Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Kholil Rokhman

Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Ketika sang ibu tergolek lemas, orang-orang menyerang dirimu dengan kata-kata yang menyayat, menyakitkan. Hanya karena kamu dan beberapa temanmu gagal membawa Iran lolos ke babak gugur Pial Dunia 2018.

Adalah Sardar Azmoun, pemain muda, masih 23 tahun, yang ditahbiskan sebagai Lionel Messi dari Iran. Aksinya menggocek bola membuat nama Messi disematkan pada dirinya. Tapi, Sardar hanyalah Sardar. Dia adalah sebagian dari 11 pemain yang gagal membawa Iran lolos ke babak gugur.

Sejatinya, sepak bola adalah permainan. Permainan yang serius. Sebab untuk bisa bermain 90 menit, seseorang harus menyiapkan diri dengan luar biasa. Lari selama 90 menit dengan stabil atau dengan kecepatan tertentu karena mengejar bola, jelas bukan persoalan gampang.

Seseorang harus melatih ototnya, melatih kemampuan kakinya, kemampuan analisisnya di atas lapangan sehingga dia tahu bagaimana sepak bola yang benar itu dimainkan. Sepak bola hanya permainan, tapi permainan yang serius. Sebab, untuk ajang piala dunia, seorang pemain harus bersaing dengan ratusan, ribuan, bahkan jutaan pemain bola di negaranya.

Setelah bersaing dengan pemain lain, maka dia harus membawa negaranya lolos ke piala dunia. Jika sampai ke piala dunia, seorang pemain yang hebat di kualifikasi, bisa jadi tak dimainkan karena alasan teknis. Jadi sepak bola adalah permainan yang serius dan melelahkan.

Namun, seserius apapun, permainan adalah permainan. Harus ada yang menang dan harus ada yang kalah. Sebab, memang seperti itulah kompetisi. Jika kalah, maka sedih adalah bagian yang kadang tak terpisahkan. Jika menang, gembira dan rasa puas adalah bagian yang sering menemani.

Namun, sedih bukan berarti mencaci pemain yang sudah habis-habisan di atas lapangan. Sedih, bukan berarti mencerca sang pemain dengan sebutan tidak nasionalis. Bagaimana seseorang bisa dikatakan nasionalis atau tidak hanya dalam rentang waktu 2 x 45 menit?

Kadang dunia maya memang kejam. Relasi sosial tanpa pandang mata ini membuat jemari seperti tak terkendali. Serampangan membuat kesimpulan. Tak ada hormat dan etika dalam mengungkapkan perasaan. Sardar adalah bagian dari orang yang disakiti oleh mereka yang tak bertanggungjawab di dunia maya.

Mungkin, mereka yang mencaci dan membully di dunia maya itu, menggerakkan jemarinya di telepon genggam sambil makan makanan enak, sambil bersenda gurau, bahkan mungkin sambil berdua dengan sang istri. Satu pernyataan keruh kemudian disampaikan lewat telepon genggam, dan mereka yang menuliskan cacian itu setelahnya bisa saja dengan santai lenggang kangkung kembali ke rutinitas semulanya. Mereka yang mencerca itu mungkin malah tak memikirkan bagaimana Sardar bertarung habis-habisan membesarkan hati sang ibu yang sudah sedih bukan kepalang.

Sardar yang masih muda itu kemudian memilih menemani ibunya. Dia memilih pensiun dari Timnas Iran. Bagi Sardar sepak bola hanyalah permainan dan sudah sejatinya tak dijadikan ajang pembantaian dengan kata-kata di dunia maya. Sardar memilih pensiun karena duka lara sang ibu, dan Sardar telah memilih jalan yang benar, paling tidak menurut saya. (kholil@satelitpost.com)