Helping others to grow merupakan pemacu semangat seorang Widayanto Bintang untuk menginspirasi orang dalam mengembangkan bakat. Terutama berbicara di depan umum. Melalui buku Powerful Public Speaking yang ditulisnya sekitar tahun 2014, Pak Wida begitu dia disapa, merangkum apa yang dibutuhkan para pembacanya.

 

Dia mengajak orang untuk berani mengemukakan pendapat serta berbicara di depan umum. “Karena memiliki kemampuan berbicara itu asyik,” ujar Wida yang memiliki hobi membaca ini.

 

Buku yang ditulisnya ini, bisa dibaca oleh semua kalangan dari berbagai profesi. Karena kemampuan berbicara memiliki peran penting dalam mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.

 

Pria lulusan Universitas Negeri Semarang Jurusan Fisika ini, juga aktif menulis dalam blog pribadinya, widayantobintang.com. Berbeda dengan tulisan yang di buku yang bermateri berat, di blog pribadinya ini tulisannya lebih ringan. “Mengangkat masalah-masalah yang sedang terjadi di masyarakat, seperti susah move on, menghadapi UN dan lainnya, yang ringan-ringan saja,” katanya.

 

Dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti dalam tulisannya ini, Guru SMP Negeri 1 Cilacap ini optimis, apa yang ingin disampaikannya dapat dipahami oleh para pembacanya. Tidak berhenti pada buku pertamanya, pria yang berusia 34 tahun ini juga sudah mempersiapkan buku lanjutan coaching-nya untuk membantu para pembacanya mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.

 

Buku mengenai teknologi rekayasa berpikir ini, sudah disusun. Bahkan dalam menulis bukunya terbarunya ini, dia dibimbing oleh Sofie Beatrix, pendiri komunitas penulis yang ada di Surabaya. “Sudah jadi lama, tinggal di-launching. Karena saya belum bisa sepenuhnya menerapkannya sendiri. Mudah-mudahan tahun ini,” kata ayah dua anak ini.

 

Selain buku-buku tersebut, suami dari Ery Susanti ini juga telah menulis beberapa buku mengenai cara mudah memahami fisika, ilmu sains yang digelutinya. Dorongan untuk terus belajar, memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain dan terus memberikan inspirasi bagi banyak orang, dia temukan saat menjadi relawan PMI. Saat itu dia ditugaskan untuk memberikan pendidikan bencana, ke sekolah maupun ke masyarakat. “Saya merasa sangat terinspirasi saat bisa menginspirasi orang lain,” katanya.

 

Ketertarikannya ini membawanya mulai mengembangkan diri dengan belajar bersama guru-guru terbaik, seperti Jamil Azzaini, sampai mengambil sertifikat NLP Internasional (Neuro-Linguistic Programming).

 

“Dalam talent maping, bakat utama saya sebagai developer. Developer itu ada kecenderungan menumbuhkan orang lain. Ketika sharing dengan orang lain, dan membuat orang lain bertumbuh itu ada kepuasan tersendiri yang tidak dapat diceritakan,” katanya. (ale)