Bagi seorang manusia, umur 73 tahun ialah usia yang sudah senja, produktivitas menurun, rentan dan bahkan, untuk lanjut ke usia berikutnya hanyalah “harapan saja”. Pada usia ini, manusia juga lebih mirip dengan anak-anak pada usia dini, disuapi, dimandiin dan dipopoki.

Oleh: Hubbi S. Hilmi

Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UNS Surakarta Jawa Tengah

Pancasila pada tahun 2018 mencapai usianya yang ke-73 tahun, tepat tanggal 1 Juni 1945 lalu Sang Proklamotor dalam pidatonya mencetuskan Pancasila menjadi dasar negara. Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni bukan hanya dari ide dan konsep Sang Proklamator saja, namun Pancasila digagas dari beraneka ragam ide dan konsep para bapak pendiri bangsa. Melewati perundingan yang alot, tepat 22 hari semenjak ia terlahir, akhirnya musyawarah menuai mufakatnya, sehingga kita bisa mengenal Pancasila seperti sekarang ini.

Seperti halnya Bahasa Indonesia yang menyatukan beragamnya bahasa yang ada di Indonesia, Pancasila juga mempunyai peran yang serupa, sebagai pemersatu “lidah” bangsa. Secara etimologi Pancasila berasal dari kata Panca (lima) dan Sila (prinsip atau asas) yang merupakan dasar dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Belakangan banyak orang yang mengkalim diri sebagai Pancasilais (orang yang berpegang teguh pada ajaran Pancasila), baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata. Hal yang sangat luar biasa dan sangat menginspirasi sehingga orang lain bisa mengikuti jejaknya. Tak hanya itu, belakangan juga viral kaos dan slogan-slogan yang berbunyi Saya Indonesia, Saya Pancasila!. Keduanya bukanlah masalah, melainkan anugerah yang harus dipupuk agar tumbuh subur di tanah yang orang bilang tanah surga.

Namun seiring dengan adanya hal demikian, timbul sebuah pertanyaan, mengapa? Mengapa baru paham setelah 73 tahun? Kalau memang dengan mem-viral-kan dan mengklaim diri sebagai Pancasilais menandakan bahwa kita berpedoman teguh pada Pancasila, rasanya sayang sekali baru sekarang muncul hal yang demikian. Di usia 73 tahun tampaknya Pancasila baru “diingat”, di usia 73 tahun nampaknya Pancasila yang dibacakan setiap hari Senin di semua jenjang pendidikan baru dipahami dan di usia 73 tahun rupanya Pancasila mungkin baru diamalkan dalam kehidupan bernegara.

Harus Lebih dari Sekadar Slogan

Slogan memang penting untuk menumbuhkan dan membakar semangat para generasi muda yang kian hari terlihat cuek akan nasib negeri ini. Namun mungkin menjadi lebih baik lagi ketika semangat yang menggebu diringi juga dengan pengamalan yang setara dengan semangatnya.

Memahami dan mengamalkan dengan benar butir-butir dalam Pancasila. Pada dasarnya kita dituntut untuk mengamalkan, bukan hanya mem-viralkan, mengkalim diri paling benar. Mungkin kita bisa menelaah setiap kata dan kalimat dalam butir-butir Pancasila yang ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ini.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengandung makna bahwa setiap warga negara Indonesia harus percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya dan agamanya masing-masing. Setiap warga negara Indonesia hendaknya saling hormat menghormati dan bekerja sama antarumat beragam sehingga terciptanya kerukunan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Saling hormat menghormati kebebasan dalam menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing dan tidak ada unsur pemaksaan kepada orang lain untuk memeluk agama tertentu. Hal inilah yang menjadi indikator paling sensitif belakangan ini yang menyebabkan teririsnya kebhinekaan kita, karena kurangnya pemahaman kita pada sila yang pertama.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sudah jelas dan sangat tegas dasar negara kita adalah manusia yang menjunjung tinggi keadilan dan adab sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada diskriminasi, tak ada perbedaan hak dan kewajiban, saling mencintai, memiliki dan mengembangkan sikap tenggang rasa dan lain sebagainya yang menyangkut masalah kemanusiaan, baik itu bagi sesama bangsa sendiri maupun dengan bangsa lain. Hal ini juga hari sehari makin menipis di kalangan insan berposisi, memiliki kuasa tak serta merta membuat mereka peka terhadap nasib sesama, namun membuat mereka lebih mementingkan diri sendiri, individualisme dan nepotisme.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Poin inilah yang sering terlupa belakangan ini, mementingkan golongan menjadi salah satu indikator terlupanya. Kurang memahami sila inilah yang membuat kita selalu menganggap suku, ras, dan bahkan agama kita lebih baik dari yang lainnya. Kurang pahamnya generasi muda akan sila ini jugalah yang membuat kita lebih bangga akan produk luar negeri dibandingkan dengan produk buatan negara sendiri. Carut marut ekonomi dan politik membuat sebagian kita seakan malu mengaku berbangsa Indonesia.

Sila keempat, Kerakyataan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kurang pahamnya kita muncul lagi di sila ini, terjadinya kurang saling menghormati dan menghargai pendapat, saling mengklaim diri paling benar, memberikan keputusan sepihak, dan bahkan karena kurang pahamnya kita akan sila ini terjadilah debat-debat kusir, tak mau mengalah dan yang terjadi adalah saling caci maki dan bahkan saling tonjok di ruang rapat dewan yang terhormat.

Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mungkin sila ini bisa kita jawab dan pahami sendiri, boleh kita benturkan dengan keadaan yang kita alami sekarang terutama keadaan mereka yang hidup di pelosok negeri, perbedaan yang sangat jauh akan kita temui jika kita bisa menengok sedikit mereka yang hidup di pelosok negeri. Bisa dibilang tanpa lampu, tanpa rumah layak huni, dan tentu saja tanpa pendidikan yang memadai. Sila yang mengajarkan warisan negeri ini pun sudah jarang ditemui, asas gotong royong.

Mungkin lebih efektif ketika kita dengan semangat nasionalisme yang tinggi, bukan hanya berslogan, bukan hanya berkicau dalam lorong dunia maya. Namun menjadi sangat efektif ketika kicauan kita beriringan dengan tindakan nyata dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan masyarakat. Mungkin kita harus menyadari bersama, bahwa tak cukup hanya semangat, namun juga sangat dibutuhkan tindakan nyata dan ilmu untuk mencapai apa yang kita inginkan bersama. Indonesia yang adil dan makmur serta tentu saja Indonesia tanpa unsur sara. Semoga.