M Lukman Leksono SPd MPd

Dosen Bahasa Indonesia IT Telkom  Purwokerto

 

Indonesia sebagai negara plural yang penuh dengan budaya masyarakat beragam, tentunya punya karakter khas di setiap daerah. Hal ini yang harus menjadi PR bagi masing-masing kandidat capres dan parpol dalam meraih simpati suara rakyat. Berbagai strategi kreatif dan efektif seharusnya bisa dilakukan para capres dan parpol  untuk menarik perhatian dan simpati rakyat. Salah satunya yaitu melalui media iklan politik online untuk berkampanye. Melalui kampanye online capres dan parpolnya bisa mempublikasikan dan menulis di medsos, seperti Youtube, FB, Instagram, WhatsApp dls. Menurut laporan riset bertajuk Digital in 2019, hasil kerjasama layanan manajemen konten HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social masyarakat menggunakan internet mencapai 56 persen. Artinya, 56 persen dari total penduduk di Indonesia telah terjangkau oleh internet untuk memeroleh infomasi dan berita terkait pemilu. Selain itu, media iklan kampanye online ini dinilai sangat efektif untuk mempromosikan visi dan misi para capres agar tepat sasaran. Salah satu contoh yang sudah diunggah pada 27 Maret 2019 di Youtube yaitu video KEREN & KREATIF!! Ini Iklan Kampanye Capres-Cawapres dan Parpol Peserta Pemilu 2019 oleh tv One News. Pada video tersebut, ada hal yang penting dan perlu diperhatikan para capres dan parpol  dalam membuat iklan kampanye online, yaitu diksi dan gaya bahasa yang mudah dipahami, efektif, dan diterima rakyat.

 

Diksi dan Gaya Bahasa Merakyat

            Gaya bahasa dan pemilihan kata (diksi) kalimat yang terdapat dalam video online iklan kampanye harus mudah dicerna maknanya secara implisit ataupun eksplisit. Ada salah satu paslon dan parpolnya yang membuat diksi kalimat yang menarik perhatian saya, yaitu jurus manjur anti-nganggur, bahan pokok terjangkau ibu-ibu tidak perlu galau, menjadikan Indonesia negeri berjuta sarjana negeri para juara, kerja kita kerja Indonesia, guru ngaji digaji. Menurut Keraf (2008) pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Sesuai dengan fungsinya, diksi bisa untuk memperindah suatu kalimat dan membantu audiens/pembaca mengerti apa yang disampaikan penulis atau pembicara. Sehingga masyarakat mudah untuk menangkap pesan-pesan paslon tersebut. Kemudian ada lagi paslon dan parpolnya yang membuat gaya bahasa merakyat, yaitu kami akan membentuk pemerintah yang bersih dan tegas yang membela seluruh rakyat, yang menjamin aman, adil, makmur untuk semua, pemerintah yang akan memastikan harga-harga akan terjangkau, lapangan pekerjaan akan tersedia untuk semua, partai kalem dan santun peduli kita setiap saat. Menurut Guntur Tarigan (2009) Gaya bahasa adalah bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara maupun menulis untuk memengaruhi dan meyakinkan pembaca atau penyimak. Sehingga paslon bisa juga memengaruhi dan meyakinkan para pemilih untuk memilihnya.

Melihat fenomena media kampanye tersebut, sebenarnya visi dan misi pilpres dan parpolnya  melalui media Youtube itu sudah cukup mewakili keinginan mereka. Cukup ciptakan bahasa iklan politik yang sederhana, unik, lugas, dan merakyat. Kemudian selanjutnya serahkan pada hati nurani rakyat untuk memilih. Mayoritas rakyat sekarang sudah pintar dan cerdas dalam memilah dan memilih para capres dan parpolnya. Rakyat sudah bisa membaca visi dan misi yang masuk di akal. Rakyat cenderung menyukai para capres dan parpol yang “membumi” dan “merakyat” bukan para capres dan parpolnya yang mempromosikan janji-janji “melangit” dengan bahasa tinggi. Selain itu, suara rakyat akan mudah diperoleh secara maksimal jika masing-masing capres dan parpolnya memiliki kemampuan bahasa komunikasi yang efektif sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. (*)