Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost
Rudal Afgani Dirgantara Redaktur Pelaksana SatelitPost

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Banyumas tengah dilanda prahara. Bagaimana tidak, Kejaksaan Negeri Banyumas dan Purwokerto dikabarkan sama-sama mengusut dugaan penyalahgunaan dana hibah dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Banyumas tahun anggaran 2016-2018. Kejaksaan Negeri Banyumas bahkan sudah memeriksa delapan orang petinggi KONI Banyumas.

Gonjang-ganjing di tubuh KONI bermula dari prestasi Banyumas di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah tahun 2018 lalu. Prestasi Banyumas merosot ke posisi lima dibanding tahun sebelumnya yang selalu langganan tiga besar. Pada Porprov 2018, Banyumas meraih 50 medali emas, 46 perak dan 70 perunggu. Ini jauh di bawah target 100 emas seperti yang dicanangkan KONI sebelumnya.

Pada saat yang sama, KONI Banyumas digelontor dana hibah hingga Rp 26 miliar lebih. Angka ini cukup fantastis karena tertinggi di antara 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Nyatanya, capaian Banyumas ada di bawah Semarang, Solo, Kudus, dan Grobogan.

Kesenjangan antara prestasi dan anggaran yang digelontorkan inilah yang kemudian mengundang kecurigaan, benarkan dana miliaran rupiah itu digunakan sepenuhnya untuk pembinaan atlet. Kecurigaan yang bercampur dengan kekecewaan ini kemudian menggelinding menjadi bola panas. Bupati dan dewan sempat memanggil jajaran KONI. Hingga akhirnya Inspektorat diinstruksikan untuk mengaudit dana hibah yang dikucurkan untuk KONI. Belakangan, hasil audit setebal 8 Cm sudah dilaporkan ke Bupati Banyumas. Hasil audit ini juga dikabarkan sudah diserahkan ke Kejari.

Persepsi bahwa semakin besar anggaran maka akan semakin tinggi prestasi memang tak muncul begitu saja. Untuk menghasilkan atlet berprestasi, butuh sarana dan prasarana latihan yang memadai. Belum lagi tenaga pelatih dan uji tanding sebagai sarana evaluasi dan pembentukan mental juara. Semua itu tidak gratis. Butuh biaya yang tidak sedikit tentunya.

Oleh karena itu, ihwal anggaran selalu menjadi kambing hitam ketika prestasi olahraga terpuruk. Pengurus selalu berkeluh kesah soal anggaran dan anggaran. Maka logis ketika publik mempertanyakan prestasi ketika sudah digelontor dana yang lebih besar namun capaian justru merosot.

KONI tentu saja sah membela diri dengan berbagai alasan. Sejauh yang sudah diutarakan ke publik, KONI berkilah keterpurukan prestasi pada ajang Porprov lantaran 70 persen atlet yang diterjunkan ialah atlet yunior. Untuk ukuran atlet yunior, total 166 medali dinilai sebagai prestasi yang patut disyukuri. Namun tetap saja, publik menilai fakta bahwa prestasi Banyumas merosot ketika persoalan dana sudah teratasi.

Meskipun demikian, kecurigaan hanyalah kecurigaan. Semua harus dibuktikan secara hukum. Sebelum terbukti secara hukum melalui proses pengadilan, asas praduga tak bersalah harus tetap dipagang. Kita tunggu kerja Kejaksaan Negeri yang menangani kasus ini, sambil udud dan ngopi-ngopi. Mari..(afgan@satelitpost.com)