akan menjadi nyata. (kholil@satelitpost.com)