Eka Dilla Kurniawan, Asisten Redaktur SatelitPost

Arus mudik telah tiba. Tahun ini ada yang agak berbeda. Fenoma yang mencuat biasanya saat peristiwa arus mudik Lebaran yakni lalulintas macet, kecelakaan meningkat, dan pemudik yang berjubel di stasiun, terminal maupun bandara. Akan tetapi kali ini ada satu fenoma baru, nuansa politik ikut terbawa dalam tradisi mudik.

Tengok saja spanduk yang terbentang di ruas-ruas jalan tol yang dilewati untuk mudik di sejumlah daerah seperti Spanduk di daerah Semarang bertuliskan,” Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H. Pendukung #2019GantiPresiden, Anda sedang melewati jalan Tol Pak Jokowi’. Selain itu gerakan membunyikan klakson 3x bagi pendukung #2019GantiPresiden turut pula meramaikan nuansa mudik.

Sayangnya, tokoh-tokoh elit politik pun tak ada yang menghentikannya. Para tokoh elit politik dari parpol pendukung Jowoi maupun yang bukan ini mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Padahal jelas spanduk-spanduk itu dan gerakan membunyikan klakson 3x  mengindikasikan dua kubu secara terang-terangan tak mau akur. Yakni yang pro Jokowi tetap kukuh atas tuduhan fitnah kalau Jokowi selama ini gagal bekerja sebagai Presiden dengan menunjukkan kata-kata ‘Ini Tol Jokowi’. Sebab telah banyak tol-tol yang diresmikan oleh pemerintah Jokowi-JK. Sedangan yang kontra Jokowi satu di antaranya menganggap banyak janji yang belum ditepati sehingga muncul gerakan #2019gantipresiden. Selanjutnya muncul ide membunyikan klakson 3x.

Ya, tradisi mudik seharusnya terlepas dari nuansa politik. Jika infrastruktur jalan makin baik memang sudah sewajarnya kewajiban pemerintah mempermudah sarana infrasturkur transportasi di seluruh pelosok negeri. Dan biaya tersebut tak lepas dari uang pajak rakyat, sehingga siappun berhak menggunakannya. Termasuk untuk mudik Lebaran.

Jika memang keberhasilan pemerintah melayani arus mudik dan balik Lebaran tahun ini dikhawatirkan akan meningkatkan elektabilitas petahana pada pilpres alangkah elok untuk sejenak menahan menyerangnya.

Maka nikmatilah saja perjalanan mudik Anda, tak perlu merisaukan aksi kreativitas bernuansa politik tersebut. Toh Pilpres masih lama. Pemerintah kita harapkan tetap konsen memberikan pelayanan yang terbaik selama arus mudik dan balik Lebaran 2018.

Kita harapkan, pada saat Idulfitri nanti, akan muncul foto atau video silaturahmi dari pendukung dua belah pihak untuk memberi pesan perbedaan politik boleh saja asalkan jangan sampai memperpecahbelah kesatuan bangsa. Atau pada saat open house Presiden Joko Widodo, para elit politik yang selama ini kiritis terhadap Jokowi akan turut hadir pada open house di Istana Negara.

Alangkah indahnya Idulfitri seluruh umat Muslim merayakan dengan penuh kegembiraan, jangan sampai perpedaan politik diantara keluarga, kerabat merenggangkan silaturahmi. Sebagaimana lirik lagu Hari Lebaran karya Ismail Marzuki: Setelah berpuasa satu bulan lamanya. Berzakat fitrah menurut perintah agama. Kini kita beridul fitri berbahagia. Mari kita berlebaran bersuka gembira

Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafkan. Hilang dendam habis marah di hari lebaran Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafkan. Hilang dendam habis marah di hari lebaran. Minal aidzin wal faidzin. Maafkan lahir dan batin. Selamat para pemimpin. Rakyatnya makmur terjamin. (ekadila@satelitpost.com)