Politik

Beberapa tahun lampau angin politik di Malaysia sempat menguntungkan Anwar Ibrahim. Lelaki ini digadang akan jadi pengganti Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Saat itu pula, posisi Anwar Ibrahim sangat dekat dengan Mahathir.

Kala Mahathir sebagai perdana menteri, Anwar Ibrahim adalah wakilnya. Namun, angin politik kemudian berubah tak menguntungkan bagi Anwar Ibrahim. Dia seperti diterpa air bah. Karier politiknya perlahan hancur berantakan. Dia kena kasus korupsi.

Kolega politik Anwar menilai bahwa dua kasus itu hanyalah cara untuk menjatuhkan karier politiknya. Anwar pun kemudian dihukum atas kasus tersebut. Hubungan Anwar dengan Mahathir Mohammad merenggang. Pada 2004, Anwar bebas dan dia kemudian mendirikan Partai Keadilan Rakyat (PKR). PKR bersama beberapa partai lainnya membangun koalisi dan menyatukan diri dengan nama koalisi Pakatan Harapan.

Anwar menjadi sangat vokal pada pemerintahan. Lebih-lebih ketika Malaysia dipimpin oleh Perdana Menteri Najib Razak. Ketika head to head antara Anwar dan Najib, Mahathir ada di belakang Najib. Mahathir juga yang mendukung Najib jadi perdana menteri.

Tapi politik itu dinamis. Anwar yang awalnya rekat dengan Mahathir, kemudian terbelah. Tapi, belakangan keduanya rekat kembali. Keduanya pun berada di barisan depan koalisi oposisi. Anwar dan Mahathir bersatu, sekalipun dalam kondisi Anwar terkena kasus sodomi, yang juga oleh koleganya dinilai sebagai rekayasa politik. Anwar dan Mahathir bersatu melawan Najib Razak.

Anwar dan Mahathir menang di pemilu 2018. Sesuai dengan kesepakatan, Mahathir jadi perdana. Kemudian, setelah dua tahun, Mahathir mengaku akan meletakkan jabatan perdana menteri karena usianya kini sudah 92 tahun. Jabatan perdana menteri itu kabarnya nantinya akan diserahkan ke Anwar Ibrahim.

Itulah politik elite. Bisa berubah dan dinamis. Jika politik elite bisa berubah dan dinamis, sebenarnya di akar rumput tak perlu bersitegang habis-habisan. Bayangkan saja, jika ada elite berseberangan, kemudian akar rumput berseberangan lebih keras lagi. Akar rumput saling menghujat, saling menyerang di dunia maya dan dunia nyata hanya karena elite politiknya berseberangan.

Lebih parah lagi jika hanya karena beda pandangan politik warga di bawah harus berdarah-darah benturan fisik. Hanya karena beda pandangan politik antara saudara bermusuhan layaknya perang dingin.

Coba bayangkan jika elitenya kemudian berdamai karena kepentingan politik, sementara akar rumput sudah bersitegang dan berdarah-darah untuk kepentingan pimpinannya yang bisa berubah haluan.

Indonesia, kini dalam fase tahun politik. Tahun ini adalah tahun pilkada dan tahun depan adalah tahun pemilu legislatif dan pemilu presiden. Tensi politik jelas akan tinggi. Berseberangan ide jelas akan muncul.

Politik memang serius, tapi sangat dinamis. Tidak ada kawan dan lawan abadi. Kini lawan, besok bisa jadi kawan. Kini kawan, besok bisa jadi lawan. Bagi warga biasa, serius berpolitik perlu, tapi tak penting untuk saling bersitegang habis-habisan. Sebab, saat yang bawah bermusuhan, elite politiknya bisa saja langsung bermesraan. (kholil@satelitpost.com)