ILustrasi. Satelitpost

Bulan Rajab mengingatkan kita dengan peristiwa besar dan istimewa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW yakni Isra’ Mi’raj, yang diyakini terjadi tanggal 27 Rajab. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di al-Quds (Palestina), kemudian dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi (Sidratul Muntaha’). Semua itu ditempuh dalam sehari-semalam. Peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad lalu ini diabadikan langsung dalam al-Quran (QS al-Isra’ : 1).

Oleh: Priyanto

Ketua MGMP PAI SMP Kabupaten Purbalingga

Peristiwa itu begitu istimewa. Karena itu, hampir setiap tahun, tanggal tersebut dijadikan momentum oleh sebagian kaum Muslim untuk mengadakan peringatan Isra’ Mi’raj. Sekitar satu tahun setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, terjadi peristiwa besar yang juga tidak bisa dilupakan kaum Muslim, yakni peristiwa hijrah Nabi SAW dan kaum Muslim ke Madinah. Peristiwa ini tentu penting karena menjadi tonggak pertama tegaknya peradaban Islam yang dipimpin langsung oleh Nabi SAW. Selanjutnya peradaban tersebut menyebarluas ke seluruh penjuru dunia sehingga menjadi agung dan mulia.

Salah satu hikmah terbesar Isra’Mi’raj adalah diterimanya perintah salat lima waktu. Shalat merupakan salah satu rukun (pilar) agama Islam yang memiliki kedudukan sangat strategis dibanding dengan rukun-rukun Islam lainnya. Hal ini dapat dilihat dari proses penyampaian perintah shalat yang langsung disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa melalui malaikat Jibril, sewaktu beliau melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut.

Shalat memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam kehidupan manusia. Ia tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga berperan dalam membentuk kepribadian pelakunya. Bahkan ia juga mampu menciptakan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui shalat yang dilakukan setiap hari minimal lima kali, diharapkan umat Islam selalu untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT mengadukan berbagai macam beban penderitaan dan problematika kehidupan yang menghimpitnya sehingga dapat meringankan beban dan terhindar dari berbagai macam gangguan penyakit jiwa. Juga mengingat Allah SWT beserta hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan-Nya sehingga dapat menghindarkannya dari perbuatan keji dan mungkar.

Sungguh pun demikian, dalam realitas kehidupan sehari-hari kita melihat sesuatu yang sangat kontras. Satu sisi kita melihat betapa banyak umat Islam yang telah melaksanakan shalat. Akan tetapi pada sisi lain kita juga melihat, bahwa pada saat yang hampir bersamaan mereka juga melakukan tindakan tidak terpuji dan perbuatan maksiat lainnya.  Mengapa korelasi shalat dan pembentukan kepribadian muslim tidak bisa terwujud dengan baik? Padahal Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya telah tegas menyatakan bahwa, shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mu’min. Artinya shalat yang kemudian diperintahkan oleh Allah SWT kepada ummat Islam melalui Rasulullah SAW dengan peristiwa Isra Mi’raj itu dijadikan sarana untuk kita bisa mi’raj sehari lima kali untuk menghadap Allah SWT.

Yang pasti jawaban dari pertanyaan tersebut bukan pada kesalahan perintah shalatnya. Namun implementasi dan spirit shalat itulah yang tidak bisa diambil pelajaran oleh kaum muslimin. Shalat hanya didekatkan dari aspek ritualnya saja, tetapi dari aspek sosialnya  dan lain-lain tidak pernah dilirik. Shalat sesungguhnya menjadi lambang dari penegakan hukum-hukum Allah SWT yang lainnya. Mengapa saat shalat kita ingat Allah, namun di luar shalat Allah dilupakan sehingga idrak sillah billah (kesadaran akan pengawasan Allah) tidak pernah terjaga.

Hal lain yang juga berperan dalam menipiskan identitas dan kepribadian muslim adalah sistem kehidupan sekuler yang sedang dominan dan melingkupi seluruh sendi kehidupan masyarakat dunia. Wajarlah kalau akhirnya norma-norma penjaga masyarakat lepas dan digantikan dengan budaya konflik semakin menguat, kriminalitas menjadi penampakan biasa, ketidakpedulian meningkat, korupsi, pornografi dan pornoaksi menjadi biasa. Ditambah lagi dengan tekanan hidup yang makin kuat menghimpit karena kemiskinan ekonomi dan biaya hidup yang makin mahal seperti sekarang ini sehingga mendorong masyarakat untuk semakin permisif (serba boleh).

Semua ini terjadi karena agama hanya berlaku pada aspek ritual dan tidak berperan dalam kehidupan. Agama semestinya memiliki peranan dalam menguatkan kembali ikatan sosial dan kontrol sosial masyarakat. Namun pendekatan agama yang dimaksud tentu bukan individualistik semata namun dengan pendekatan yang mampu membangun transformasi masyarakat dalam kerangka komunitas sekaligus individu sehingga persoalan paradigmatik dan teknis masyarakat dapat diselesaikan. Hanya dengan paradigma keagamaan yang sepadan dan kesiapan sistemlah yang bisa mengeliminir bahkan menghapus paradigma kapitalistik. Sedangkan aksi-aksi nyata tentu akan menyelesaikan masalah-masalah teknis yang muncul.

Masjid dengan seluruh dimensinya memiliki peran strategis dalam pembenahan hal tersebut. Masjid dapat diperankan menjadi poros utama penggerakan kepribadian dan roda pembangun peradaban Islam. Masjid hadir bukan sekedar fisiknya, tetapi sejatinya masjid adalah sebuah kelembagaan atau gerakan kejamaahan sehingga menjadi basis untuk perubahan masyarakat dan kebangkitan peradaban secara totalitas. Karenanya, melalui momentum peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, mari menguatkan kembali pemaknaan dan implementasi shalat sebagai mi’raj peradaban setiap muslim. Semoga!

BAGIKAN