Yuspita Palupi Redaktur SatelitPost

Sabtu pekan lalu saya melakukan perjalanan ke Surabaya. Sejak keberangkatan tak ada yang “janggal”. Kedatangan kereta api (KA) tepat waktu. Semua berjalan lancar hingga di Stasiun Solo Balapan semua ketenangan dan kenyamanan kami (penumpang KA, red) terusik.

Ternyata jalur yang biasa dilalui untuk saat itu tak bisa dilewati. Karena jalur tersebut masih steril paska kecelakaan dahsyat yang melibatkan KA Sancaka dan truk trailer pada Jumat (6/4). Kereta kami pun diputar arah, melalui wilayah utara. Tepatnya melalui Cepu dan Lamongan. Dengan konsekuensi jarak dan waktu tempuh yang molor hingga beberapa jam.

Sebagai bentuk tanggung jawab PT KAI, beberapa penumpang yang memiliki tujuan stasiun yang biasa dilalui seperti Sragen, Madiun, dan lain-lain difasilitasi dengan menggunakan moda transportasi darat lainnya, yakni bus.

Sementara itu penumpang yang memiliki tujuan akhir di Surabaya masih tetap dilayani dengan menggunakan kereta. Hanya saja dengan jalur memutar di atas. Atas keterlambatan itu, berkali petugas KA menyatakan permohonan maafnya. Sembari memberikan kompensasi berupa minuman mineral dan biskuit.

Cerita ini hanya ingin menunjukkan betapa dampak laka KA yang terjadi itu sangat luas. Nggak sebatas pada kereta dan kendaraan yang terlibat kecelakaan. Tapi sayangnya, belakangan kian banyak terjadi kecelakaan kereta api yang terjadi. Didominasi terjadi di perlintasan tak berpalang pintu.

Direktur Keselamatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Edi Nursalam mengatakan jumlah perlintasan kereta api di seluruh Indonesia sebanyak 5.800 titik. Sebanyak 4.600 di antaranya tidak terjaga atau liar. Sedangkan 1.200 atau 20 persennya terjaga.

Di Jawa Tengah sendiri, ada 429 titik perlintasan kereta api tanpa palang pintu dari total 535 titik perlintasan kereta yang tidak dijaga dan berpalang pintu. Sementara 106 perlintasan lainnya terjaga. Untuk wilayah PT KAI Daop 5 Purwokerto, di mana Cilacap masuk di dalamnya, ada 49 perlintasan kereta api dalam kondisi tidak terjaga alias liar.

Kondisi ini tentu saja menjadi permasalahan tersendiri. Terutama jika bicara masalah kerawanan laka lantas. Untuk itu PT KAI saat ini tengah melakukan penutupan perlintasan liar di seluruh Indonesia. Dan dalam tempo dua bulan pelaksanaan penutupan perlintasan liar, sejak Januari hingga Februari 2018, pihak PT KAI telah menutup 313 perlintasan liar di seluruh Indonesia.

Tak terkecuali dilakukan di wilayah Cilacap. Pada Maret lalu, PT KAI Daop 5 Purwokerto melakukan penutupan perlintasan liar yang menghubungkan Jalan Malabar dan Jalan Perkutut Timur. Warga kooperatif dan mengizinkan petugas melakukan penutupan.

Berlanjut, PT KAI Daop 5 berencana melakukan penutupan perlintasan liar yang berada di Jalan Kawi. Berbeda cerita, warga di sana menolak. Alasannya, jarak memutar arah yang cukup jauh. Penutupan tersebut juga akan membagi kelurahan. Sehingga dikhawatirkan berdampak pada sosial ekonomi warga.

Solusi pembuatan pos penjagaan diajukan. Sebagai win-win solution agak jalur tersebut tak ditutup dan aman untuk dilalui. Komunikasi telah dilakukan pihak pemkab setempat.

Persoalannya, bukan lagi masalah ada atau tak ada portal (berikut penjaga, red). Tapi bagaimana operasional pos tersebut ke depannya. Seperti di Kabupaten Kebumen dan lainnya, yang sudah  menindaklanjuti dengan pembuatan pos. Di pos tersebut dijaga berdasarkan swadaya warga dan dibiayai pemerintah daerah. Siapkah warga dan pemkab setempat akan konsekuensi ini?(yuspita@satelitpost.com)