Kabupaten Banyumas meyelenggarakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak pada Selasa (23/7/2019) lalu. Giliran Kabupaten Banjarnegara yang rencananya akan menyelenggarakan pesta demokrasi di tingkat desa pada Rabu (31/7/2019).

Ada sebanyak 196 desa di Banjarnegara yang mengikuti pilkades serentak. Ada sebanyak 613 calon kepala desa yang berkompetisi. Ratusan calon kades tersebut bersaing untuk menjadi orang nomor satu di desanya masing-masing.

Selain dihormati karena menjadi orang nomor satu di desanya, fasilitas, dan kewenangan yang disediakan bagi kades terbilang menggiurkan. Maka tidak mengherankan kalau banyak pihak, semisalnya politisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perangkat desa, guru, pengusaha atau pensiunan ASN mengincar posisi kepala desa.

Ada kasus-kasus yang unik, di antaranya sebagai berikut: pertama, karena suaminya telah menjadi anggota dewan dan mempunyai pendukung yang banyak, maka istrinya maju mengikuti pilkades; kedua, di sejumlah desa, pilkades hanya diikuti dua calon kades yang mana keduanya berstatus sebagai suami istri atau masih mempunyai hubungan keluarga.

Contoh yang pertama untuk memperbesar pengaruh seseorang atau suatu keluarga di lingkungannya. Sementara contoh yang kedua agar pilkades tetap bisa dilaksanakan dan jabatan kades bisa diraih, kalau tidak oleh yang berhasrat menjadi kades, setidaknya jabatan tersebut dijabat oleh keluarganya sendiri.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa banyak orang ingin menjadi kades. Alasan menjadi kades bermacam-macam. Ada yang bercita-cita  memajukan dan memberdayakan desanya; ada yang ingin”mencari nama”, dipanggil pak kades atau bu kades; ada juga yang mencalonkan diri karena alasan pekerjaan.

Bagi warga desa, pilkades lebih ramai daripada pemilu karena yang terlibat adalah orang-orang yang dikenal, yang hampir tiap hari ketemu. Pilkades juga lebih mempunyai dampak nyata dan langsung bagi warga  desa, misalnya menduduki jabatan sebagai perangkat desa; kemudahan menggarap tanah bengkok; dsb.

Pada hari-hari menjelang coblosan, kita menjumpai calon kades sering mendatangi warga, khususnya tokoh masyarakat, untuk meminta doa restu dan dukungan. Kita juga sering menjumpai sekelompok warga berbondong-bondong ke rumah calon kades untuk memberikan dukungan.

Praktik-praktik di atas  menunjukkan betapa tingginya antusiasme warga desa terhadap pelaksanaan pilkades. Praktik-praktik di atas jarang kita temui pada pelaksanaan pemilihan umum.

Deklarasi Pilkades Damai

Banyak pihak berharap bahwa kontestasi pilkades serentak di Banjarnegara kali ini akan berjalan dengan damai, lancar dan demokratis. Sebagai salah satu strategi, Pemda Banjarnegara beserta pihak-pihak yang berkepentingan menggelar Deklarasi Pilkades Damai di Pendapa Dipayudha pada 19 Juli 2019. Peserta pilkades berkomitmen untuk, di antaranya, tidak menyebar berita bohong;  berkampanye dengan demokratis; serta menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku (Satelit Post, 22 Juli 2019).

Deklarasi pilkades damai tersebut merupakan langkah awal yang penting. Ini berarti bahwa para peserta pilkades berkomitmen untuk mewujudkan pilkades  yang damai, amandan demokratis.

Pilkades merupakan momentum bagi warga desa untuk menentukan pemimpinnya. Idealnya, sang pemimpin adalah sosok yang berkompeten, berintegritas serta mempunyai cita-cita memajukan desanya. Singkat kata, kades yang bermutu. Oleh karena itu, warga desa harus menggunakan hak pilihnya dengan jeli. Jeli dan waspada.Tidak salah pilih!

Pilkades disebut damai dan demokratis jika tidak ditemui intimidasi atau bagi-bagi uang. Dengan begitu warga desa bebas memilih. Warga bebas memilih calon pemimpinnya dengan pikiran dan hati yang lebih jernih.

Dengan pikiran dan hati jernih, warga mestinya memilih calon kades yang bermutu. Bukan memilih calon kades yang ingin”mencari nama” atau calon kades yang bermaksud memperkaya diri dan keluarganya.

Idealnya pilkades akan menghasilkan sosok pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi untuk memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat desanya. Di bawah kepemimpinan kades yang bermutu, pembangunan dan demokratisasi di desa tersebut akan lebih terbuka sehingga kesejahteraan dan kualitas hidup warga desa bisa lebih baik.

Pilkades serentak di Banyumas 23 Juli 2019 lalu berlangsung dengan damai, lancar dan tingkat partisipasi yang tinggi, yakni 75 %sd 80 % (Satelit Post, 25 Juli 2019). Kita berharap bahwa pelaksanaan pilkades serentak di Banjarnegara pada 31 Juli 2019 nanti  juga demikian.(*)