Selamat Mudik

Memasuki minggu terakhir menjelang hari raya idul fitri, mudik atau pulang kampung menjadi kegiatan yang selalu dirindukan. Terutama bagi perantau, seberat apapun persiapan dan pengorbanan yang dilakukan tidak akan pernah menimbulkan penyesalan.

Mudik Lebaran, memang menjadi ritual wajib bagi masyarakat Indonesia. Semua orang berbondong-bondong menyempatkan diri untuk pulang menemui sanak saudara atau keluarga tercinta di kampung halaman.

Karena mudik terlanjur menjadi tradisi, mayoritas orang Indonesia sangat mementingkan ritual tahunan ini. Kembali kepada tanah leluhur, tempat dilahirkan dan dibesarkan.

Tidak heran banyak orangtua yang anak-anaknya tidak mudik, bakal menitikkan air mata ketika mendengar lantunan takbir pada malam Lebaran.

Pun demikian dengan si anak, akan merasa bersalah dan berdosa jika pada waktu Lebaran tidak bisa mudik untuk meminta maaf kepada orangtuanya secara langsung.

Selain itu, tradisi yang konon sudah ada sejak zaman Majapahit ini juga menjadi momen tepat untuk melakukan reuni bagi mereka yang pernah menjalin ikatan. Baik sebagai keluarga besar (trah), maupun ikatan lain seperti sekolahan, atau komunitas tertentu yang lama tidak bertemu. Mudik menjadi simbol konektivitas sosial masyarakat kita yang sangat kental dengan tradisi silaturahmi.

Kalau ditelaah lebih jauh, ada begitu banyak hikmah yang bisa dipetik dari tradisi asli Indonesia ini. Mudik mendidik sifat sabar dan disiplin di perjalanan, minimal kita diajarkan lebih menghargai orang lain ketika harus mengantri di jalur macet misalnya.

Mudik juga menjadi sarana menanamkan semangat berbagi dan peduli, lewat zakat, infak dan sedekah di kampung halaman.

Memang tak dapat dipungkiri, ada juga sebagian orang yang menjadikan mudik sebagai ajang show off tentang keberhasilan perjuangannya di perantauan.

Mereka yang sukses dan berlimpah materi, berkesempatan memperlihatkan gengsinya. Perilaku pamer status sosial ini ditandai dengan memamerkan kendaraan, baju baru, lengkap dengan perhiasan dan lainnya.

Mereka ingin memperlihatkan kepada keluarga atau kerabat, bahwa status sosial mereka meningkat karena sudah sukses di rantau. Meskipun tak sedikit pula penampilan yang wah itu, hanya kamuflase belaka.

Semoga kita semua termasuk orang-orang mudik yang punya tujuan semula yang mulia, yakni untuk saling bersilaturahmi. Jadi sebaiknya bersikap dan berpenampilan apa adanya saja, apabila ada kelebihan finansial memang tidak ada salahnya membawakan buah tangan untuk keluarga.

Tetapi apabila keadaan finansial kurang menguntungkan, tidak perlu juga memaksakan diri. Keluarga di kampung juga pasti bakal mengerti, karena kehadiran sudah menjadi hadiah yang paling membahagiakan.

Mudik Lebaran merupakan solusi untuk meluapkan rasa rindu dalam satu ritual indah yang penuh emosi dan air mata. Selamat mudik, selamat berlebaran bersama keluarga tercinta. (enki@satelitpost.com)