Kholil Rokhman Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Kholil Rokhman

Wakil Pemimpin Redaksi SatelitPost

Pilkada serentak telah usai, tentu dengan catatan beberapa daerah molor melakukan pilkada karena satu dan lain hal. Dari 171 daerah yang melakukan pilkada serentak, dua di antaranya adalah Jawa Tengah dan Banyumas.

Awalnya, ada sebagian yang khawatir bahwa tensi tinggi dalam pilkada serentak akan memunculkan problem massif, soal perpecahan dan konflik horisontal. Wajar jika kekhawatiran itu muncul, sebab kontastasi politik memang panas.

Namun, konflik horisontal dalam skala besar dan massif itu tak terjadi, khususnya di Jawa Tengah dan Banyumas. Bahwa ada ketidakpuasan, merasa dicurangi, masih dalam batas kewajaran. Tapi sekali lagi, tak ada konflik horisontal yang massif menyelimuti Jawa Tengah dan Banyumas usai pilkada.

Kedamaian ini jadi bukti penting bahwa sebagian besar kita memang ingin damai. Ingin bahwa kehidupan berjalan tanpa konflik horisontal dengan kekerasan. Sebab, hidup dalam konflik tentu tak ada yang mau.

Konflik yang massif dengan kekerasan dan juga hujat menghujat hanya membuat hidup tak tenang. Mancing tak tenang, ngopi tak tenang, main telepon genggam tak tenang, bahkan ingin tenang pun jadi tak tenang.

Bisa jadi, amannya pilkada karena memang kita sudah mulai terbiasa dengan proses pemilihan langsung ini. Di level nasional, kita sudah memulai sejak dahulu kala ketika memilih partai di pemilu. Di level desa, memilih kepala desa secara langsung sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Paling hanya memilih bupati, gubernur, wali kota yang agak baru, sejak UU Pemda hasil revisi disahkan tahun 2004.

Kita sudah terbiasa dengan demokrasi seperti ini sehingga, tak elok mengakhiri pesta demokrasi dengan kekerasan. Jika tak puas dengan hasilnya pun, sudah ada jalur untuk menggugat, jalur di Mahkamah Konstitusi.

Kini, setelah pilkada, kontestasi yang mungkin akan lebih panas akan terjadi di tahun 2019. Sebab,bukan hanya pertarungan partai, tapi juga pertarungan calon anggota legislatif, dan pertarungan calon presiden. Wajarnya, karena pemilihan secara langsung anggota dewan dan presiden sudah berlangsung untuk keempat kalinya, maka tak ada alasan untuk membuat tahun 2019 jadi tahun konflik horisontal.

Kita sudah punya pengalaman pada 2004, 2009, dan 2014. Plus pengalaman pilkada dan pilkada serentak yang baru saja usai. Pengalaman itu jadi modal berharga bagi kita. Pengalaman bagi kita untuk berpemilu dan menjaga negara kita tetap damai.

Sudah cukup cerita perih di sebagian negara Timur Tengah, konflik besar di Balkan, dan pertempuran di beberapa negara di benua Afrika. Kita tentu tak ingin perpecahan dan konflik kekerasan horisontal menjalar ke negeri kita.

Maka, bersama-sama kita ulangi kedamaian di tengah kontestasi pemilihan langsung. Kita ulangi di tahun 2019 dan tahun-tahun setelahnya. Kalau bukan kita yang menjaga negeri ini tetap damai, lalu siapa lagi? Kalau bukan kita yang mewariskan kedamaian di tengah kompetisi pemilu pada anak cucu kita, lalu siapa lagi? (kholil@satelitpost.com)