Rentenir

Hiruk pikuk persoalan lintah darat alias rentenir sebetulnya sudah berlangsung lama. Banyak pihak yang ingin sekali menyingkirkan mereka. Tapi rata-rata belum membuahkan hasil yang jelas. Masyarakat yang memilih pinjam uang di rentenir itu selalu ada, karena mereka banyak menawarkan kemudahan.

Meski bunganya tinggi, rentenir hadir setiap saat. Butuh uang mendadak kala anak harus bayar sekolah, hadirrr.. Butuh uang mendadak untuk biaya rumah sakit, cap cus langsung cair! Bahkan mereka juga rajin menyambangi pedagang mikro yang perputaran uang per harinya tak menentu. Pinjaman Rp 1 juta, Rp 2 juta untuk menambal sedikit kebutuhan menjadi hal yang biasa.

Beberapa tahun lalu di Purbalingga, ada penjual yang kebingungan karena akte lahir disita rentenir. Hutangnya tak kunjung lunas juga, dokumen pun jadi jaminan. Masalah lainnya juga sempat terjadi di Banyumas, ketika seorang pedagang harus membayar bunga pinjaman yang terus mekar diantara himpitan ekonomi.

Kepingin sekali hutang di bank, tapi persyaratannya ruwet. Mau masuk ke bank, tapi sungkan. Ingin pinjam uang ke bank, tapi takut salah. Takut juga kalau permohonan pinjamannya ditolak. Pinjamlah akhirnya ke rentenir, yang mudah, cepat, tidak ribet. Tapi konsekuensinya, bunga tinggi. Beberapa hal ini yang biasanya banyak terjadi di masyarakat.

Lalu belum lama, Otoritas Jasa Keuangan meluncurkan Bank Wakaf Mikro. Tujuannya jelas, untuk memerangi rentenir. Pokoknya rakyat miskin bisa pinjam uang untuk modal usaha mikro dengan mudah.  Hal ini dikatakan oleh Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Soekro Tratmono saat OJK melakukan media gathering di Purwokerto.

Konsep Bank Wakaf Mikro ini sebetulnya sederhana. Bank Wakaf Mikro berbadan hukum koperasi, di bawah Kementrian Koperasi. Sementara izin usahanya berada di bawah OJK, pengelolaannya di bawah pesantren. Dana Bank Wakaf Mikro sendiri berasal dari donatur. Artinya, uang modal ini bukan uang yang harus kembali, seperti hanya uang investor. Dananya benar-benar dari donasi.

Bank Wakaf Mikro memberikan pinjaman sebesar Rp 1 juta untuk setiap nasabahnya. Angsurannya pun sangat ringan, yakni Rp 20 ribu selama 50 minggu. Hal yang menarik dari Bank Wakaf Mikro adalah proses pendampingan nasabahnya. Setiap nasabah yang mencicil hutang, akan didampingi. Tiap minggu mereka berkumpul, bayar hutang cicilan, sambil mendengarkan tausiyah dari ustaz, dan diberikan pengarahan tentang penguatan ekonomi keluarga.

Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Soekro Tratmono sendiri mengatakan, pendampingan ini adalah kunci suksesnya Bank Wakaf Mikro. Bahkan gegara pendampingan, Non Peforming Financing alias kredit bermasalahnya bisa nol! Dalam satu kelompok untuk pertemuan mingguan, mereka menggunakan sistim tanggung renteng.

Tanggung renteng ini artinya, setiap anggota alias nasabah harus siap menanggung jika ada satu diantara anggota tidak mampu membayar hutang. Pilihannya adalah ‘menambal’ hutang dan menanggungnya bersama, atau mengeluarkan anggota dan mencari nasabah lain untuk menggantikannya. Lalu benarkah rentenir bakal punah dengan adanya model pembiayaan berbasis pendampingan komunitas ini? Kita lihat saja.(sugesti@satelitpost.com)

BAGIKAN