Topan Pramukti Asisten Redaktur SatelitPost

Beberapa hari terakhir, sampah menjadi buah bibir bagi masyarakat Banyumas. Tak hanya di dunia maya, melalui grup-grup media sosial yang isinya para pejabat dan kaum intelektual, masalah sampah juga dibahas oleh mereka yang hidup di kawasan pedesaan pinggiran kota Purwokerto.

Bahasan soal sampah bahkan menjadi teman setia dan topik luar biasa saat menghabiskan malam di pos ronda.  Perkara sampah ini bahkan mengalahkan euforia Mohamed Salah yang air matanya bercucuran saat terpaksa meninggalkan laga final Liga Champions.

Sampah sekarang ini menjadi momok bagi warga Banyumas, khususnya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan. Bukan tanpa sebab, beberapa hari terakhir, tempat pembuangan akhir di Kaliori ditutup warga karena limbah dari tempat pembuangan limbah tersebut mencemari lingkungan sekitar.

Setelah menjadi buah bibir, sampah mulai mendapatkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintahan level kabupaten yang sekarang hanya dipuncaki oleh seorang sekretaris daerah. Pemerintah yang selama beberapa pekan terakhir terlihat tidak mengambil langkah apapun terkait protes yang terus digaungkan oleh warga Kaliori.

Warga yang saking jengahnya mengambil langkah berani. Menghadang truk-truk pengangkut sampah yang hendak menuju TPA Kaliori.  Imbasnya, tempat-tempat pembuangan sampah sementara pun ditutup warga yang tinggal di sekitar instalasi pengelolaan sampah awal tersebut. Sebab, sampah hanya menumpuk di sana dan tak ada truk yang kemudian membawanya ke TPA.

Aksi warga ini membuat pengelolaan sampah tersendat. Pemerintah pun dengan enaknya mengeluarkan sebuah surat himbauan. Agar warga di Purwokerto dan sekitarnya mencoba mengelola sampah secara swadaya.

Pengelolaan swadaya ini mungkin menjadi solusi sementara untuk sampah-sampah domestik. Namun, mereka yang bergerak di industri perhotelan dan jasa kuliner tidak bisa serta-merta tertangani dengan cara ini. Penanganan sampah dari usaha-usaha semacam ini butuh campur tangan pemerintah. Butuh fasilitas dari lembaga-lembaga yang memiliki tugas khusus mengurus perkara semacam ini, DLH misalnya.

Kabar terakhir dalam balada runtah ini adalah pembukaan kembali TPA Kaliori. Tentunya dengan beberapa syarat, di antaranya membatasi volume sampah maksimal hanya 15 truk per hari. Syarat ini diterima, sehingga TPA Kaliori pun kembali dibuka. Meski demikian, kita semua tahu, masalah ini belum terselesaikan dengan baik. Dinas dan pemerintah harus berpikir lebih keras untuk menemukan solusi permanen untuk Banyumas yang sedang darurat sampah.

Selain DLH, ada baiknya pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga membentuk divisi khusus untuk mengurus masalah sampah. Kenapa? karena di dunia maya, banyak warga negara yang seenak jidat nyampah di mana-mana.

Sampah ini tak hanya dibuang sembarangan oleh para warganet. Sejumlah lembaga-lembaga berita di bangsa ini juga kerap membuang sampah-sampah berkedok berita. Sampah paling ramai dalam beberapa waktu terakhir adalah sampah terkait kisah Mohamad Salah.

Sampah-sampah yang diberi judul untuk menarik perhatian masyarakat maya. Sampah yang dikemas dalam tulisan-tulisan singkat nan aneh dan tak mencerdaskan.

Salah tak dapat dipungkiri memang pemain bola yang luar biasa hebat. Namun, agamanya lah yang lebih membuat masyarakat bangsa ini terkesima. Imbasnya, banyak media menyajikan berita-berita yang hanya mengeksploitasi sisi agamanya saja. Isinya, belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya.

Final Champions kemarin  malam membuat sampah terkait Salah makin tersebar luas dan mencemari jagad maya. Di mana-mana, yang ada hanyalah hujatan untuk Ramos dan Salah mendapatkan rasa iba.

Bagi saya, hal-hal semacam hujatan untuk Sergio Ramos bukanlah hal yang bisa didiamkan saja di dunia maya. Hujatan-hujatan yang hanya didasarkan pada afeksi untuk Salah semata. Sampah-sampah seperti ini, seharusnya menjadi tanggung jawab dari Kemenkominfo.(pan)