Ilustrasi

Oleh : Agus Triawan SPdI MPd

Mudir Pondok Pesantren Modern Daarul Falaah Merden Banjarnegara

 

Di satu sisi umat Islam bergembira karena telah mencapai kemenangan. Bisa mengalahkan hawa nafsu selama bulan Ramadan. Menahan lapar, dahaga dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Di sisi lain ketika kita belajar sejarah Islam, para ulama pada zaman dahulu justru merasa bersedih ketika berpisah dengan bulan suci Ramadan. Bersedih karena merasa amalannya masih sedikit dan belum maksimal selama bulan puasa.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 183 : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. Ketika tujuan bertaqwa betul-betul diperoleh maka orang yang bertaqwa tersebut dijanjikan oleh Allah mendapatkan kemenangan.

Dalam QS Ath Thalaq ayat 2 dan 3 disebutkan tentang janji Allah, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Sejatinya Allah SWT membuat kehidupan yang berkecukupan bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Yang melaksanakan ajaran, perintahNya dan senantiasa menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Tinggal bagaimana menjalaninya dengan sungguh sungguh beriman kepada-Nya. Janji Allah adalah sungguh. Janji Allah adalah pasti. Innallaha la yukhliful Mii’ad, sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.

Tinggal bagaimana keimanan dan kepercayaan kita betul-betul ada dalam diri dan jiwa kita. Keimanan kepada Allah SWT dengan ketauhidan yang nyata. Menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang diibadahi, satu-satunya Tuhan yang disembah, yang kita mintai, tanpa membuat tandingan dengan sesuatu apapun. Lawan dari Tauhid adalah Syirik yaitu menyekutukan Allah, membuat tandingan selain Allah, berdoa kepada selain Allah. Meminta kepada selain Allah, termasuk membuat sesaji untuk dipersembahakan kepada selain-Nya. Maka kita berlinding kepada Allah Allah agar kita dijauhkan dari perilaku kesyirikan baik yang kita tahu ataupun tanpa sadar kita melakukannya.

Karakter orang yang bertaqwa, disebutkan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 3, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Iman merupakan kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Iman tidak hanya di dalam hati saja tapi juga dalam ucapa dan perbuatan. Tidak haya dalam teori tapi iman merupakan praktik nyata dalam kehidupan riil.

Orang bertaqwa juga beriman dan percaya kepada yang gaib. Gaib merupakan sesuatu yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang gaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat, alam kubur, hisab, shirath, mizan, dan sebagainya.

Orang bertaqwa, masih menurut surat Al Baqarah ayat 3, adalah mendirikan salat. Salat menurut bahasa ‘Arab adalah doa. Menurut istilah merupakan ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan salat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Adapun rezki merupkan segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

Dengan adanya pengetahuan dan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang tujuan dan eksistensi taqwa maka berpuasa menjadi lebih khusu’, fokus dan hanya mengharap ridho Allah SWT. Tentunya balasan Allah mengiringi orang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-larangan-NYa.

Menggapai kehidupan yang dipenuhi ketaqwaan, memerlukan niat dan Azzam yang sungguh-sungguh dan memerlukan kebersamaan. Dimulai dari diri sendiri ketika mencari jodoh atau pasangan. Carilah yang bertaqwa. Ketika mencari dan memilih pemimpin maka carilah yang bertaqwa dan takut kepada Allah SWT. Mencari teman bergaul untuk anak, mencari tempat pendidikan dan sekolah untuk anak, maka mencari yang dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Alah SWT.

Sehingga ketika pribadi-pribadi sudah beriman dan bertaqwa maka akan tercapai masyarakat yang adil, makmur, aman sentausa baldatun thoyyibatun warobbun Ghofur di bawah lindungan Allah SWT. Semoga kita termasuk orang yang di dalamnya. Amin Ya Rabbal alamin. (*)