Dunia olahraga kembali menyuguhkan drama epik yang apik untuk diteladani. Pada gelaran Formula 1 GP Kanada di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, Senin (10/6), Sebastian Vettel dari tim Ferrari dan Lewis Hamilton dari Mercedes berbagi podium tertinggi. Hamilton spontan menarik lengan rivalnya, Vettel, naik ke podium tertinggi lalu merangkulnya. Pemandangan ini tidak saja membuat adem mereka yang hanya bisa menonton melalui layar kaca, namun juga penggemar kedua pebalap dan merek tunggangannya yang sempat memanas usai sebuah insiden yang mengubah hasil balapan.

Insiden terjadi pada lap ke-48 di tikungan 4. Ketika itu Vettel sempat melebar dan keluar jalur masuk ke rumput. Namun, dia masih menguasai mobilnya dan segera kembali ke jalur balapan. Upaya Vettel yang lansung masuk ke jalur balapan itu yang nyaris memicu benturan dengan Lewis yang terus menempel ketat di belakangnya. Lewis terpaksa mengerem mendadak untuk menghindari benturan.

Atas manuver Vettel itu, ia mendapat penalti lima detik karena dianggap membahayakan pebalap lain (Hamilton) saat kembali ke trek usai melebar. Vettel yang start di posisi terdepan unggul dengan selisih waktu 2,658 detik dari Hamilton setelah melahap 70 putaran. Namun karena pinalti 5 detik, Vettel hanya menempati podium kedua.

Hasil ini membuat Vettel kesal. Vettel memarkirkan SF90, mobil tunggangannya, di tepi garis pit, alih-alih menaruhnya di parc ferme, kawasan khusus bagi mobil pemenang. Vettel bahkan memindahkan papan P1 atau posisi finis pertama yang berada di depan mobil Hamilton dan menggantinya dengan P2 alias posisi finis kedua. Tingkah konyol Vettel ini mendapat sorakan dari penonton yang ada di sekitar parc ferme.

Seakan memahami kemarahan Vettel, Hamilton merangkul rivalnya di podium teratas. Hamilton rela berbagi podium meskipun dia diputuskan sebagai pemenang balapan yang sah. Dia memilih berlapang dada, meskipun bisa saja bersikap jumawa atas kemenangan yang ia raih. Sportivitas ia junjung tinggi di atas rivalitas. Vettel pun, meski dengan berat hati, tak menunjukkan penolakkan ketika diajak naik ke podium pertama. Terlepas upaya banding Ferrari setelah balapan, ia menunjukkan jiwa besar ketika ada ajakan rekonsiliasi dari rivalnya.

Inilah yang tak tampak pada kompetisi elektoral di negeri kita belkangan hari. Alih-alih menunjukkan sikap sportif, para elit justru membakar amarah dan kebencian para pendukungnya. Hal ini ditumpahkan melalui unjuk rasa yang berakhir ricuh. Bahkan unjuk rasa sampai memakan korban jiwa. Hal ini sebenarnya tak perlu terjadi jika para elit meneladani para atlet yang menjunjung tinggi sportivitas, etika, di atas rivalitas. Rekonsiliasi elit menjadi kunci agar polarisasi para pendukung di akar rumput mencair.

Terlebih, kita memiliki momentum yang sangat baik untuk memulai upaya rekonsiliasi, yaitu Idulfitri. Di Indonesia, Idulfitri identik dengan silaturahmi dan saling maaf-memaafkan. Momen ini pas untuk menarik rival dan merangkulnya di podium teratas seperti yang Hamilton lakukan kepada seterunya, Vettel. Terlepas dari upaya hukum gugatan ke Mahkamah Konstitusi, kebesaran jiwa para elit menerima uluran tangan untuk saling berangkulan juga diperlukan untuk meredam tensi politik dan kadar kebencian para pendukung di bawah. Semoga rekonsiliasi elit kita lekas terwujud. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir batin.(afgan@satelitpost.com)