Eka Dilla Kurniawan, Asisten Redaktur SatelitPost

EKA DILLA KURNIAWAN
Asisten Redaktur SatelitPost

Suasana duka masih menyelimuti bangsa  dan negara Indonesia. Rentetan kejadian ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur sangat menyayat hati. Hal tersebut membukakan mata kita semua, bahwa kelompok-kelompok dan jaringan teroris masih ada. Terlebih paham ISIS telah merasuki beberapa orang yang sebelumnya ke Suriah dan pulang kembali ke tanah air.

Selain itu teror bom yang memakan korban jiwa menghentak kesadaran kita, bahwa ditengah memanasnya suhu politik dari kubu pemerintah dan oposisi ada teroris yang juga berpolitik melalui teror bom. Maka, pasca ledakan bom ini semua elemen masyarakat yang pro pemerintah dan oposisi untuk sama-sama bergandengan tangan melawan terorisme.

Sudahi saling sidir, saling tuduh menyudutkan kelompok tertentu yang dianggap berpaham radikal dan tokoh-tokoh yang tak menyuarakan belasungkawa atau berduka atas teror bom jangan dicap pro teroris. Sebab hal tersebut belum tentu benar.

Komentar tersebut hanya akan memperkeruh suasana dan menimbulkan perseteruan baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Perlu juga untuk tidak berpendapat bahwa rentetan ledakan bom hanya rekayasa atau pengalihan isu.

Bagaimanapun aksi bom bunuh diri nyata di depan mata kita. Perbuatan tersebut sudah pasti sangat keji dan biadab. Tak tertutup kemungkinan aksi-aksi serupa masih terjadi, bisa menimpa siapa saja. Namun kita berharap pemerintah dapat mendeteksi keberadaan mereka, menumpas sampai ke akar-akarnya. Apalagi aksi bom bunuh diri sudah melibatkan anak kecil. Kita tentu sangat sedih kenapa sampai anak-anak jadi korban dan ikut dilibatkan pengeboman.

Kita khawatir kasus bom bunuh diri yang terjadi secara berurutan makin meluas manakala kita masih saja kisruh dengan komentar-komentar penuh kebencian, menyebarkan berita hoaks sehingga kita mudah lengah. Ketika kita masih ribut dan lengah, bisa pula mereka telah menyiapkan strategi pengeboman berikutnya.

Kepolisian memperketat pengamanan di seluruh wilayah Indonesia patut kita dukung. Sebab teror bom bunuh diri ini suatu warning serius dari kubu teroris melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Kita tunjukkan bahwa mereka berada diluar kita. Tugas kita yakni bisa saling bertoleransi, menyampaikan paham-paham teroris itu sesat dan tak dibenarkan oleh agama kepada siapapun.

Kepolisian yang selama ini kerap jadi target sasaran terorisme mesti meningkatkan dialog secara persuasif ke pemuka-pemuka agama, pelajar dan masyarakat demi memutus rantai paham-paham yang menyesatkan kepada generasi bangsa.

Terakhir, RUU Terorisme jika memang demi kebaikan bersama untuk segera disahkan. Poin definisi terorisme antara DPR-RI dan pemerintah belum sepakat dituding penyebab masih alotnya pengesahan RUU Terorisme. Dengan demikian isu terorisme ini jangan sampai dijadikan alat politik untuk mendapat simpati masyarakat. Bahwa pengesahan RUU Terorisme utamakan kepentingan bangsa dan negara. (ekadila@satelitpoost.com).