Topan Pramukti Asisten Redaktur SatelitPost

Beberapa waktu lalu, Ustadz Felix Siauw pernah bikin kultwit tentang bahaya pacaran di kalangan generasi muda. Ia bercerita panjang lebar terkait efek buruk pacaran.

Dalam tulisan tersebut ia bilang;

Banyak yang takut dapet suami yang nggak bener, tapi nyari suami dengan cara yang nggak bener

Seperti banyak yang takut masuk neraka, tapi beramal dengan amalan ahli neraka. Nyari suami pake pacaran, ya dapetnya yang nggak serius, kan pacaran nggak perlu komitmen dan tanggung jawab.

Mau suami yang bisa jadi imam yang baik tapi pake pacaran, yang pacaran itu ya yang nggak ngerti agama, maksiat gitu loh. Pacaran itu ibarat, cewek ngempanin diri ke cowok buat dimaksiatin, lalu ceweknya berharap cowoknya tanggung jawab.. lha..!!??

Lewat pernyataan ini, dia ingin mengingatkan kepada seluruh santrinya agar berhati-hati dalam bertindak. Ia ingin seluruh follower-nya mengawali sebuah langkah besar dengan langkah kecil yang baik dan sesuai dengan anjuran agama.

Karena bagaimanapun juga, sesuatu yang diawali dengan dosa hanya akan berbuah bencana. Sesuatu yang diawali dengan maksiat hanya akan menghasilkan produk bejat.

Nah, Ustad Felix Siauw ini seharusnya menyempatkan diri untuk bertemu dengan Tasdi. Pria asal Purbalingga yang belakangan berpotensi jadi pesakitan karena diduga terlibat dalam kasus suap proyek pembangunan Islamic Centre.

Islamic Centre sama seperti pernikahan, membawa cita-cita luar biasa. Kawasan Islami ini diharapkan mampu membangun keimanan warga Purbalingga dan sekitarnya.

Untuk meningkatkan iman dan takwa warganya, Pemkab Purbalingga mengalokasikan anggaran yang cukup besar, nilainya totalnya bisa mencapai Rp 77 miliar. Bangunan tersebut didirikan di atas lahan seluas 5,5 hektare.

Dalam kompleks tersebut, akan ada beberapa kantor lembaga keagamaan. Antara lain, MUI, FKUB, IPHI, Baznas, dan gedung serba guna juga kantor pengelola. Selain itu dilengkapi dengan miniatur lokasi ibadah haji di tanah suci. Miniatur Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan menjadi bangunan paling megah

Cita-cita Tasdi yang luar biasa mulia ini ternyata diawali dengan tindakan maksiat dan dosa. Sang Bupati diduga menerima commitment fee sebesar 2,5 persen, yaitu Rp 500 juta, dari nilai proyek pembangunan Purbalingga Islamic Center tahap kedua sebesar Rp 22 miliar. Namun, barang bukti yang disita KPK sebesar Rp 100 juta.

Tasdi dan Hadi selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam situasi seperti ini, Tasdi-Tasdi di seluruh Indonesia hendaknya mengingat apa yang diungkapkan oleh Felix Siauw. Sebagian besar kebijakan mereka ditujukan ke arah yang mulia, oleh karenanya, mengawalinya pun harus dijauhkan dari dosa. (topan@satelitpost.com)