Oleh: Muharsyam Dwi Anantama

Pengajar di Bimbingan Belajar “AKSI” Purwokerto

Tragedi pemboman Nagasaki dan Hiroshima, Jepang, menyisakan satu peristiwa inspiratif. Ketika bom atom menghancurkan dua kota tersebut, hal yang pertama kali ditanyakan oleh kepala negara Jepang yakni apakah masih ada guru dan buku yang tersisa? Hal tersebut mencerminkan betapa pentingnya sebuah buku bagi keberlangsungan berbangsa. Sebab buku merupakan arsip ilmu yang berisi ribuan mahkota pengetahuan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah namun juga ditopang oleh sumber daya alam yang berkualitas. Salah satu pilar penting dalam memajukan sebuah bangsa adalah aspek literasi atau peradaban buku.

Sarana yang paling tepat untuk memulai budaya literasi atau peradaban bukua dalah perpustakaan. Perpustakaan dapat dikatakan sebagai “soko guru” ilmu pengetahuan. Perpustakaan tidak sebatas sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga sebagai wadah untuk memperkaya pengetahuan. Dapat dikatakan, bahwa perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lahan yang subur bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan. Dapat diibaratkan, ketika seseorang berkunjung keperpustakaan,maka orang tersebut sesungguhnya sedang masuk ke dalam sebuah kebun yang penuh dengan buah-buah ilmu pengetahuan. Seseorang tersebut boleh memetiknya sebanyak mungkin.

Peran Perpustakaan

Perpustakaan memiliki peran yang vital dalam upaya menumbuhkan dan menyuburkan ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan amanat yang tercantum dalam UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Pada pasal 4 disebutkan bahwa perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hadirnya perpustakaan di tengah masyarakat harus mampu menjadi penopang dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Problematika yang dihadapi dewasa ini adalah keengganan masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Hal ini karena kondisi perpustakaan yang cenderung menjemukan. Perpustakaan seolah menjadi tempat eksklusif bagi mereka yang dijuluki “kutu buku”. Apa yang mereka lihat dari sebuah perpustakaan adalah sebuah ruang yang hanya berisi rak-rak buku. Bahkan beberapa buku di perpustakaan tergolong buku yang masih utuh, sebab belum pernah ada tangan yang menjamahnya. Padahal, selain sebagai tempat untuk belajar, perpustakaan semestinya bisa dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi intelektual. Hal ini senada dengan apa yang diamanatkan dalam pasal 3 UU No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Dalam pasal tersebut disuratkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Kesan eksklusif dari perpustakaan harus bisa dihilangkan. Perpustakaan harus bisa menjadi tempat untuk bertemu dan  belajar secara inklusif.

Perpustakaan ala Cafe

Perpustakaan harus hidup. Sudah bukan zamannya lagi perpustakaan hanya sebagai tempat untuk meminjam dan membaca buku. Lebih dari itu. Perpustakaan harus mampu menjadi tempat interaksi dan relaksasi, sekaligus sebagai wahana tumbuhnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, kreasi dan inovasi dalam hal pengelolaan perpustakaan sangatlah perlu. Hal ini untuk mengikis wajah perpustakaan sebagai tempat semadi karena selalu dikepung sunyi.

Salah satu terobosan yang bisa diupayakan untuk mengubah wajah perpustakaan menjadi tempat yang lebih menarik adalah dengan adanya cafe di dalam perpustakaan. Jamak kita temui adanya café atau warung edukasi. Pada dasarnya, café atau warung edukasi adalah sebuah tempat makan yang menambahkan fasilitas buku di dalamnya. Bukan hal yang haram juga jika konsep itu kita balik. Menambahkan ruang khusus berupa cafe di dalam perpustakaan. Ruangan tersebut adalah ruang yang berupa cafe pada umumnya. Sebuah tempat yang menyediakan berbagai macam menu, baik makanan maupun minuman. Namun, menu yang ditawarkan tidak perlu menu yang terlalu berlebihan. Cukup beberapa minuman, seperti kopi dan teh, serta berbagai camilan. Pengunjung yang datang ke perpustakaan dapat memesan berbagai menu tersebut sebagai pendamping ketika belajar maupun membaca buku.

Ruang khusus berupa cafe dalam perpustakaan tersebut, bisa dimanfaatkan pula sebagai tempat berbagai komunitas untuk berdiskusi dan belajar. Perlu kita sadari, ruang-ruang diskusi komunitas masih sangatlah terbatas. Perpustakaan sebagai salah satu “soko guru” ilmu pengetahuan harus mampu menyediakan wadah tersebut. Perpustakaan seyogyanya bisa memberikan tempat bagi pengembangan ilmu pengetahuan selain dengan menyediakan buku. Salah satunya adalah dengan cara membangun ruangan khusus berupa cafe di dalam perpustakaan.

Saya rasa konsep perpustakaan dilengkapicafe di dalamnya cukup menarik dan sesuai dengan kemajuan zaman. Perpustakaan dengan tambahan cafe di dalamnya bisa menarik minat masyarakat, khususnya mahasiswa untuk mengunjunginya. Sebab, gaya hidup masyarakat hari ini cenderung menyukai sesuatu yang sifatnya santai dan informal, tidak resmi dan kaku. Dengan adanya cafe tersebut, kesan ekslusif dari perpustakaan perlahan bisa terkikis. Perpustakaan bisa menjadi tempat untuk bertemu dan  belajar secara inklusif.

Pada dasarnya kreasi dan inovasi terhadap suatu hal pasti memiliki tantangan. Demikian pula dengan kreasi dan inovasi dalam hal penambahan cafe di dalam perpustakaan. Kesiapan dan penambahan jumlah sumber daya manusia sebagai pengelola perpustakaan mutlak diperlukan. Pengelola perpustakaan harus mempersiapkan diri dalam dua hal, sebagai pustakawan dan sebagai pelayan cafe. Penambahan pegawai sebagai pengelola perpustakaan harus dilakukan. Selain itu, penyediaan ruang yang akan diperuntukkan sebagai cafe di dalam perpustakaan juga harus benar-benar diperhatikan. Jika tidak, pengunjung yang membutuhkan suasana sunyi di dalam perpustakaan akan terganggu dengan hadirnya cafe di dalam perpustakaan.

Zaman terus melangkah. Begitu juga dengan ilmu pengetahuan yang terus bergerak. Sebagai “soko guru” ilmu pengetahuan, perpustakaan harus mampu menunjukkan kekokohannya. Jika “soko guru” tersebut tidak kuat, maka ilmu pengetahuan sebagai bangunannya pun akan terancam runtuh. Kreasi dan inovasi dalam pengembangan perpustakaan amatlah mendesak. Sudah bukan saatnya lagi perpustakaan hanya sebagai sarang dari “kutu buku”. Harus lebih dari itu. Perpustakaan harus mampu menyediakan tempat bertemu, berdiskusi, dan belajar secara inklusif. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah menambahkan cafe di dalam perpustakaan. Penambahan cafe di dalam perpustakaan bisa mengubah citra dari perpustakaan yang kaku dan membosankan menjadi tempat yang bersahabat dan menyenangkan. Muaranya ialah mendorong masyarakat untuk lebih tertarik berkunjung ke perpustakaan.