ILUSTRASI

Di masa pembangunan ini tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api.

Di depan sekali tuan menanti Tak gentar.

Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti Sudah itu mati.

MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api.

Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai.

Maju Serbu Serang Terjang.

 

Pangeran Diponegoro yang terkenal gigih dan pantang menyerah terlihat jelas menjadi inspirasi bagi Chairil Anwar dalam menulis puisi. Puisi “Diponegoro” merupakan salah satu karya fenomenal yang jika ditelaah isinya mengandung unsur semangat nasionalisme dan kebudayaan.  Kebudayaan sendiri dimaknai oleh Chairil Anwar sebagai suatu cara sebuah bangsa untuk mengatasi masalah yang lahir pada zamannya, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk berpikir, bertindak, dan menilai secara realistis. Hal yang sama pula disampaikan oleh Presiden Joko Widodo ketika membaca puisi “Diponegoro” saat menghadiri Konggres Kebudayaan Indonesia 2018 di Jakarta, menurut beliau kebudayaan adalah kegembiraan, kebudayaan merupakan karya dari sejarah, Kebudayaan dan ilmu pengetahuan merupakan karya dari sejarah panjang peradaban manusia. Peradaban lahir dari pengalaman panjang menghadapi alam dan perkembangan zaman dalam upaya untuk memecahkan segala persoalan yang ada.

Intinya baik Presiden Joko Widodo maupun Chairil Anwar mengimbau pada generasi muda untuk menghayati kembali semangat nasionalisme, semangat perjuangan Diponegoro dan menerapkannya di era pembangunan dan teknologi sekarang ini. Sebagai generasi penerus bangsa kita harus memiliki sikap nasionalisme yang tinggi, semangat memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan bangsa dan negara tercinta ini. Pangeran Diponegoro adalah patriot bangsa yang pantas untuk diteladani. Di masa pembangunan ini semangat perjuangan Pangeran Diponegoro harus dihidupkan kembali di dalam jiwa kita: “Tuan hidup kembali dan bara kagum menjadi api.”

 

Spirit Nasionalisme bagi Generasi Muda

 

Nasionalisme bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekumpulan manusia.  Nasionalisme adalah sebuah tuntutan politik. Setiap bangsa berhak menuntut kedaulatan atas negeri tempatnya tinggal selama berabad-abad berdasarkan alasan-alasan budaya, ekonomi dan kemasyarakatan.

Berdasarkan sejarah kelahirannya, nasionalisme atau paham kebangsaan pada masa lampau merupakan suatu jalan untuk menghadang paham Imperialisme dan kolonialisme namun seiring dengan perkembangan dan perubahan kehidupan dunia, nasionalisme masih

relevan dan kembali sebagai jalan tengah antara genderang era modernisasi  di tengah masyarakat dunia. Nasionalisme menunjukkan sikap bahwa setiap bangsa memiliki identitas dan jati diri yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Nasionalisme melahirkan sebuah kesadaran melalui anak-anak bangsa untuk menjadi bangsa yang benar-benar merdeka. Harapan inilah yang membentuk kesadaran masyarakat melawan segala bentuk penjajahan, penindasan, eksploitasi dan dominasi.

Wacana nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era saat ini memiliki daya tarik tersendiri karena sekarang kobaran semangat nasionalisme generasi muda mulai luntur. Lunturnya nasionalisme suatu bangsa dapat menjadi kecaman terhadap terkikisnya nilai-nilai patriotisme yang menjadi landasan kecintaan terhadap bumi pertiwi.

Selain itu semangat nasionalisme juga sangat diperlukan dalam perkembangan pendidikan yang berbasis pada pembentukan karakter dan mentalitas warga negara, sehingga tata nilai yang menjadi pondasi pembangunan bangsa tetap lestari dan menjadi modal sosial yang dapat menguatkan sendi-sendi peradaban bangsa di tengah berkecamuknya proses globalisasi.

Sendi-sendi yang menopang perubahan bangsa seperti karakter dan mentalitas rakyatnya merupakan pondasi yang kokoh dari tata nilai bangsa. Sedangkan faktor intern yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter itu antara lain adalah pembangunan manusia di bidang pendidikan. Penghayatan nilai-nilai nasionalisme dalam bidang pendidikan merupakan proses belajar kebudayaan yang ditanamkan dalam setiap individu. Melalui penghayatan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pendidikan dapat membentuk karakter bangsa dan mencegah pengaruh globalisasi serta menanamkan nasionalisme bangsa.

Namun pada kenyataannya pendidikan hanyalah sebagai upaya untuk mencetak sumber daya manusia yang handal dibidangnya. Pendidikan yang berfungsi sebagai transfer of knowledge tanpa membentuk jiwa dan karakter manusia sebagai sebuah bangsa hanya akan membentuk robot pintar tanpa memiliki kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara. Padahal pendidikan bertujuan tidak hanya menghasilkan generasi muda yang cerdas tetapi juga harus mampu membentuk jiwa nasionalisme pada setiap peserta didiknya. Manusia yang cerdas tanpa diimbangi dengan rasa nasionalisme hanya akan menghancurkan bangsa itu sendiri.

Bangsa Indonesia jangan sampai menjadi bangsa yang kehilangan jati diri dan kepribadiannya karena tidak mampu mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya yang semata-mata hanya mengejar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semata. Zaman boleh berubah dengan seiring berjalannya waktu namun rasa cinta Indonesia dan nasionalisme harus terus bersemayam di dalam jiwa generasi muda Indonesia.(*)