KARINA PRAWESTISITA Mahasiswa Magister Managemen Unsoed.

 

 

Saat ini makanan kekinian telah menjamur. Anak-anak milenial lebih akrab dengan makanan kekinian, daripada jajanan tradisional daerahnya. Sebut saja banana nugget, churros, ataupun cinnamon roll, yang kebanyakan makanan tersebut adaptasi dari makanan luar negeri. Berbeda dengan jajanan tradisional timus, combro, ataupun cenil, kebanyakan generasi milenial sudah tidak mengenalnya. Mungkinkah pada akhirnya terjadi kepunahan jajan tradisional? Ya, bisa saja. Hal ini merupakan salah satu faktor yang mempercepat kepunahan dari jajanan tradisional. Apabila anak jaman sekarang saja tidak mengenalnya, apalagi cucu cucu kita kelak.

Dalam suatu proses produksi, kita harus menyadari mengenai siklus hidup produk. Dikutip dari buku Heizer dan Render, siklus hidup produk terdiri dari 4 fase, yaitu perkenalan, pengembangan, kematangan, dan penurunan. Lama siklus hidup masing-masing produk tidak bisa ditentukan, hal tersebut berkaitan dengan jenis produk dan strategi apa yang digunakan produsen. Para produsen berharap fase kematangannya panjang, sehingga bisa didapatkan keuntungan dalam jangka panjang. Dan ketika sudah mencapai fase penurunan, produsen harus dapat memutar otak untuk menciptakan produk-produk baru. Oleh karena itu, terciptanya produk baru sangatlah penting.

Terkait dengan produk jajanan kekinian yang mulai menggeser pasar jajanan tradisional. Pemda di berbagai daerah mulai turun tangan. Pemda Cirebon melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada 25 Maret 2019 menggelar lomba kreasi makanan tradisional. Namun sejauh yang penulis cari, Pemda Kabupaten Banyumas belum pernah menyelenggarakan acara yang terkait dengan jajanan tradisional. Hal ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan pemda untuk mengadakan acara serupa, sebagai bentuk pencegahan kepunahan jajanan tradisional.

Timus merupakan salah satu jajanan tradisional yang terbuat dari ubi jalar. Meski pembuatannya mudah, timus kini mulai jarang dijumpai. Bahan untuk membuat timus pun tergolong sederhana, yaitu ubi jalar, tepung tapioka, gula, garam dan minyak. Timus diklaim lebih sehat dari jajanan kekinian saat ini karna tidak mengandung bahan pengawet. Ubi adalah bahan pangan yang banyak didapatkan di Indonesia. Menurut data BPS tahun 2015, produktivitas ubi jalar di Jawa Tengah sebesar 213.84 kuintal/hektare, lebih besar dari produktivitas rata-rata Indonesi sebesar 160.53 kuintal/hektare. Artinya Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pemanfaatan ubi jalar.

Suatu bentuk produk baru dari timus adalah Timus Lumer Mba Serjol. Timus Lumer Mba Serjol merupakan perpaduan cita rasa tradisional timus dengan berbagai macam pasta sebagai topping, layaknya banana nugget. Bedanya banana nugget kental dengan rasa pisang dan tepungnya, sedangkan timus menonjolkan pada rasa ubi yang merupakan bahan dasarnya. Dengan topping diatasnya penampilan timus itupun menjadi lebih kekinian.

Timus lumer ini sudah di produksi sejak Oktober 2017, yang dimulai dari keprihatinan tentang anak jaman now yang tidak tahu jajanan tradisional. Timus lumer disajikan dengan tampilan yang kekinian tanpa menghilangkan kejadulannya. Konsumennya pun tidak hanya terfokus ke generasi milenial, tetapi juga para generasi tua yang tetap dapat menikmati kelezatan timus ini.

Pada akhirnya kita harus turut serta dalam menjaga eksistensi jajanan tradisional, baik melalui penciptaan produk baru, ataupun dengan mengajak generasi milenial mengkonsumsi jajanan tradisional. Pemerintah Daerah harus turut serta mengadakan acara terkait dengan jajanan tradisional. Produsen jajanan tradisional juga harus mengerti bahwa setiap produk memiliki siklus hidup, dan untuk dapat eksis produsen harus terus menciptakan produk baru.(*)