REDAKSI SatelitPost menerima kiriman opini dari pembaca. Panjang opini berisi tiga halaman spasi 1,5 Naskah dikirim via email dan hendaknya dilengkapi dengan foto terbaru berikut nomor telepon yang dapat dihubungi. Opini yang dikirimkan merupakan karya asli dari pemulis.SatelitPost tidak mengembalikan opini yang diterima. Kolom ini juga terbuka untuk guru. email: opinipembaca_satelitpost@yahoo.co.id
Oleh: ARIFIN SURYO NUGROHO Ketua Tim pelaksanan Desa Mitra Desa Wisata Sejarah

 Sejarah adalah pengalaman kolektif masa lalu untuk menentukan identitas masyarakat pendukungnya. Namun permasalahannya kini adalah mau atau tidaknya manusia untuk belajar dari masa lalu atau sejarahnya yang sepatutnya dibanggakan itu. Gejala rendahnya kesadaran sejarah bangsa Indonesia hingga saat ini masih sering ditemui, pertandanya adalah kadar nasionalisme generasi muda yang memprihatinkan, juga sikap vandalisme yang sering dilakukan pada situs-situs sejarah. Memaknai sejarah dalam kehidupan akan membantu seseorang atau suatu komunitas untuk mengenal sejarah daerahnya, sejarah mentalitasnya, sejarah sosial, sejarah budaya dan sekaligus akan dapat dijadikan pertimbangan dalam rancang bangun peradabannya ke masa depan sebagai nilai luhur warisan pendahulunya. Agar nilai-nilai masa lalu itu dapat terinternalisasi dengan baik oleh generasi saat ini maka diperlukan inovasi baik dalam media maupun strateginya. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan yakni pemanfaatan situs cagar budaya sejarah sebagai sumber belajar sejarah.

Sejarah mempunyai karakteristik yang unik dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain. Menurut Widja (1989: 20) masa lampau tidak dapat dihadirkan kembali dalam kehidupan kita sekarang, sehingga tidak dapat diamati secara langsung. Kita mengetahui masa lampau dengan bantuan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh peristiwa sejarah yang baik berupa dokumen, arsip, situs dan cagar budaya sejarah.

Sejarah adalah pengalaman kolektif masa lalu untuk menentukan identitas masyarakat pendukungnya. Pengalaman kolektif itu disosialisasikan dan ditransformasi dari generasi ke generasi dan membangun kebanggaan kolektif disamping asal usul atau trah. Dengan pandangan ini maka untuk melacak dan merekonstruksi bangunan budaya suatu masyarakat harus dilacak dengan sejarah dini bahkan sampai ke mitologinya.

Namun permasalahannya kini adalah mau atau tidaknya manusia untuk belajar dari masa lalu atau sejarahnya yang sepatutnya dibanggakan itu. Gejala masih rendahnya kesadaran bangsa Indonesia akan sejarahnya masih sering dilontarkan oleh para pengamat sejarah. Orang Indonesia pada umumnya tidak meminati sejarah negara sendiri, mereka lebih suka mitos dan fantasi nasionalisme. Sejarah menjadi bermakna atau tidak sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk merumuskan makna itu. Secara ekstrinsik sejarah dapat berfungsi sebagai pendidikan moral, politik, penalaran, keindahan, perubahan, dan pendidikan masa depan. Di samping itu sejarah juga berfungsi sebagai latar belakang atau pendahulu historis suatu keadaan atau peristiwa, sebagai alat pembuktian dan sebagai rujukan.

Memaknai sejarah dalam kehidupan akan membantu seseorang atau suatu komunitas untuk mengenal sejarah daerahnya, sejarah mentalitasnya, sejarah sosial, sejarah budaya dan sekaligus akan dapat dijadikan pertimbangan dalam rancang bangun peradabannya ke masa depan. Agar nilai-nilai masa lalu itu dapat diwariskan dengan baik kepada generasi saat ini maka diperlukan inovasi sebagai upaya untuk menginternalisasikan nilai sejarah sebagai pengalaman kolektif masyarakat pendukungnya. Inovasi itu dapat dikembangkan melalui inovasi kegiatan, aktivitas maupun media. Salah satu yang dikembangkan yakni melalui pemetaan situs dan wisata sejarah.

 

Situs Cagar Budaya

Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya (Pasal 1), situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. Dilihat dari konteks zamannya, situs dimaksud terdiri atas situs purbakala dan situs sejarah. Benda cagar budaya terbagi atas dua kategori (Sobana Hardjasaputra, 2006), yaitu: (a). Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; (b). benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Undang-undang terbaru tentang cagar budaya termuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 mnyebutkan bahwa Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.

Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Benda Cagar Budaya dapat; (a.) berupa benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan manusia dan/atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia, (b) bersifat bergerak atau tidak bergerak; dan (c) merupakan kesatuan atau kelompok.

 

Potensi Situs Sejarah Banyumas

Situs cagar budaya Banyumas memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah dengan berbagai inovasinya. Banyumas memiliki puluhan situs sejarah penting sejak zaman pra aksara, kebudayaan Hindu-Budha, Kebudayaan Islam, kolonial, hingga zaman kemerdekaan. Untuk menumbuhkan kesadaran sejarah lokal Banyumas sebagai upaya menjaga ingatan kolektif dan identitas bersama terhadap latar historis masyarakatnya, inovasi yang dapat dilakukan melalui penyelenggaraan wisata sejarah ke situs cagar budaya di Banyumas.

Salah satu desa di Kabupaten Banyumas yang memiliki potensi situs sejarah penting dan berpotensi untuk dikembangkan melalui kegiatan wisata sejarah adalah Desa Datar Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Desa Datar memiliki situs sejarah bernama Watu Guling yang menurut penelitian para arkeolog dan sejarawan warisan hasil kebudayaan masa zaman prasejarah. Akan tetapi potensi tersebut belum banyak dikembangkan terutama potensinya sebagai wisata sejarah. Masyarakat sekitar juga belum memiliki pemahaman yang baik perihal sejarah situs yang dapat dikembangkan sebagai pemandu wisata lokal, sehingga informasi masih mengandalkan juru kunci situs.

Sarana yang menunjang eksistensi situs untuk dikenalkan kepada masyarakat umum juga masih minim. Perlu penambahan sarana informasi berupa peta situs, leaflet situs, papan informasi situs, maupun sarana lain yang memungkinkan untuk diadakan guna menunjang potensi wisata sejarah Situs Watu Guling Tersebut.

Optimalisasi desa Datar sebagai destinasi wisata sejarah di Kabupaten Banyumas sangat strategis untuk dilakukan dengan mengkombinasikan potensi wisata lain, seperti wisata alam pemandian mata air sehingga dapat diintegrasikan sebagai destinasi kunjungan. Apabila revitalisasi wisata sejarah dapat dilakukan, selain dapat menumbuhkan kesadaran sejarah generasi sekarang juga dapat sebagai harapan untuk meningkatkan ekonomi lokal. Wisata sejarah dalam hal ini memerenkan fungsinya sebagai media memelihara ingatan kolektif dan identitas bersama terhadap latar historis masyarakat Banyumas dan harapan akan pertumbuhan ekonomi lokal. Untuk mewujudkannya maka perlu peran pemerintah untuk menggarap serius situs cagar budaya di Kabupaten Banyumas sebagai obyek pariwisata alternatif. Juga adanya usaha kolaboratif dari kelas-kelas sejarah di sekolah-sekolah untuk menjadikan potensi situs cagar budaya sejarah sebagai sumber belajar sejarah di luar kelas. (*)