Pungky Prayitno

Tahun 2015 lalu, midjournal.com menerbitkan sebuah tulisan karya seorang penulis muda dari Purwokerto, Pungky Prayitno. Dalam tulisan ini, Pungky menggambarkan Purwokerto, kota yang memiliki banyak makna dan memberi ribuan kisah baginya.

Purwokerto bagi Pungky yang dibesarkan di Depok, Jawa Barat tak hanya sebatas kota perantauan tempatnya kuliah. Lebih dari itu, kota ini memberinya banyak hal, teman, sahabat, hidup, bahkan keluarga. Saya, adalah pria beruntung yang menjadi bagian pertama dari keluarganya.

Yang paling mengena adalah bahwa Purwokerto, bagi Pungky merupakan kota di mana frasa bahagia itu sederhana dalam arti sebenarnya benar-benar ada.

Bait pertama tulisan tersebut menggambarkan letak geografis Purwokerto. Kota kecil yang berada di kaki Gunung Slamet. Tiga jam kereta api dari Yogyakarta. Tak punya bandar udara, tak ada jalan tol. Sekitar satu setengah jam perjalanan menuju pulau Nusakambangan.

Pungky menggambarkan, di Purwokerto tak ada tempat minum kopi secangkir empat puluh ribu dalam plaza. Jangan harap juga menemukan toko busana dengan label kelas atas. Paling megah hanyalah restoran ayam berlogo kolonel berjanggut putih yang sering sepi pengunjung.

Mentok mewah adalah kedai es krim lima puluh ribu per cup yang sekarang sudah tutup. Mall dan plaza di sini, sebenar-benar pusat perbelanjaan. Tempat pemilik-pemilik warung membeli ciki dan deterjen grosiran untuk dijual ulang. Sentra mamah-mamah muda tua membeli kebutuhan rumah tangga, dan keluarga-keluarga borong baju baru jelang hari raya. Sudah.

Pungky berkisah tentang bagaimana murahnya hidup di Purwokerto. Bahagianya, ada di kedai-kedai kopi pinggir jalan, yang menawarkan kudapan nikmat seratus ribu bisa kenyang berenam. Berteman musik akustik atau panggung lawak tunggal, obrolan cinta sampai bahasan kesejahteraan rakyat terdengar hangat.

Bahagianya, ada di diskusi gila di kantin-kantin kampus, bersama nasi tempe penyet empat ribu perak, kenyang. Mau sudah kerja, atau bahkan sudah beranak cucu moyang, duduk di kantin atau teras UKM kampus lalu bertukar isi kepala, adalah pintu keluar dari pengapnya rutinitas.

Bahagianya, ada di dentum-dentum panggung musik dengan tiket paling mahal seratus ribu, paling sering cuma-cuma. Musik apa saja dalam rangka apa saja. Juaranya, adalah penampilan musisi-musisi lokal yang punya lagu-lagu lebih berisi daripada genjrengan di televisi.

Bahagianya, ada di taman-taman kota yang menawarkan tanah lapang dan sewa otopet lima ribu rupiah sampai bosan. Anak-anak di Purwokerto lebih suka meniup balon sabun di alun-alun hingga tangan lengket daripada bermain mesin di arena modern yang harus bayar mahal. Kereta putar di dalam plaza pasti iri dengan odong-odong pasar kaget setiap Minggu pagi, yang selalu ramai antrean bocah.

Bahagianya, ada saat berjalan kaki ramai-ramai menyusuri bukit, hutan, lalu berakhir memanjakan diri dengan spa alam lengkap dengan lulur sulfur, di kaki gunung Slamet. Menyaksikan pemandangan kalender warung bakso tergelar di depan mata. Kebun, sawah, bukit, sungai, mata air, pancuran air hangat, semua bisa dinikmati bermodal dua ribu perak untuk bayar parkir. Ingin ke sana? Kalipagu, nama kawasannya. Naik motor atau mobil dari kota, paling 15 menit. Macet di koPurwokerto cuma ada di malam Minggu, itu pun paling lama 10 menit.

Bahagianya ada di pernyataan cinta dari kekasih sambil melihat hamparan Purwokerto dari ketinggian. Kalau punya uang, ritual gombal-gombalan ini bisa dihelat di satu-satunya sky poolbar di Purwokerto. Kalau tak punya atau tak mau keluar kocek, berangkatlah ke Baturaden. Ada bukit bintang, tempat lampu-lampu kota menyatu dengan bintang tanpa garis. Satu-satunya gedung tinggi di sini, ya hotel tempat sky poolbar itu. Jadi, saat kamu berada di tempat yang tinggi, kamu betul-betul akan melihat indahnya hamparan kota. Bukan jendela gedung asing.

Apa yang diceritakan Pungky tiga tahun lalu sekarang tinggal kenangan. Purwokerto sudah jauh berubah. Pelan tapi pasti, kota tercinta ini mulai bertransformasi. Macet, panas, dan barang-barang mahal mulai menyesaki kota. Beberapa tahun ke depan, Purwokerto nyaman yang ada di benak Pungky mungkin bakal hilang total. Saat itu terjadi, frasa bahagia itu sederhana sebenar-benarnya pun akan ikut sirna.

BAGIKAN