RD Ag Dwiyantoro
Imam Gereja St Yosep Purwokerto.

Di sebuah istana ada kakak adik yang selalu rukun. Sejak kecil selalu tinggal bersama, bermain, dan pergi bersama. Sang kakak bernama Ling dan adiknya Lung. Mereka dikasihi oleh penduduk istana itu karena ramah, rupawan dan suka menolong. Ling, kakak laki-laki tumbuh lebih gagah daripada ayahnya. Ketrampilan memainkan pedang dan jurus kungfu juga mempesona. Sedangkan Lung, adik perempuan juga tumbuh cantik melebihi ibunya. Banyak pangeran yang terpesona padanya tetapi selalu ditolaknya. Sebaliknya ketampanan Ling juga mempesona para putri istana. Bahkan kerajaan tetangga pun ingin mendapatkan pangeran Ling ini. Tetapi hasilnya nihil karena Ling tidak pernah menerima orang lain.

Rupanya, Ling dan Lung saling jatuh cinta. Selalu bersama sejak kecil dan lengket kemana saja membuat mereka tidak terpisahkan. Hati Ling selalu untuk Lung. Demikian juga hati Lung selalu untuk Ling. Awalnya ayah mereka tidak mengetahui cinta mereka. Penduduk juga menganggap seperti kakak adik sungguhan. Namun kasak-kusuk makin menjadi kalau mereka memang saling jatuh cinta.

“Aku tahu bahwa cinta ini terlarang! Lebih baik aku mati daripada berpisah dengan Ling!” begitu ucap Lung ketika ditanya ayahnya. “Jangan kamu lakukan itu, nak! Ini terlarang!” kata ayahnya. “Ayah, dalam kitab kuno, dikatakan Yang Kuasa menciptakan perempuan untuk jadi penolong laki-laki. Dan laki-laki akan meninggalkan ayah ibunya untuk bersatu dengan istrinya. Apa yang dipersatukan ini tidak mungkin dipisahkan!” jawab Lung yang memang rajin membaca buku itu.

Ling dan Lung memilih pergi dari istana sebelum diusir dari istana. Mereka tidak ingin menjadi masalah bagi keluarga dan membuat rakyat mengamuk. Malam hari mereka telah meninggalkan istana. Ke mana perginya? Mereka terus berjalan dan menghindari penduduk. Mereka mau tinggal di hutan yang jauh dari penduduk. Mereka mau berjuang sehidup semati dengan makan apa adanya dari hutan.

Akhirnya mereka tinggal di hutan, jauh dari keramaian penduduk. Mereka berkawan dengan binatang dan tumbuhan. Keramahannya menaklukkan keganasan binatang-binatang. Mereka hidup rukun dan tenang bersama. Seperti yang mereka rindukan sejak kecil. Ling juga ulet untuk mencari makan dan mengolah tanah. Ia sungguh bertanggungjawab dengan hidupnya dan pilihannya. Resiko ditanggung dengan gagah berani. Setiap hari ia selalu bekerja keras. Pagi-pagi sudah meninggalkan pondok mereka untuk bekerja entah  berburu atau mengolah tanah, atau menebang kayu. Sore hari baru kembali dan bercengkerama dengan Lung.

Namun lama-lama Lung tampak tidak bergairah. Ia banyak diam. Ia mulai sadar bahwa cintanya itu keliru. Kendati ia dan Ling beda ayah, tetapi ia sadar sebagai satu darah daging dari ibunya, tidak pantas hidup lebih dari kakak dan adik.  Tetapi ia tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Ia menyimpannya dalam hati.  Hingga saat berjalan-jalan ke atas bukit, sementara Ling bekerja ke bukit lain, ia terpeleset dan jatuh di bawah.  Di bawah tebing bukit itu ada hamparan tanaman mawar yang daunnya hijau dan tidak ada bunganya.

Ling pun mencari ke sana kemari tetapi tidak menemukan. Tiap waktu ia mencari tetapi tidak terpikir bahwa ada bukit berada di seberang pondoknya yang belum dicari. Sampai beberapa hari berlalu ia baru menemukan jejak Lung di atas bukit itu, sebuah selendang putih.  Ia melihat ke bawah. Karena saking lebatnya tanaman mawar, ia tidak menemukan Lung di sana. “Aku harus menemukannya.” Katanya dalam hati. Dengan sekuat tenaga, ia mencari. Jalan terjal tebing bukit curam itudituruninya.

Ketika sampai di hamparan kebun mawar itu, iatidak menemukan Lung di situ. Tetapi ia yakin bahwa Lung di situ. Saat termenung karena kesedihan yang hebat itu, ada bisikan suara malaikat, “Kamu bisa menemukan Lung kalau engkau menyiram dengan air kelapa dan memupuk tanaman mawar ini.” Karena sangat yakin dengan bisikan itu, ia bergegas naik ke bukit untuk mencari pupuk dan air kelapa untuk menyirami kebun mawar. Karena usaha keras ini, peluhnya sampai berubah darah. Kaki-kakinya menginjak batu-batu runcing dan tangannya tergores. Tetesan darah itu menyertai siraham air kelapa dan pupuk di taman wawar itu.

Setelah berhari-hari tanpa istirahat, ia terjerembab ke pohon mawar yang lebat.  Tidak sadar diri. Pada saat payah itu, sang malaikat yang waktu itu datang, kini menemuinya, “Saat kamu membuka mata, kamu akan menemukan mawar hijau ini akan berubah bunganya menjadi merah. Itu karena tetesan dari dari kerja kerasmu. Kamu akan menemukan bunga yang indah nan harum di bagian tengah kebun ini.” Dan byar! Ia terbangun. Dengan sekuat tenaga yang ada, ia mencari di tengah kebon itu bunga indah dan harum. Sepanjang jalan yang dilewati, ia menemukan bunga-bunga mawar merah. Di tengah kebun setangkai bunga mawar yang menyerupai Lung. Tangkainya ada duri-durinya tetapi kelopak bunganya indah seindah wajah Lung.

“Terimakasih, engkau telah berjuang keras untuk mencintaiku.” Terdengar suara merdu seperti suara Lung. “Karena kerja kerasmu itu, semua mawar ini berubah jadi merah. Namun karena cinta kita terlarang, tetap saja ada duri-duri dari tangkainya. Kalau kamu mencintaiku, kamu harus menanam bunga mawar di istana dan ke seluruh bumi.” Meski dengan amat sedih, demi cintanya yang besar, maka ia melaksanakan pesan Lung, sang adik yang juga kekasihnya. Ia kembali ke istana dan mulai menanam bunga mawar ke mana-mana. (kisah imaginatif).

Kisah mawar merah, buah pengorbanan cinta yang tulus menjadi perlambang pergerakan batin manusia.  Tetap memperjuangkan hidup dengan ketekunan walaupun tantangan besar menghadang. Hasil akan diberikan sendiri oleh Yang Makakuasa. Bagi umat kristiani, kisah pengorbanan itu terwujud  dengan untaian doa-doa melalui Rosario. Kata Rosario itu sendiri berarti mahkota mawar. Atau kebon mawar sebab merupakan kumpulan manik-manik yang digunakan untuk mendaraskan doa Salam Maria puluhan kali.

Doa ini lahir dari pernyataan malaikat Gabriel kepada Maria, ketika memberitakan kelahiran Yesus Putranya, dan perjumpaan Maria dengan Elisabeth, bunda Yohanes pembaptis, saat Elisabet mengandung. “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata:” Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Kata malaikat itu dalam iman Gereja menjadi “Salam Maria, penuh rahmat Tuhan sertamu”. Serta kata Elisabet: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” Dalam iman Gereja, kata-kata itu menjadi doa: Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Karena Gereja mengakui kehidupan kekal dan kehadiran Maria sampai pada kematian dan kemuliaan Yesus, bahkan penantian akan Roh Kudus bersama para rasul, maka Gereja berdoa : Santa Maria,Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.” (P. William Saunders; www.indocell.net)

Untaian doa berulang-ulang sebanyak 150 butir dengan renungan Yesus dari lahir, karya, wafat  sampai mulia-Nya ibarat suatu taman bunga mawar. Mawar menjadi ratu semua bunga. Karenanya Rosario menjadi ratu dari semua devosi. Doa ini menjadi doa sempurna karena terkandung karya keselamatan Yesus Kristus. Doa ini sederhana, sesederhananya Bunda Maria.  Butuh ritmis dan lafal. Tidak pengertian yang sulit.

Ini sudah ada jauh sebelum KS dicetak. KS yang belum bisa dibaca oleh semua orang, padahal ada kebiasaan yang bagus yaitu pendasaran 150 Mazmur, dihayati dengan cara mendasarkan doa Salam Maria sebanyak 150 kali. Makin popular pada abad 17 saat kemenangan pertemuan di Lepato, th 1571. Perang negara dengan mayoritas agama mendasar, terutama Eropa dan Turki berkecamuk. Sebagai negara yang memiliki tradisi iman, maka Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria, agar pasukan Kristen memperoleh kemenangan. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.

Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut. Disematkan semboyan :“Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”

Mengenangkan peristiwa itu, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah amanat Angelus yang disampaikan pada bulan Oktober 1983 mengatakan, “Rosario juga mengambil perspektif baru dan dibebani dengan intensi-intensi yang terlebih dahsyat dan terlebih banyak dari masa lalu. Sekarang bukan masalah memohon kemenangan besar, seperti di Lepanto dan di Vienna, melainkan memohon Maria untuk menyediakan bagi kita pejuang-pejuang yang gagah berani melawan roh kejahatan dan kesesatan, dengan senjata-senjata Injil, yakni Salib dan Sabda Allah. Doa Rosario adalah doa manusia untuk manusia. Rosario adalah doa solidaritas kemanusian, doa bersama orang-orang yang ditebus, dengan merefleksikan roh dan intensi dari dia yang pertama-tama ditebus, yakni Maria, Bunda dan Citra Gereja. Rosario adalah doa bagi segenap manusia di dunia dan dari sepanjang sejarah, yang hidup dan yang mati, yang dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus bersama kita dan bersama-sama kita menjadi ahli waris bersama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa.”

Doa Rosario, atau tasbeh, juga seperti dalam beberapa agama, mendasarkan doa yang sederhana dengan jiwa berserah. Doa diulang-ulang seperti mantra mampu berdaya, terutama membawa kita bebas dari kejahatan. Doa Rosario ini mengungkap hasrat jiwa pengorbanan seperti Ling pada Lung. Dengan cara ritmis, kita menyatakan “Aku mencintaimu”. Utinam. In finem Omnia. Soter@bdtoro