Oleh: Mindriyani

Pegiat Komunitas Penyair Intitute (KPI)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”, mengutip kalimat dari Presiden RI pertama. Kalimat ini masih sangat relevan dengan keadaan sekarang ini.

Meski telah berusia 73 tahun, Indonesia masih dikatakan sebagai negara berkembang. Usia 73 tahun merupakan usia yang sudah tidak muda. Tapi faktanya Indonesia tetap berkembang saja? Apa ada yang salah dengan ini semua.

Sebentar lagi perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia akan segera digelar. Semua warga baik di kota maupun di desa, bergotong royong membersihkan lingkungan dan memasang bendera di sepanjang jalan. Tidak lupa, pernak-pernik hiasan juga dipasang sebagai lambang kegembiraan dalam menyambut datangnya Hari Kemerdekaan. Setiap 17 Agustus masyarakat Indonesia melakukan upacara kemerdekaan. Namun ada yang menarik, karena pesertanya tidak hanya dari kalangan pelajar. Melainkan warga desa (buruh dan petani) juga turut disertakan dalam upacara. Tujuannya untuk mengingatkan mereka terhadap jasa pahlawan, sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme dalam dirinya.

Tradisi lanjutan di Hari Kemerdekaan adalah sederet kegiatan seperti parade atau karnaval. Pesertanya memakai berbagai atribut hingga ada melukis wajah mereka sesuai tokoh-tokoh pahlawan lengkap dengan bajunya. Ada juga yang bermain teatrikal tentang perjuangan mengusir penjajah. Bahkan kemarin sempat ramai tentang pemutaran film G30S yang banyak menuai pro dan kontra. Terlepas dari itu, pemutaran film ini sebenarnya penting dilakukan tujuannya untuk mengingatkan kita terhadap jasa pahlawan.

Selain kegiatan tersebut masyarakat kita juga mengadakan lomba yang sampai sekarang tetap dilakukan seperti panjat pinang dan balap karung. Padahal jika dipikir perlombaan itu tidak ada kaitanya dengan semangat perjuangan dan rasa nasionalisme. Kegiatan semacam itu hanya hiburan semata yang dilakukan tanpa melihat sejarahnya.

Panjat Pinang

Panjat pinang telah ada di Indonesia sejak zaman Belanda, kira-kira sejak tahun 1917-1930. Pada zaman Hindia Belanda, orang pribumi yang mengikuti permainan panjat pinang berusaha memperebutkan barang-barang yang digantung seperti makanan dan pakaian. Bagi pribumi barang tersebut merupakan barang mewah. Sehingga mereka rela saling berebut dan banyak yang terjatuh karena pohon pinangnya licin. Hal itu dianggap lucu, bagi orang-orang Hindia Belanda dan kaum elite seperti orang Eropa.

Lomba panjat pinang ini sepertinya sengaja dibuat oleh Belanda untuk orang-orang pribumi, dengan tujuan sebagai hiburan orang Belanda dan kaum elite pada masa itu. Saat ini, setiap perayaan Hari Kemerdekaan kita melihat permainan panjat pinang selalu dilakukan, tanpa mengetahui latar belakang atau sejarah adanya panjat pinang tersebut.

Panjat pinang sudah sangat melekat pada masyarakat kita, sehingga kita menganggap panjat pinang sebagai budaya perayaan tujuh belasan. Yang tidak boleh abasen dalam perlombaan. Katanya permainan panjat pinang menyimbolkan budaya gotong royong dan masyarakat kita terlanjur memaknainya sebagai unsur kerja sama. Kebetulan hal ini sama dengan kebiasaan leluhur masyarakat Indonesia yang senang bergotong royong. Memang makna yang disimpulkan oleh masyarakat tidak sepenuhnya salah. Tetapi mengapa tidak bercermin kembali melihat makna yang sesungguhnya. Jangan hanya karena panjat pinang merupakan permainan yang sudah ada sejak zaman Belanda, terus kita melakukannya tampa melihat sejarahnya.

Sebagai generasi penerus perjuangan kita hurus mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa setelah Indonesia merdeka. Sah-sah saja kita merayakan kemerdekaan dengan berbagai perlombaan. Tetapi perlombaan yang mendidik generasi muda agar selalu ingat pada para pejuangnya, dengan mengadakan lomba membaca teks proklamasi, menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu-lagu daerah, atau lomba tarian-tarian tradisional yang ada Indonesia. Saya pikir hal lebih bagus, karena peserta lomba mau tidak mau mereka harus belajar tentang budaya dan sejarah bangsanya. Setelah mereka mengetahui pastinya mereka akan bangga dan nantinya akan tumbuh rasa nasionalisme dalam dirinya.

Nasionalisme Kebangsaan

Nasionalisme merupakan suatu pemahaman yang tumbuh dalam masyarakat dan mempunyai ciri-ciri seperti kesetiaan individu diserahkan kepada negara kebangsaan, dengan perasaan yang mendalam akan suatu ikatan yang erat terhadap tanah tumpah darahnya, perasaan yang mendalam dengan tradisi-tradisi setempat, dan kesetiaan dengan pemerintah yang resmi.

Nasionalisme kebangsaan menurut saya, sama halnya cinta dengan tanah kelahirannya. Mencintai tanah kelahiran bisa dalam bentuk memelihara budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Namun kita juga perlu berhati-hati jangan sampai apa yang kita lakukan dan kita anggap sebagai budaya ternyata bukan budaya yang sebenarnya, maka dari itu kita perlu mempelajarinya terlebih dahulu. Jangan sampai budaya seperti panjat pinang itu terus dilakukan, karena itu kurang tepat. Di sana kita tidak menemukan unsur nasionalisme, yang kita temukan hanya keseruan semata yang timbul akibat peserta tergelincir dan jatuh karena pohon pinangnya licin. Jika hal demikian masih dilakukan, maka generasi sekarang tidak jauh beda dengan kaum elite pada masa Hindia Belanda.(*)