Siapa yang tak kenal berita. Setiap saat orang selalu bersentuhan dengan berita. Apalagi di zaman serba express seperti sekarang ini. Mulai dari media cetak hingga ke media digital semuanya digunakan untuk menyebar luaskan berita.

Oleh : Fajriyatun SPd
Guru SMP N 1 Rakit Banjarnegara

Era digital yang semakin pesat perkembangannya memudahkan masyarakat dalam memberi dan menerima berita. Fasilitas dan aplikasi alat komunikasi yang semakin lengkap memanjakan, memudahkan penggunanya dalam berselancar mengakses berita.  Melalui media sosial, jejaring sosial yang beragam isi berita berseliweran setiap saat. Berita benar ataupun bohong tidak dapat dihentikan laju penyebar luasannya. Dalam sekejap berita itu menyebar kesegala penjuru.

Informasi atau berita yang benar tentunya akan memberikan manfaat bagi penerima berita. Celakanya jika informasi atau berita tersebut tidak benar, bukannya memberikan kebermanfaatan tetapi kerugian dan penderitaanlah yang didapatkan. Siapa yang merugi dan menderita?. Tentunya merugi dan menderita sama-sama dialami oleh pihak yang menyampaikan berita, pihak yang menerima berita ataupun pihak yang terdapat dalam isi berita.  Memang tidak ada tempat di dunia ini yang tidak lepas dari hoax.

Berita hoax apalagi yang sifatnya provokatif sangat merugikan bagi pihak yang mengkonsumsinya. Dampak negatif dari hoax dapat antara lain menimbulkan fitnah, penipuan, keresahan, kebencian, bahkan sampai perpecahan.Lebih tragis lagi hoax dapat menimbulkan konflik antar suku, antar agama dan antar golongan.

Dampak khusus yang dirasakan korban biasanyaberkaitan dengan kondisi mental, dimana sikorban akan mengalami keminderan, malu sehingga tidak mau tampil di muka umum, masa depan suram, bahkan hoax bisa membunuh karakter seseorang. Begitu jahat dan kejamnya hoax. Tentunya tidak ada yang mau menjadi tokoh penyebar hoax apalagi korban hoax, betul kan?

Sebenarnya sangat mudah untuk mengetahui suatu berita itu benar atau bohong. Jika berita tersebut mengandung berbagai unsur penting yang harus ada dalam suatu berita, maka kita dapat menyakini sepenuhnya kalau berita itu benar. Unsur-unsur penting dalam berita itu adalah  adik simba (apa, di mana, kapan, siapa,mengapa, dan bagaimana), yang dalam jurnalistik dikenal dengan rumus 5W+1H.

Dengan adik simba tersebut dapat diketahui apa yang sedang terjadi. Siapa saja yang terlibat, alasan/latar belakang kejadian yang diberitakan. Kemudian kapan terjadinya, dimana dan siapa saja yang terlibat. Sepanjang data yang ada terdapat unsur-unsur tersebut, bisa dipastikan itu berita benar. Sebaliknya jika tidak terdapat unsur penting tersebut, pasti tidak benar, bohong, palsu atau hoax.

Hoax bisa disebarkan dan diterima oleh siapapun,tidak pandang dewasa ataupun remaja, tua ataupun muda. Bisa guru ataupun siswa, pejabat ataupun rakyat. Siapa saja bisa menjadi agen, lakon, korban, dan penikmat hoax. Korban hoax dapat menimpa organisasi, instansi, bahkan bisa juga merek-merek dagang tertentu dalam dunia bisnis, perorangan, termasuk siswa di sekolahan. Tidak sedikit siswa yang menjadi korban berita hoax. Lantas kenapa banyak siswa?

Menurut data dari Kompasiana pengguna terbesar dari media sosial adalah usia muda dimana mereka berstatus pelajar. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Berbagai jenis media sosial dan jejaring sosial dimiliki oleh pelajar. Facebook, Instagram, Twitter, LINE, Whatsapp, merupakan wadah terbuka dengan kontribusi terbesar dan strategis dalamberkomunikasi dikalangan pelajar. Sehingga dalam waktu yang cepat dan tak terbatas berita dapat diterima dikalangan pelajar. Bahkan dengan aplikasi tertentu satu pelajar bisa mempunyai lebih dari satu media dan jejaring sosial. Bisa dibayangkan, jika keadaan itu terdapat pada siswa sekolah dasar dan menengah dimana mereka belum bisa memilah dan memilih mana berita benar dan salah. Jika tidak ada tindakan dari guru, apa yang akan terjadi selanjutnya ?

Sebagai guru yang merupakan garda terdepan dalam penyelenggara pendidikan, perannya sangat diperlukan untuk dapat menangkal dan mengantisipasi berita hoax dikalangan pelajar. Guru harus mampu menciptakan pembelajaran anti hoax dalam setiap kesempatan kepada siswanya. Bagi anda guru-guru yang masih peduli dengan hikmah dibalik berita hoax, ada acara sederhana dan tidak perlu pitar tetapi cukup educated untuk anak-anak kita. Cara ampuh yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan ajaran Siklaber Jenaka. Sehingga hoax dapat dijinakan dengan mudah.

Tulisan sederhana ini akan menjelaskan bagaimana cara Siklaber Jenaka dapat menjinakan, mengatasi dan membendung berita hoax yang beredar di masyarakat dan pelajar. Dengan Siklaber Jenaka niscaya berita hoax akan dapat dijinakan. Penyebaran berita hoax yang sangat cepat tanpa batas di media sosial dengan kerugian-kerugiannya akan dapat dicegah dan dibendung, bahkan dapat dimusnahkan. Apa dan bagaimanana Siklaber Jenaka dapat menjinakan berita hoax?

Siklaber Jenaka merupakan akronim dari kritis, klarifikasi, berhenti, jelaskan, dan tanamkan karakter. Merupakan langkah-langkah menanamkan karakter cerdas dan bertahapyang diajarkan kepada siswa dalam pembelajaran anti hoax. Langkah pertama adalah kritis. Sikap kritis ini harus dipunyai oleh siswa ketika mereka melihat, menerima dan membaca sebuah berita. Ajarkan kepada siswa agar selalu berhati-hati dengan judul berita, apalagi yang bersifat provokatif. Selain itu ajaklah siswa untuk meneliti keaslian tulisan gambar-gambar, foto atau video yang terdapat di dalam berita. sekiranya itu asli atau editan yang menyesatkan. Ajaklah siswa agar banyak membaca buku-buku yang bermanfaat supaya wawasan mereka lebih luas dan tidak mudah dipengaruhi oleh berita.

Langkah yang kedua adalah klarifikasi. Langkah ini disebut juga dengan tabayun atau mencari kebenaran. Diajarkan kepada siswa ketika siswa melihat, membaca atau memperoleh berita setelah brsikap kritis. Siswa harus melakukan klarifikasi kepada sumber aslinya sebelum percaya pada berita yang diterima. Dengan mengetahui dari sumber asli berita maka dapat diketahui kebenaran isi berita. Biasakan agar siswa tidak segera mengamini atau mengiyakan kebenaran suatu berita tanpa mengklarikasi kepada sumbernya terlebih dahulu, baik berita baik ataupun berita tidak baik sehingga dapat mengurangi fitnah. Saring dulu sebelum sharing.

Langkah yang ketiga adalah berhenti. Setelah siswa mengetahui kebenaran berita dari langkah klarifikasi, maka ajarkanlah dengan tegas untuk berhenti atau stop bicara. Tidak baik membicarakan berita, sekalipunberita yang diterima itu benar apalagi berita bohong. Sisipkan ujaran bahwa diam itu emas. Emas itu artinya tidak membicarakan aib orang lain walaupun itu fakta atau kenyataan. Membicarakan saja tidak boleh apalagi menyebarluaskan. Segera hapus berita bohong. Jangan disebarkan walaupun mungkin ada tujuan baiknya. Ingatkan bahwa jempolmu harimaumu.

Langkah keempatdalam ajaran ini adalah Jelaskan. Setelah siswa mengetahui kebenaran isi berita dari klarifikasidan berhenti tidak membicarakannya, maka ajarkanlah kepada siswa untuk menjelaskan. Dalam langkah ini guru mengajarkan kepada siswa untuk menjelaskan hal-hal yang benar kepada si penerima berita. Langkah ini adalah membantu merehabilitasi nama jelek orang-orang atau pihak yang terdapat didalam berita bohong tersebut. Biasakanlah membantu teman atau orang lain dengan menjaga nama baiknya. Pulihkanlah nama jelek mereka akibat hoax dengan sebuah penjelasan yang benar. Bantulah teman untuk terus percaya diri, jangan minder dan putus asa. Jangan biarkan berita hoax sampai membunuh karakter teman, instansi, pihak tertentu atau orang-orang yang berada disekitar.

Langkah keempat dalam ajaran ini adalah Tanamkan Karakter. Ini merupakan muara dari sekian langkah dan cara  yang dipakai oleh guru dalam mengedukasi berita hoax. Bahwasannya disinilah sebagai guru terus menerus menamkan karakter yang baik kepada siswa. Guru ikut bertanggung jawab ikut membentuk karakter baik yang harus dimiliki siswa. Dengan penanaman karakter yang baik ini siswa akan mempunyai tameng yang kokoh dalam menghadapi serangan berita hoax yang datang setiap hari. Siswa dapat bersikap bijaksana dalam mengambil sikap terhadap berita hoax.

Semua kejadian mempunyai hikmah sendiri-sendiri. Demikian dengan zaman penuh berita hoax yang melahirkan sebuah hikmah penanaman karakter melaui Siklaber Jenaka. Dalam berbagai kesempatan penjinak hoax yang bernama Siklaber Jenaka benar-benar telah terbukti efektif dapat mencegah dan membendung beredarnya berita hoax di masyarakat dan lingkungan pelajar yang berasal dari media sosial. Siklaber Jenaka merupakan hikmah agar semua semakin dewasa dalam mengambil sikap ketika memperoleh sebuah informasi terutama di media sosial. Dengan berbekal kedewasaan dalam bertindak dan menerapkan ajaran tersebut hidup akan semakin indah berdampingan bersama dengan semua ciptaan Tuhan di negara tercinta Indonesia.(*)