Semua manusia pastinya mengalami siklus kehidupan. Siklus tersebut meliputi kelahiran, balita, remaja, perkawinan dan yang terakhir kematian. Pada perjalanannya perkawinan merupakan siklus kehidupan yang banyak dikatakan sebagai siklus puncak kehidupan manusia, sebab perkawinan merupakan fase menuju kedewasaan seseorang bahkan dapat pula dikatakan sebagai penyempurnaan akan ibadah kepada sang pencipta. Sehingga persiapan menuju siklus inipun harus disiapkan secara matang, mulai persiapan fisik, persiapan mental dan persiapan sosial-ekonomi.

Oleh : Urip Tri Wijayanti SSos
Peneliti Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah

Pertama persiapan fisik. Persiapan ini meliputi usia ideal menikah. Meskipun pada kenyataannya sampai saat ini batasan umur untuk menikah memiliki perbedaan pendapat simak saja menurut UU perkawinan yaitu undang-undang No 1 tahun 1974  pasal 7 usia untuk menikah bagi laki-laki bila sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Usia 19 tahun bagi laki-laki berarti baru lulus Sekolah Menengah Atas dan 16 tahun bagi perempuan berarti baru lulus sekolah Menengah Pertama. Namun bila kita menengok program BKKBN melalui program Genrenya yakni pendewasan usia perkawinan mensosialisasikan bahwa usia perkawinan bagi laki-laki minimal 25 tahun kemudian bagi perempuan minimal berusia 20 tahun, usia ini terkait dengan kehamilan sebab menurut Prof Dr dr Biran Affandi, SpOG seorang ibu yang hamil pada usia di bawah 20 tahun memiliki mental dan kondisi emosional yang belum siap bahkan secara kedokteran organ perempuan dibawah usia 20 tahun belum kuat untuk berhubungan intim dan melahirkan dampaknya beresiko ibu dan bayi meninggal. Maka dari itu bagi para remaja-remaja putri berpikirlah terlebih dahulu segala kemungkinan yang terjadi agar tidak berakibat fatal. Sebenarnya selain pada sisi umur persiapan fisik juga harus disertai dengan memeriksakan kesehatan bagi pasangan calon pengantin, hal ini penting agar dapat diketahui gejala-gejala penyakit yang mungkin ada pada masing-masing calon agar tidak ada penyesalan dikemudian hari bahkan dapat juga sebagai tindakan preventif sebelum ada kehamilan.

Kedua persiapan mental, persiapan ini penting sebagai dasar bagi perjalanan kehidupan keluarga yang akan dibentuknya. Sebab bila pasangan calon pengantin sudah siap secara mental maka mereka sudah siap mengarungi segala persoalan dalam rumah tangga yang dibangunnya dan tak kalah pentingnya harus didasari iman yang sama, jangan sampai ibarat kapal berlayar ada dua nahkoda yang mengendarai tentunya kapal akan berlayar dengan tanpa tujuan yang jelas begitu pula dalam keluarga efeknya besar bagi perkembangan anak-anaknya.

Ketiga persiapan sosial ekonomi sangatlah penting agar tidak mudah saling cekcok karena persoalan ekonomi dan menghindari perceraian sebab menurut data tentang alasan perceraian menyatakan sebanyak 70 persen yang mengajukan cerai adalah istri dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini bisa terjadi karena belum siapnya laki-laki secara ekonomi ataupun sebaliknya karena tingginya gaya hidup sang istri sebagai efek negatif dari pergaulan agar dibilang up to date.

Maka dari itu sangatlah penting ketiga persiapan tersebut disiapkan secara matang. Sebab kesemua itu merupakan gerbang menuju terbentuknya pernikahan yang langgeng dan harmonis dalam rangka pembentukan keluarga bahagia dan sejahtera. Jika kehidupan keluarga berkembang dengan baik, maka kehidupan masyarakat bahkan yang lebih luas lagi tatanan kehidupan bangsa dan negara juga akan berjalan dengan baik. Sebagai kata penutup marilah para calon pasangan pengantin untuk menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum melangkah ke pernikahan.(*)