MASYARAKAT sedang digegerkan pemberitaan kasus pencabulan pada anak yang rata-rata berumur 10-15 tahun berjumlah 25 anak oleh seorang laki-laki berumur 49 tahun yang bekerja sebagai guru honorer di Kabupaten Tangerang Banten. Kemudian video porno yang viral  di media sosial, yang diperankan oleh satu orang perempuan dewasa dan dua anak laki-laki yang masih bersetatus sekolah dasar dan dilakukan di kamar hotel daerah Bandung, tersangka masih dalam proses penyelidikan.

Oleh: Teguh Wiyono MPdI

Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Terbuka Purwokerto

Tindakan pelecehan terhadap anak di bawah umur tersebut tentunya bertentangan dengan dasar hukum UU nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak dengan hukuman kebiri hingga hukuman mati. Lantas faktor apa saja seseorang melakukan tindakan tak bermoral kepada anak di bawah umur?

Maraknya pencabulan atau pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi dapat disebabkan karena lemahnya kontrol diri dan lemahnya kondisi psikologis seseorang. Pelaku cenderung orang-orang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sosial sekitarnya. Pada banyak kasus pedofilia, hal ini terjadi dikarenakan yang bersangkutan tidak mampu menjalin hubungan sosial dengan orang dewasa sesamanya. Penyebab lain juga bisa dipengaruhi oleh faktor tekhnologi yang mudah diakses seperti menonton film porno yang membuat pelaku tidak bisa menahan diri. Kemudian faktor pengangguran menjadikan pelaku memiki waktu luang dan ekonomi rendah. Mengkonsumsi alkohol dan lingkungan sosial yang bebas menjadikan adanya kesempatan dari pelaku untuk melancarkan pelakunya. Kemudian faktor riwayat pelecehan masa lalu, yaitu; adanya tindakan yang dilakukan oleh orang tersebut sehingga adanya keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama kepada orang lain. Faktor kelainan dan benci terhadap anak-anak, sehingga selalu ingin menyalurkan hasratnya kepada anak-anak. Selain itu, faktor rendahnya pendidikan baik moral maupun agama dalam diri seseorang dapat menimbulkan dampak terhadap individu, menjadikan yang bersangkutan mudah terpengaruh melakukan suatu kejahatan tanpa memikirkan akibat dari perbuatanya.

Hasil penelitian di Jerman menemukan bahwa usia korban cabul berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan pelaku. Dengan artian semakin rendah kecerdasan pelaku, semakin muda juga usia anak di bawah umur yang menjadi korban pencabulannya, hal ini sering disebut dengan kasus pedofilia, orangnya sering dikenal dengan predator anak.

Dampak dari kasus ini, korban akan mengalami trauma yang sangat berat. Korban biasanya akan menyendiri akibat malu terhadap dirinya sendiri atau hilanya kepercayaan diri dan menjadikan anak tidak mau untuk bersekolah. Lebih parah lagi, korban akan merasa benci terhadap dirinya sendiri dan ini sangat mengganggu psiskis korban. Trauma yang diderita korban biasanya akan bertahan sangat lama.

Jika kita amati di era sekarang atau sering dikenal dengan zaman now; rumah, sekolah, masyarakat dan pusat keramain bukan lagi tempat yang nyaman untuk bermain anak-anak. Kita sebagai orang tua menjadi merasa was-was dan cemas tentang keadaan mereka, Kita tidak hanya takut anak-anak kita menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual akan tetapi kita juga takut anak-anak kita menjadi pelaku dari tindakan tersebut. Lantas solusi apa yang harus kita lakukan untuk menangkal situasi tersebut yang dilakukan oleh para predator-predator anak?

Solusi untuk mencegah anak kita terhidar dari tindakan pelecehan seksusal yang dilakukan oleh para predator anak adalah dengan pemberian atau penanaman pendidikan pesantren. Pendidikan pesantren, adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya disebut dengan santri tinggal bersama-sama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan kiyai dan memiliki asrama untuk tempat menginap. Sistem pendidikan pesantren secara garis besar mendalami tentang pendidikan agama. Namun seiring berkembangnya jaman, sekarang banyak pondok pesantren banyak yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan umum madrasalah/sekolah/Boarding School, dengan pola pendidikan siang mempelajari tentang keilmuan umum dan sore sampai malam mempelajari tentang ilmu agama.

Manfaat dari kita mempercayakan pendidikan anak di pesantren, di antarnya; pertama, anak di samping menuntut ilmu pendidikan umum, juga mendapatkan pendidikan agama, sehingga terjadi keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama bagi dirinya. Ilmu agama akan menjadi fondasi bagi anak dalam menjalani kehidupanya. Seorang manusia bukan hanya cerdas secara intelektual saja, tetapi juga secara kepribadian, sosial, dan spiritual. Kedua, melatih kemandirian. Dengan mengikuti pendidikan pesantren anak dilatih untuk mandiri, mengelola dirinya, tidak cengeng, tidak terlalu ketergantungan kepada orang tua. Pada awalnya memang sang anak akan merasa tersiksa, merana merasa dibuang oleh orang tuanya, karena belum banyak yang kenal. Seiring dengan perjalanan waktu sang anak akan terbiasa dan akan merasa betah. Ketiga, melatih disiplin. Pesantren memiliki tata tertib yang harus ditaati oleh setiap santrinya dan tata tertib tersebut disertai sanksi bangi pelanggarnya. Keempat, membangun mental yang kuat. Pendidikan di pesantren dapat membangun mental yang kuat  sebagai bekal kehidupan.

Mari kita bersama-sama melindungi atau menangkal anak kita dari tindakan yang menghambat masa depanya dari kejahatan dengan pendidikan pesantren. Pesantren adalah tempat yang tepat untuk membentuk beberapa kecerdasan baik ilmu secara umum maupun agama pada anak. Di tengah tantangan yang semakin berat dan ketat, ketika banyak manusia terlalu menghamba pada IPTEK minus iman dan takwa kepada Tuhanya dan jauh semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan, pesantren menjadi solusi untuk membangun akidah dan menangkal para pelaku predator anak.(*)

BAGIKAN