Oleh: Septi Nurhayati Pendidik di SDN Patimuan 04

Suatu bangsa dikatakan maju apabila produk yang dihasilkan pendidikannya berkualitas. Produk yang dimaksud adalah peserta didik, dan kualitas peserta didik dipengaruhi oleh kualitas para pendidik. Kriteria pendidik yang berkualitas saat ini yaitu pendidikan mereka yang harus setingkat sarjana.

Alasan guru harus memiliki gelar sarjana karena mereka yang bergelar sarjana secara matang sudah mempelajari berbagai macam teori terutama tentang teori pendidikan. Selain itu, cara mereka berpikir dan bertindak sudah matang serta mereka dididik dengan nilai- nilai ilmiah. Seorang guru harus memiliki semua itu agar mereka dapat melakukan tugasnya sebagai pendidik.

Dalam undang-undang guru dan dosen, ada tujuh tugas utama guru. Ketujuh tugas tersebut adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Yang dimaksud dari ketujuh tugas utama guru tersebut, yaitu pertama mendidik, menurut JJ. Rousseau dalam Closson (1999), mendidik adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa kanak- kanak tapi dibutuhkan pada masa dewasa. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mendidik adalah kegiatan memberikan bekal kepada anak, hal- hal yang bermanfaat bagi mereka setelah dewasa kelak.Kedua mengajar, pengertian mengajar menurut  Usman (1994:3), yaitu membimbing siswa dalam kegiatan belajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Ketiga membimbing, yaitu suatu proses yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan bahan ajar untuk mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan pendekatan tertentu yang sesuai dengan karakter siswa. Membimbing juga menemukan potensi dan kapasitasnya, menemukan bakat dan minat yang dimilikinya sehingga sesuai dengan masa perkembangan dan pertumbuhannya. Keempat, mengarahkan, mengarahkan adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru kepada peserta didik agar dapat mengikuti apa yang harus dilakukan agar tujuan dapat tercapai. Mengarahkan bukan berarti memaksa, kebebasan peserta didik tetap dihormati dengan tujuan agar tumbuh kreativitas dan inisiatif peserta didik secara mandiri. Kelima melatih, menurut Sarief (2008), melatih pada hakikatnya adalah suatu proses kegiatan untuk membantu oranglain (atlet) mempersiapkan diri dengan sebaik- baiknya dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. Dalam dunia pendidikan tugas guru adalah melatih siswa terhadap fisik, mental, emosi dan keterampilan atau bakat. Keenam menilai, menurut (BSNP 2007: 9), penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.Tugas guru adalah menilai siswa pada aspek ketrampilan, sikap, dan pengetahuan. Tujuannya untuk mengukur sejauhmana kompetensi siswa setelah proses belajar mengajar selesai dilaksanakan. Ketujuh mengevaluasi, mengevaluasi dapat dimaknai sebagai suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai (Grounlund, 1985, dalam Djaali dan Puji M). Evaluasi ditujukan untuk mendapatkan data dan informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian.

Berdasarkan tugas guru di atas, tugas guru sangatlah berat. Oleh karena itu untuk memenuhi tugasnya guru diharapkan selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya setiap saat.

Apalagi pendidikan sekarang menggunakan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Dalam kurikulum 2013 ada 4 aspek yang dinilai yaitu pengetahuan, sosial, keterampilan dan spiritual. Dalam kurikulum 2013 pembelajaran berpusat pada siswa bukan lagi berpusat pada guru. Siswa dituntut untuk lebih aktif, dan untuk membuat siswa aktif misalnya dengan menggunakan media pembelajaran. Oleh karena itu, guru juga harus berinovasi agar dalam pembelajaran tidak membosankan, dan diharapkan dapat merangsang keaktifan siswa.

Sesuai perkembangan zaman dengan kecanggihan teknologi, guru juga dituntut untuk dapat menggunakan laptop atau komputer. Hal ini karena, laporan penilaian yang setiap semester diberikan kepada orangtua siswa tidak lagi di tulis tangan melainkan diketik sesuai aplikasinya masing- masing. Bagi yang masih muda hal ini tentu tidak menjadi masalah, namun bagi guru yang sudah sepuh hal ini tentu sangat membebani mereka.

Namun kenyataannya, peningkatan kemampuan guru tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan honor atau upah yang mereka terima. Bagi yang sudah diangkat menjadi PNS mereka bernasib baik, namun bagi guru honorer berbanding terbalik. Guru honorer hanya bergaji sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan.

Di Kabupaten Cilacap contohnya, 60 persen pegawai dan guru merupakan pegawai honorer. Banyak dari mereka yang sudah mengabdi puluhan tahun hanya bergaji Rp150 ribu sampai Rp450 ribu per bulan. Sebagian dari mereka sudah mendekati masa pensiun.

Untuk dapat mencukupi kebutuhan  hidup mereka, banyak dari sebagian mereka yang mencari tambahan pendapatan, misalnya menjadi guru ngaji, penjual sayur, guru les privat, penjual makanan dan lain-lain. Hal itu dilakukan mereka selain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka juga untuk menyekolahkan anak mereka.

Meskipun honor yang mereka terima tidaklah besar, mereka tetap melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya. Kemampuan mengajar mereka tidak kalah dengan mereka yang sudah PNS, hanya saja nasib mereka saja yang berbeda.

Oktober 2017, ribuan guru  dan pegawai honorer di Cilacap melakukan aksi damai di depan kantor Bupati Cilacap. Mereka menuntut agar pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Mereka berjalan dari lapangan Batalion sampai ke depan kantor Bupati, kemudian berpindah ke depan gedung DPRD kabupaten Cilacap. Teriknya panas matahari tidak menyurutkan tekad mereka untuk menyampaikan aspirasi mereka. Mereka menyampaikan aspirasi mereka secara damai karena mereka berpedoman mereka ini adalah guru yang tetap akan membawa nama baik guru.

Aksi damai yang mereka lakukan membuahkan hasil, tepatnya bulan Maret 2018, pemkab mengumumkan guru honorer di Cilacap mendapatkan SPT (surat perintah tugas) dari Bupati setempat. SPT tersebut merupakan syarat untuk mendapatkan honor yang bersumber dari APBD Cilacap (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Dari APBD, guru honorer memperoleh honor sebesar Rp590 ribu per bulan. Hal ini merupakan angin segar bagi guru honorer. Meskipun tidak sebesar dari yang mereka inginkan tetapi mereka tetap bersyukur dan berharap ke depan kesejahteraannya lebih diperhatikan.(*)