Dedy Afrengki Redaktur SatelitPost

Informasi unik seputar racun kalajengking yang diungkapkan Presiden Jokowi saat Musrenbangnas para kepala daerah seluruh Indonesia, 30 April lalu, bikin geger.

Beliau mengungkapkan soal racun kalajengking sebagai peluang bisnis baru, karena harga per liternya mencapai miliaran rupiah.

Jelas tak butuh waktu lama, ‘Scorpion Jokowi’ ini langsung viral karena dijadikan objek baru ledek-ledekan antar kubu politik, terutama di dunia maya.

Melirik kalajengking sebagai bisnis, memang masih terasa aneh. Sayangnya, dalam suasana tahun politik begini lebih banyak debat nyinyirnya ketimbang memandang ini secara positif sebagai sumber uang yang belum tergarap.

Sebetulnya, tidak ada yang keliru dengan ucapan presiden tentang bisnis racun kalajengking ini. Berdasarkan sejumlah sumber, racun kalajengking memang banyak dimanfaatkan di dunia medis.

Bisanya banyak dimanfaatkan untuk penghilang rasa sakit, memerangi sel kanker, mengobati penyakit tulang, hingga pencegah malaria.

Karena tingkat kesulitan untuk mendapatkannya sangat tinggi, maka tidak heran kalau harga satu gram racun kalajengking dijual dengan harga sekitar 8.000 dollar AS atau sekitar Rp 106 juta. Jadi sangat masuk akal, kalau harga per liternya mencapai ratusan miliar rupiah.

Karena informasi ini tergolong baru dan cukup asing di Indonesia, tak bisa disalahkan juga banyak yang bertanya-tanya. Cukup sulit untuk menimbulkan keyakinan, bahwa komoditas ini layak dilirik untuk dikembangkan.

Sebenarnya sudah banyak contoh di Indonesia, sesuatu yang sebelumnya dianggap remeh bahkan tidak dianggap sama sekali, kemudian berubah menjadi ladang bisnis beromset ratusan juta per bulan.

Sebut saja budidaya semut rangrang, penghasil kroto atau telur semut yang banyak digunakan untuk pakan burung berkicau atau umpan pancing. Di Purwokerto saja, kroto rata-rata dijual dengan harga Rp 200 ribu lebih per kilogramnya. Padahal awalnya banyak juga yang nyinyir, “ternak koq, ternak semut!”

Banyak orang yang takut atau jijik dengan kecoa, tapi ternyata tak sedikit juga yang bisa meraup rupiah dari ternak kecoa. Pebisnis kecoa, jadi pemasok bagi perusahaan farmasi untuk membuat obat sakit jantung, liver, bahan pembuat lotion luka bakar dan kosmetik.

Dalam skala kecil, peternak kecoa jadi pemasok bagi komunitas pemelihara ikan dan burung yang rata-rata bisa menjual 1 kotak berisi 50 ekor kecoa dengan harga Rp 20 ribu.

Belajar dari kroto, kecoa atau budidaya tikus putih, walet hingga cacing tanah, niscaya kelak muncul juga pebisnis kalajengking. Karena kalau dilihat sepintas, budidaya kalajengking sepertinya relatif simpel dan cukup memungkinkan untuk dikembangkan dengan skala rumahan.

Meski harus diakui, mengumpulkan racun kalajengking itu bukanlah persoalan mudah. Kalaupun terkumpul, pasarnya juga belum tersedia bebas.

Semua orang boleh dan sah-sah saja berasumsi atau menafsirkan ungkapan seputar kalajengking ini. Tetapi gurihnya bisnis kalajengking ini, juga sangat patut untuk dimaknai murni dari sudut pandang ekonomi. ([email protected])